Opini

dari Kemuakan ke Religiusitas

Oleh: Syihabul Furqon*

[Sebuah tulisan yang dipermentasi dari pemikiran Kierkegaard]

Di era ini, banyak orang yang mengalami kemuakan. Kelanjutan dari kemuakan tersebut biasanya adalah keresahan. Dan keresahan terjadi dari permasalahan diri—bisa bersifat pribadi—maupun tidak. Alih-alih mendapat pendewasaan, yang terjadi malah sebuah pengalihan, dan itu semua tepatnya yang telah banyak kita rasakan sekarang ini.

Hubungan timbal balik antara kemuakan dan kerasahan sesungguhnya sangat kentara, di mana keresahan terjadi karena adanya kemuakan. Misal ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menuntut si pelaku untuk mengambil keputusan, dia tidak bisa memutuskan apa yang menjadi pilihannya. Selanjutnya dia akan muak dengan sikapnya sendiri karena sudah tidak bisa berlaku tegas terhadap dirinya sendiri. Lalu dia akan mencari pelampiasan-pelampiasan sebagai tindak lanjut dari kemuakannya tersebut.

Sebelumnya jika dirunut, akar permasalahan yang semua orang hadapi mungkin sama. Kita dalam bersosialisasi selalu bersinggungan erat dengan keputusan yang mendadak dan penting. Tak jarang pula kita bersinggungan dengan permasalahan hati yang tidak bisa begitu saja dipecahkan dengan mudah. Bahwa dalam memutuskan sesuatu yang berbau rasa juga rasio kita dituntut bijaksana. Bijaksana dalam arti mampu memilah seluruh bagian dan menempatkan bagian itu sebagaimana mestinya. Karena dipandang suatu kejahatan epistemik jika membuat putusan yang salah dalam hidup hanya karena satu atau hal lainnya yang tidak semestinya. Kita tidak boleh—bukannya tidak bisa—menimbang hak ‘rasa’/intuisi menggunakan rasio. Seperti halnya cinta  yang tidak bisa dijabarkan dengan begitu saja oleh rasio. Karena memang sejatinya cinta hanyalah bagian rasa, begitu juga dengan sesuatu yang harus rasional, dibutuhkanlah rasio bukan dengan rasa.

Sayangnya, dalam kenyataan hal yang salah itu diamini dan dirasakan oleh bahkan hampir semua orang. Dimana orang mulai salah dalam menimbang hak rasa dan rasio, pun sebaliknya. Dampaknya bukan saja salah secara epistemik, namun juga berpotensi orang yang melakukannya mengidap kemuakan yang bersifat eksistensial. Konon, kemuakan sangat dekat sekali dengan frustasi yang membahayakan.

Dalam kondisi muak segalanya menjadi suatu hal yang mungkin. Potensi yang hadir dari situasi muak itu sangat besar, sehingga jika ada orang yang lulus dari situasi ini adalah orang yang tercerahkan. Berbeda dengan potensi sebaliknya yang jika berlanjut akan berakhir di tiang gantungan. Kiranya sebuah penasaran muncul dengan sebuah pertanyaan, solusi apa yang bisa kita pelajari dari situasi muak supaya kita menjadi orang yang tercerahkan? Adalah Sᴓren Kierkegaard (1813-1855 M), seorang filsuf eksistensialis pertama yang menawarkan kebijaksanaan mencerahkan kepada kita mengenai subjek permasalahan ini.

Kierkegaard memiliki keresahan kemuakan seperti yang kita rasakan—sebelum akhirnya ia membebaskan diri dan menjadi manusia yang utuh. Menjadi manusia yang utuh adalah cita-cita semua. Namun demikia hidup, selalu menuntut untuk berhadapan dengan keputusan-keputusan penting. Maka di sanalah titik letak pembahasan Kierkegaard mengenai hal itu.

Sebelumnya Kierkegaard membagi dua bagian kategori dalam membicarakan manusia yang utuh. Pertama, manusia adalah pengada yang rasional. Tentu kita sefaham dengan ini karena manusia memang hewan yang berakal dan tentu memiliki sistem tatanan etika dan nalar. Tidak seperti binatang yang hidupnya hanya dikontrol insting belaka. Namun pada bagian ini, sisi kemanusiaan yang bersifat sehari-hari seakan tidak ada dan kurang penting, karena yang menonjol adalah sisi rasionalitasnya. Padahal menurut Kierkegaard, yang terpenting adalah fase kedua.

Kedua—selain manusia sebagai pengada yang rasional—ia juga sebagai pengada yang ditentukan untuk mengambil keputusan, dan ini selalu bersinggungan dengan hal praktis dalam diri manusia. Karena disini posisi manusia seakan terjepit dalam mengambil keputusan. Seperti contoh jika ada seorang yang terjepit pada dua kebaikan, antara memakan nasi karena kita lapar atau memberikannya pada orang yang kelaparan, dan kesemua hal seperti itu diluar batas rasio manusia untuk memutuskan. Maka kita dipaksa untuk menentukan pilihan antara kebaikan itu dengan dan atau tanpa rasio. Kerena persoalan menyangkut kebaikan tidaklah selalu harus rasional.

Di sini, kita telah melihat betapa kompleksnya permasalahan manusia jika berhadapan dengan realitas. Apalagi dihadapkan pada pertanyaan mana yang lebih penting antara yang sama penting. Akan tetapi permasalahan yang kita hadapi akan mudah dijawab jika kita tidak menekankan dua kebaikan—seperti banyak dibicarakan di atas—pada rasio dan rasa. Karena bahkan dengan rasio yang jalan sekali pun, manusia bisa saja berbuat salah dan tidak menghiraukan keadaan di sekelilingnya.

Seperti dalam contoh kelaparan, manusia pada saat itu—jika mengandalkan rasio tanpa mengindahkan rasa—akan dengan tega melahap makanan tanpa peduli bahwa ada yang sama keadaannya. Lain hal jika si orang tersebut memakai sedikit rasa, meski dia menjadi kelaparan tapi ada sebuah nilai kebaikan yang tak terkira, dan itu semua diluar rasionalitas.

Lantas jika kemudian setiap orang berlandaskan hanya pada rasa tanpa menggunakan rasio apa yang akan terjadi? Adalah sebuah pertanyaan baru kiranya. Dan untuk membahas permasalahan tersebut kita dapat melihat pemikiran Kierkegaard selanjutnya tentang bagaimana hidup dalam memutuskan—bertindak.

Ketimpangan juga akan terjadi jika kedua ranah, rasio dan rasa, tidak digunakan dengan semestinya. Lebih dari itu akan menyebabkan kerusakan batin, lalu menjadi resah, berubah menjadi muak, hingga akhirnya menjadi frustasi. Semua itu terjadi karena penggunaan ranah yang salah pada kehidupan sehari-hari.

Jika kita ingin melampaui diri dari semua permasalahan hidup, mestilah kita mengetahui tahap-tahap jalan hidup. Melampaui di sini bukan berarti menghindar dari realitas yang selalu membuat kita berhadapan dengan kesusahan dalam memilih. Karena melampaui di sini seperti dikatakan Kierkegaard adalah: “sebuah tindakan berani mengambil keputusan”. Karena seperti dipaparkan paragraf awal, keresahan yang kita memiliki akar yang sama. Yaitu selalu memungkiri setiap hal yang kita hadapi, tidak mau mengamininya sebagai masalah yang kita tanggung. Karena masalah apa pun itu selalu menyudutkan pada pengambilan keputusan.

Setelah resah dengan keadaan yang dihadapi sebagai pilihan, kita akan muak dengan diri sendiri oleh karena kita—sebenarnya ingin bisa bersikap tegas— tapi selalu jauh dari yang diharapkan. Muak kepada diri sendiri karena kepengecutan selalu terjadi dengan niscaya akan dirasakan jika kita hanya bertekad tanpa mau untuk berkomitmen dan berbuat pada persoalan yang dihadapi. Beruntung jika tidak berakhir di tiang gantungan, dampak yang lebih mengerikan sebenarnya terjadi jika seperti Kierkegaard katakan “umat manusia dalam kerumunan menyerahkan dirinya pada kejahatan”.

Menurut Kierkegaard, pelampiasan yang buruk terjadi jika kita menjadi orang-orang kerumun. Maksudnya—seperti yang terjadi bari-baru ini—bentuk kerumunan menjadi banyak, contohnya gangster. Itu terjadi karena pelampiasan yang terjadi akibat frustasi. Kenapa kerumunan masa dianggap tidak baik? Karena menurut Kierkegaard, kerumunan sangatlah abstrak. Orang dalam kerumunan masa dapat menyembunyikan diri dari permasalahan individu yang ia hadapi. Orang tersebut dengan tidak langsung menjadi larut di dalam kerumun dan itu semua sebentuk kemunafikan yang buruk. Karena seorang dalam kerumun menjadi hilang kediriannya, ia lantas menjadi masa. Dan masa membuat manusia jadi bukan manusia, karena masa membuat manusia bermental bebek. Hanya berani dan merasa memiliki kekuatan yang besar jika berkumpul. Manusia tersebut menjadi seorang yang bukan dirinya. Tidak seperti manusia yang sungguh-sungguh berani men
ghadapi segala hal dengan dirinya sendiri.

Itulah kenapa sebab kerumunan masa sangat dianjurkan untuk dijauhi oleh Kierkegaard. Karena seperti yang saya urai di atas, membuat kita menyerahkan diri pada kejahatan, dan rupa kejahatan itu adalah kemunafikan pada diri sendiri. Lain hal jika kita mengenal dan mau belajar dari masalalu yang membuat kita mengenal tahap-tahap jalan hidup. Seperti juga ditekankan Kierkegaard, tahapannya dibagi menjadi tiga bagian. Pertama tahap estetis, kemudian tahap etis, lalu tahap religius.

Tiga tahap ini membuat kita menjadi—paling tidak—faham akan prilaku yang harus kita lakukan dalam menghadapi situasi hidup. Tahap pertama, estetis adalah tahap di mana manusia hanya menjalani hidup dari dorongan-dorongan spontan dan alamiah. Seperti halnya makan, minum dan hasrat pemuasan sesaat yang serupa lainnya.

Jika manusia hanya berada pada tahap ini, ia tak ubahnya seperti hewan yang lainnya. Atau seperti tumbuhan yang hanya tumbuh berdasarkan hukum kausalitas yang ada pada dirinya tanpa mau berontak—karena memang hewan dan tumbuhan tidak dapat melakukannya. Tapi kita adalah manusia yang bebas dalam berkehendak dan menentukan nilai. Karena bukan termasuk kategori manusia jika manusia hanya bermain di wilayah estetis. Sebab, wilayah ini hanya bersinggungan dengan kategori baik dan buruk, dan setiap hewan juga memilikinya. Siapa yang mau mati kelaparan? Dan siapa yang tidang menginginkan tempat yang nyaman untuk berlindung? Kita semua mau itu karena baik dan kita semua menjauhi hal yang buruk karena berakibat tidak baik.

Dalam tahap pertama jelas manusia tidak akan pernah akan menjadi berhasil dan unggul seperti yang kita harapkan. Karena apa yang dilakukannya hanyalah kegiatan sesaat dan untuk diri sendiri. Sedangkan manusia sendiri menurut Kierkegaard adalah makhluk yang temporal (bersifat mewaktu) dan mendambakan sebuah keabadian. Kesadaran inilah yang kemudian seharusnya mengilhami bahwa setiap orang mendambakan keabadian. Paling tidak dalam ingatan satu atau dua orang kerabat dan tentu keluarganya. Karena jika menyadari akan sisi cinta keabadian ini, seyogyanya mesti berbuat sesuatu yang melampaui fase pertama. Karena di fase selanjutnya manusia akan mengenal mana yang benar dan mana yang salah.

Di sini aspek rasio dan rasa disatukan menjadi sebuah pertimbangan. Di mana pembagian benar dan salah diolah melalui kategori nalar dan melalui pertimbangan rasa. Orang dapat membubuhi pemahaman benar dan salah sejauh apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Di sini jugalah pertimbangan yang menyangkut kehidupan sehari-hari dapat diputuskan dengan tegas. Kita berbekal kesadaran akan keabadian kemudian akan menjadi seorang yang unggul dan mampu melampaui diri. Orang tersebut dapat mengambil sebuah sikap tegas atas apa yang dihadapinya dengan pertimbangan yang baik. Dia akan menjadi diri yang untuh dan otentik karena mengambil keputusan yang dirasa baik menurut pertimbangannya. Kiranya Kierkegaard juga sepemahaman dengan hal di atas, karena otentisitas seseorang pada akhirnya hanya ditentukan oleh sejauh mana diri orang tersebut mengambil langkah yang otentik. Bukan malah menjadi muak dan frustasi karena memikirkan kemalangan diri sendiri.

Di fase ini jugalah seseorang dapat membubuhi apa yang dikerjakannya dengan makna. Paling tidak dia telah menjadi pahlawan atas dirinya sendiri, dan atau seperti contoh di atas jika orang yang lapar memberikan makanannya pada orang yang kelaparan, itu akan menjadi sebuah tindakan kebajikan. Dan tentunya orang tersebut telah melampaui kehendak diri dari situasi tersebut menjadi seorang yang heroik dan otentik.

Maka di fase terakhir—fase religius—membuat kita sadar, menurut Kierkegaard akan rindunya kita pada Yang Abadi. Setelah kita menjadi otentik dengan sikap tegas pada realitas, kita kemudian harus berkomitmen terhadap apa yang dilakukan. Terlebih jika beriman pada Tuhan, kita harus berkomitmen dan menghilangkan segala atribut. Dalam bertindak—pada ranah keimanan—mestilah kita terlapas dari kepentingan apa pun. Seperti halnya kita bertindak untuk diri sendiri, dan oleh diri sendiri. Barulah dengan demikian kita akan menjadi orang yang otentik dan tercerahkan dalam menjalani hidup seperti juga dirasakan  Kierkegaard: melampaui diri.

*Penulis adalah mahasiswa Aqidah Filsafat UIN SGD BDG, bergiat di Verstehn Community.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas