Opini

Ternate dan Cakalele

Oleh. Pungkit Wijaya*

(Serangkum Catatan Tangan Temu Sastrawan Indonesia ke-4)

Interview

Kabut menyergap kaca

Tepat Pukul 04.00 dini hari WIB

Di sebuah ruang tunggu bandara

Tiba-tiba beberapa lelaki datang, dengan mata yang sayu

Seraut wajah yang asing, mereka duduk dan bertanya

Kamu penyair ya?

Loh, kata siapa?

Karena di jidatmu ada larik puisi!

 

BARANGKALI kami tak pernah mengira akan berjumpa di bandara, Soekarno-Hatta. Setelah lama menunggu, waktu yang terlalu pilu. Rahmat Heldi (26), seorang penyair, cerpenis dan novelis dari Rumah Dunia, Serang Banten, berkelakar, dan mencoba berta’aruf dengan saya. Setelah Jun Nizami meluncur dengan Batavia. Galah Denawa yang seksi tutur Afrizal Malna menyebutnya sudah tiba di Ternate dengan menunggangi LION AIR, sementara Restu A Putra akan berangkat selanjutnya sebab harus memenuhi panggilan kerja terlebih dahulu di salah satu koran ternama di Indonesia. Pun Herton Maridi, sebut saja namanya yang agung, ia lelaki setengah baya berdomisili di Cileunyi yang sedang menimba ilmu di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Saya dan Herton terdampar, dengan rasa kantuk yang dahsyat kami berdua menunggu pesawat akan Take off, waktu itu pesawat akan lending pukul lima subuh. Akan tetapi sebelumnya kami tidak cemas, sebab sedia rokok dan kopi agar tidak kebablasan dan selalu waspada ( Baca; Pedoman Naek Pesawat Terbang; Bambang Q-Anees, 2011).

Semacam kebetulan, kami harus berjumpa dengan teman-teman dari Rumah Dunia, Serang. Mereka menyebut kami anak-anak IAIN, di bandara itu kami sempat bercakap tentang salah satu penasehatnya yang kini menjadi dosen di salah satu Universitas di Bandung. Selan itu, kami berjumpa dengan teman dari Nusa Tenggara Timur, Medan. Tetapi sebelumnya saya ingin mengingat dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman dan pihak yang telah memnbatu baik yang secara moral atau pun materi keberangkatan ke Ternate dalam acara Temu sastrawan Indonesia ke-4, Keberagaan, Silang -Budaya dan Problematika, apa pun saya bangga dengan apresiasi di kampus, tentunya dengan caranya masing-masing.

Dunia internet memang serba cepat, kalau tidak cepat kita akan kelewat, arus informasi deras. Awalnya Restu A Putra yang memberikan link pengumuman bahwa dewan kurator membuka seluas-luasnya untuk mengirimkan karya ke acara TSI4 tersebut, nah maka dengan rasa tidak percaya saya lalu mengirimkan dan tak lama ada pengumuman saya masuk dan beberapa teman dari kampus juga masuk, sangat berbangga sekali. Dan mulai bertanya apakah saya pantas mengikuti acara TSI?

Suara gemuruh baling-baling berisik sekali, suara ayu dari Pramugari membangunkan tidurku, ah. Akirnya tiba juga di Bandara Sultan Babulah, Ternate, Maluku Utara. Setelah transit di bandara Manado. Kami di jemput pemerintah kota dan tibalah di hotel Bella Internasional.

Dari Estetika sampai ke Benteng Kala Mata

Dalam dunia kesusastraan kita tidak bisa lepas dari nama-nama pengarang besar, tentunya di hotel tersebut kita sempat berkenalan dengan seluruh peserta, baik yang muda, tua sampai dewan kurator. Setelah acara pembukaan Emha Ainun Najib menjadi presenter dan Happy Salma membaca puisi di alun-alun kota Ternate, sambil diberi sesaji pesisir dan tarian bahari. Esoknya kami pun menghadiri acara diskusi.

Dalam konteks kita, abad ke-21 merupakan paket omong kosong dari reformasi 98 (Afrizal Malna)

Begitulah tulis Afrizal dalam buku yang berjudul Risalah Dari Ternate yang menyimpan seluruh catatan pemateri seminar nasional dan judul buku TUAH TARA NO ATE yang menjadi Antologi Temu Sastrawan Indonesia -4 itu. Ahda Imran menjadi moderator dan Manekeu Budiman Staf Pengajar Pasca Sarjana Ilmu Susastra Universitas Indonesia menjadi pemateri juga, diskusi yang seru, karena kedua pemateri menerangkan tentang Estetika Sastra Indonesia Abad 21, Afrizal lebih ke Epidermis Sejarah; pembelahan dan ruang maya atau blog, sebelumnya dia memantau dari blog untuk perkembangan, lalu tradisi puitik, sedangkan Manekeu lebih membahas ke arah Negara, diskusi itu seru dengan ditambah Binhad Nurohmat berkata bahwa ruang sastra seperti Nihil.

Selanjutnya di sambung oleh Bramantio menerangkan Telaah Sastra Dekade Terakhir, dengan kajian novel Supernova yang makalahnya mirip skripsi atau tesis, Hilmar Farid dan Eka Kurniawan menyoal, komitmen sosial dalam kesusastraan Indonesia. Di sambung Perkembangan Komunitas Sastra dengan Bandung Mawardi (Solo), Firman Venayaksa (Serang), dan Sofyan daud (Ternate), Azahari (Aceh). Uniknya dalam setiap sesi tersebut diskusinya sempat menuai ketegangan juga. Dan yang terakhir musyawarah sastrawan dari pokok pemikiran yang akan menjadi rekomendasi untuk Temu sastrawan Indonesia selanjutnya, beberapa pokoknya, ialah, TSI akan diselenggarakan selama kurun waktu dua tahun sekali, guru-dosen sastra akan di undang untuk mengadiri acara tersebut dan untuk tuan rumah tahun selanjutnya belum ditentukan.

Selain di suguhkan wisata budaya, kami di ajak berjalan-jalan dan dikenalkan dengan tarian soya-soya, Cakalele dan Ronggeng. Dari beberapa penyair menjadi pengisi acara dengan membaca puisi, cerpenis membaca cerpennya. Apalagi seluruh peserta saat penutupan di Benteng Kala Mata, langit yang hitam, obor, pesta pora, lalu musik membuat kita ingin berjoget setelah makan-makan bersama wakil walikota, pada penutupan acara tersebut. Begitulah sementara ini catatan seminggu dan banyak moment harus di tulis dalam waktu yang singkat. Selebihnya saya ingat ketika menonton film Harry Fotter yang terbaru, setelah bermain di dunia imaji, ia menaklukan musuhnya, tiba-tiba sebuah kenansgan masa lalu di rangkum dalam satu tetes air mata. Cerita usai dan akhirnya Harry memilih untuk menikah dan menjadi manusia biasa, menatap realitas sebenarnya!

*Penulis, Peserta Temu Sastrawan Indonesia ke-4, kini kepingin bunuh diri tapi masih takut.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas