Lingkungan dan Kesehatan

Berjuang Hidup dari Merah Putih

Dok.Net

Dok.Net

SUAKAONLINE.COM, Bandung– Sambil menunggu pelanggan menghampirinya, perempuan itu duduk tak tenang. Sesekali ia menata kain merah putih yang dibentangkan diantara pepohonan yang mulai kering akibat musim kemarau. Raut mukanya yang menunjukkan usia tidak lagi muda, menggambarkan kegelisahan dan harapan ada yang datang membeli bendera yang ia jual.

“Mak Ocih,” begitu ia menjawab saat ditanya namanya. Di usinya yang ke 70 tahun, ia masih tetap bertahan untuk berjualan bendera di trotoar dekat Lapang Gasibu, jalan Surapati, Bandung.

Mak Ocih mengaku setiap tahun ia rutin berjualan bendera ketika menjelang 17 Agustus. Bahkan, tahun ini Ia telah berjualan sejak 28 Juli lalu. Nenek asli Garut itu tidak memilih untuk berjualan mengingat usianya yang sudah renta, dengan penghasilan yang tidak menentu, Ia mengaku lelah. “Sudah cape ini teh, tapi kalau tidak, makan dari mana,” keluhnya.

Sepanjang trotoar itu, Mak Ocih tidak berjualan sendirian. Ia ditemani oleh kerabatnya sesama asal Garut. “Itu yang di sana anak adik, di sana keponakan, itu adik juga. Sekeluarga di sini mah jualan benderanya,” tambah Mak Ocih, telunjuknya mengarahkan lokasi kerabatnya berjualan.

Matanya mulai berkaca-kaca saat mengatakan bahwa untuk beberapa tahun terakhir, omset penjualan bendera sangat menurun. Bahkan dalam seminggu hampir tidak satupun terjual. Padahal, Mak Ocih harus membayar uang pinjaman sebesar lima juta rupiah sebagai modal awal berjualan bendera. “Biasanya sehari, hanya Rp 20.000 – 30.000 saja, kalaupun laku, untungnya dikit paling seribu.”

Terkadang cobaan menghampirinya ketika berjualan, salah satunya kehilangan uang sebesar 2,2 juta rupiah saat berjualan bendera tahun lalu. Padahal uang tersebut akan ia serahkan kepada pemilik modal. Sontak kejadian itu membuat Mak Ocih terpuruk.

Tinggal di Lokasi Jualan

Selama berjualan, Mak Ocih ditemani suaminya. Sebagai tempat tinggal sementara, ia menyiasati dengan mendirikan tenda dari terpal yang dibentuk segitiga di tempatnya berjualan. Walaupun harus bertahan dengan panasnya Bandung di siang hari, dan dinginnya malam, Mak Ocih dan keluarganya tidak punya pilihan.

Sementara untuk menghemat pengeluaran karena penghasilan sehari-hari dari jualan bendera sedikit, Mak Ocih, dan suaminya sengaja membawa alat masak lalu memasak di tempatnya berjualan. “Kalau beli mahal, sekali makan Rp 10.000, sehari kan tiga kali makan. Tapi kalau beli beras aja lebih murah,” tuturnya.

Saat ditanya makna hari kemerdekaan bagi Mak Ocih, dirinya tak memberikan komentar yang muluk-muluk. Baginya kemerdekaan adalah bagaimana ia bisa hidup sejahtera. “Emak mah udah cape, hayang berhenti jualan, udah tua, mending diem di kampung,” tuturnya. Rencananya Mak Ocih akan berjualan sampai 16 Agustus, setelah itu ia akan kembali ke Garut.

Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesa ke-70, beragam penjual bendera musiman mulai menghiasi beberapa jalan di Bandung. Walaupun berminggu-minggu tidak pulang ke rumah, para pedagang yang mayoritas asal Garut itu tetap tabah berjualan, menanti pembeli untuk bisa menikmati sesuap nasi.

Reporter           : Adi Permana

Redaktur          : Isthiqonita

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas