Opini

Serial Catatan dari TSI IV-Ternate (1)

Oleh Restu A Putra*

2208, Tan Lio Ie dan Sparing Partner Puisi

Sebagai ‘orang asing’ dalam jagad sastra Indonesia, kepergian saya ke Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate, Maluku Utara selasa (25/10) hingga sabtu (20/10) kemarin  memang bukanlah sesuatu yang membikin saya akhirnya berharap menjadi sastrawan. Sebab saya mengamini pernyataan kawan saya penyair dari Padang, Heru Joni Putra, bahwa untuk mencintai sastra tidak harus menjadi sastrawan toh, sebagaimana untuk mencintai Tuhan tidak harus menjadi Nabi. Lalu apa kesan saya selama kepergian dalam perhelatan sastra se-Indonesia itu, yang bagi saya tidak terlalu merumuskan wacana kesusastraan teramat krusial kecuali hanya silaturahim antar sastrawan dan goyang dana-dana sambil menyeruput guraka hangat saja. Hahaha. Tentu, tentu bagi saya ternyata memang ada sesuatu yang menarik dan layak dibawa pulang lebih dari sekadar oleh-oleh souvenir yang banyak diminta kawan-kawan di kampung halaman.

Kronologisnya seperti ini. Saat itu, tepat hari H acara saya baru berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta yang selanjutnya menggunakan pesawat Sriwijaya Air terbang menuju bandara Sultan Babullah, Ternate. Hape saya bergetar. Pesan pendek masuk. Rupanya kawan Herton Maridi, yang sama-sama perwakilan dari Kampus saya menanyakan kalau saya sebaiknya memesan kamar bareng dengan Galah Denawa saja. Dan saya mengamini. Tentu saja saya tak mau repot dan berpikir banyak bagaimana saya tidur dan di mana saya beristirahat. Saya sampai di tujuan saja sudah alhamdulilah.

Penerbangan malam itu (kebetulan saya memesan penerbangan malam hari pukul 00.30 WIB dari Jakarta) membuat saya hanya berpikir tentang keselamatan. Maklum, belakangan banyak kabar peristiwa kecelakaan transportasi  yang hinggap pada saya. Di pesawat tak disangka ternyata saya satu pesawat dengan Binhad Nurrohmat, si Penyair Kuda Ranjang itu dan juga Poet Musician yang belakang saya kenal, Tan Lio Ie. Selama perjalanan hingga tiba di bandara Ternate, saya dan mereka tak banyak bicara kecuali sapa menyapa saja. Terutama Tan Lio Ie. Karena penyair Bali itu saya belum banyak mengenalnya kecuali bebrapa puisi saja yang memikat saya. Singkat cerita setelah tiba di Hotel Bela International Ternate, segera saja saya menghubungi Herton Maridi supaya saya bisa mengkonfirmasi kamar saya. Hingga akhirnya saya sekamar dengan Galah Denawa. Kamar 2208. Konon, Galah agak kurang nyaman dengan kamar yang sudah dua hari dia tempati itu. Lalu pindahlah ia dengan saya.

Setelah memastikan kamar. Dan setengah hari acara TSI berlangsung berupa seminar sastra bersama Afrizal Malna, Ahda Imran dan Manneke Budiman, saya dan Galah kembali ke  kamar. Isritahat. Dan acara sehari itu memang melelahkan.

Nah, di sinilah awal mula ‘oleh-oleh’ pemikiran saya bermula. Ternyata panitia memutuskan kalau saya harus sekamar dengan Tan Lio Ie. Dan terpaksa Galah Denawa kembali ke kamar semula. Yeah, tahulah anda bagaimana sekamar dengan penyair besar, dari Bali pula. Jam-jam saya terisi dengan diskusi hebat bahkan bisa sampai jam 3 dini hari. Padahal siangnya saya sudah cukup padat dengan aktivitas “rekreasi sastra” . Hahaha.

Kamar 2208 seperti tungku bagi saya. Walaupun dingin AC menyerbu sekujur tubuh, namun kepala saya kerap bergetar hebat menyerap kuliah sastra dari Tan Lio Ie. Bahkan Herton Maridi dan Pungkit wijaya pun kerap mampir ke kamar saya.

“(Komunitas) Sanggar Minum Kopi di Bali itu didirikan oleh anak-anak fakultas Kedokteran loh,” ujar Tan Lio Ie dengan gayanya yang santai dan low profile bagai seorang Biksu memberi petuah pada murid shaolinnya. “Dan jangan salah, model sparing partner di sana itu dibawa oleh Frans Nadjira, bukan Umbu. Itu Raudal salah dia bercerita seperti itu, dan dia sudah mengakuinya sama saya,” ceritanya pada saya di hari sebelum ia akan memberikan workshop penulisan puisi bagi anak-anak SMA Ternate bersama Agus Sarjono dan Acep Zam Zam Noor. Ia menceritakan bagaimana iklim kreatifitas sastra di Bali terutama dalam mencipta puisi setelah kepindahan Umbu Landu Paranggi dari Yogya ke Bali.

Ia sangat mengagumi Frans Nadjira. Bahkan dalam sebuah perbincangan ia percaya ungkapan Frans Nadjira bahwa puisi pasti akan menemukan nasibnya sendiri, jadi tak perlu khawatir. Ia juga menceritakan bagaimana proses kreatif memang membutuhkan apa yang disebut teknik sparing partner.  Dan sebaik-sebaik sparing partner adalah menerjemahkan puisi penyair dunia yang sudah hebat. “Cobalah Restu kau berlatih menerjemahkan, lalu kau bandingkan sedikit demi sedikit rasa puisimu dengan mereka,” ujarnya pada saya suatu pagi sebelum sarapan. Ia menggambarkan bagaimana Neruda, dan bagaiama Octavio Paz. Dan saya benar-benar kosong saat itu.

Suatu waktu, ceritanya, ada bedah buku di Sanggar Minum Kopi (dan bahkan setiap buku puisi yang lahir di Bali pasti akan mampir di Sanggar Minum Kopi untuk semacam “pembantaian” dan semua harus terbiasa dengan hal ini. namun ada penyair yang akhirnya komplein kepada Umbu tentang hal ini. lalu Umbu bilang, “Dia tidak percaya kalau puisi bisa membela dirinya sendiri,”

Saya berpikiran, memang kalau sebuah karya itu sudah lahir pada saatnya dan matang pada waktunya, pasti ada saja orang yang akan menerimanya. Karena puisi memang memiliki nasibnya sendiri-sendiri ,bukan. Begitulah saya menyimpulkannya.

“Kamu ingin banyak mempublikasikan puisi lalu orang-orang melupakannya atau kamu melahirkan puisi lalu orang-orang begitu menunggu puisimu kembali,”  ujar Tan lagi. Lalu saya terasa sangat menikmati proses kreatif menulis saya. Ketat bergesekan dan santai.

Saya lebih banyak berdiskusi dengannya masalah proses kreatif ketimbang passionnya saat ini sebagai Poet Musician, karena saya memang kurang kompeten dalam hal musik. Oleh karenya saat ia mulai berbicara musik saya lebih banyak mendengarnya. Mungkin seandainya Aras Layung yang di posisi saya, dia yang akan berdiskusi hebat masalah musikalisasi puisi.

Pada hari ketiga saya melihat performancenya dalam tajuk Sastra & Rock. Lalu melihat staminannya yang saya tahu karena sering curhat di kamar sedang kurang enak badan, ia betul-betul all out. Energik. Usianya yang saya taksir sudah tak bisa lagi jingkrak-jingkrak layaknya anak muda, ternyata meleset.  Musikalisasi rock puisinya sempurna. “Yang kecil di bumi dibesarkan langit…”. Waw.

Yang nyangkut di kepala saya hanya itu, selebihnya, di luar 2208, di luar 2324, di luar ulah Firman Venayaksa dan Matdon, di luar kelakuan Rahmad Heldy, saya kembali pada lautan dan perempuan. Laut Sulamadaha, Kampung Tubo, Benteng Kalamata, Clubbing Laguna. Ternate membikin saya mabuk. Hahaha. Kitorang mau pigi minum guraka di pinggir pantai…

***

*Penulis adalah alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN SGD BDG, aktif di Komunitas Rumput

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas