Terkini

Satu Jam Bersama Iwan Piliang

[Suakaonline]-“Jangan merasa apa yang sering diucapkan itu penting padahal itu tidak penting,” ucap  Iwan Piliang pada mahasiswa yang tergabung dalam komunitas anak tangga. Siang itu, tepatnya pada Kamis (03/11) bertempat di rumah makan sukahati Cinunuk, komunitas anak tangga berkesempatan mengobrol  dengan Iwan Piliang di sela jam istirahatnya selepas ia menjadi pemateri di acara jurnalistik Fair (Jufair) tadi pagi.

Hujan yang semakin deras, dengan gemuruh petir yang silih berganti datang, tak membuat obrolan hangat itu terhenti, para anggota komunitas anak tangga yang hadir, tetap antusias mendengarkan Iwan Piliang bercerita mengenai pengalamannya selama ini di dunia jurnalis.

Sosok Iwan Piliang dulu dikenal sebagai wartawan di Group Tempo (Matra dan Swa) yang juga kontributor di media Pantau. Namun, Iwan merasa karena media mainstream terkooptasi oleh kepentingan politik. Selain itu juga, majalah Pantau kini sudah tak ada lagi. Hingga kini sosoknya dikenal sebagai seorang citizen reporter, khususnya literary journalism.

Kiprahnya dalam dunia jurnalis menarik perhatian beberapa anggota untuk bertanya, seperti bagaimana agar tulisan kita bisa membuat terharu  pembaca, dengan santai Iwan menjawab, menurutnya sebuah tulisan itu harus diberi jiwa, menulis bukanlah sekedar menulis tapi menggunakan indera dan menulislah dengan riang gembira jangan kusut.

Tak sekedar hanya berbagi pengalaman, dalam kesempatan itu pun Iwan membacakan contoh tulisannya yang berjudul “Memilih Gulali di Malioboro Sketsa Iwan.” Respon positif pun bermunculan, setelah Iwan selesai membacakan tulisannya, menjadikan obrolan hangat tersebut berubah menjadi ajang diskusi kecil antara Iwan dan para anggota.

“Literary itu ibarat menulis naskah atau skenario film, berbeda dengan feature,” ujar Iwan ketika mengomentari salah satu pertanyaan yang muncul. Iwan juga bercerita, bahwa dirinya tak langsung bisa seperti saat ini, dibutuhkan latihan, ia juga menganjurkan untuk rajinlah menulis, dengan rajin menulis, kita akan bisa memainkan kata. “Yang saya tulis semuanya faktual, tidak ada yang dikarang, cuma permainan kata saja.”

Indra Nugraha, ketua umum dalam komunitas anak tangga ikut juga berkomentar. Ia sangat senang, bisa punya kesempatan mengobrol langsung dengan Iwan Piliang, “Terkesan dengan pengalaman-pengalaman iwan piliang di dunia jurnalis, semakin bersemangat untuk melakukan perubahan, karena Pak Iwan bilang “profesi jurnalis adalah bekerja dengan idealisme” kesempatan langka bisa berbincang dengan orang yang profesional di dunia pers. Membuka wawasan.” tuturnya.

Di akhir obrolan, ada kalimat yang bagus dari Iwan “Kalo kita mencoba mengalir dengan hati, kita akan diarahkan.” [] Resita Noviana/SUAKA

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas