Opini

Si Penyair

Oleh Yogi Supriadi*

Si penyair itu adalah raja yang terlupakan, lihat saja cara memainkan liriknya dan cara membacanya, tidak seperti penyair-penyair kebanyakan yang menginginkan gela, dulu ketika sastra sedang tenggelam tak ada satupun yang berminat terhadap sebuah tulisan atau sebuah seni memainkan kata  namun kini setelah sastra yang konon sudah mati suri semenjak Hans Bague Jassin, “Paus Sastra Indonesia” (13 Juli 1917 – meninggal di Jakarta, 11 Maret 2000 pada umur 82), beberapa dekade setelahnya satsra benar-benar mati suri, namun ketika itu pasca H.B yasin bermunculan  nama-nama tenar seperti  W.S Rendra, Imam Budiarjo, Remi Silado dan banyak lagi namun semuanya seolah menjadi nama tak bertuan kala itu.

Kini seorang penyair datang dengan caranya tersendiri memainkan irama kata dan menaikan tempo rima diselingi dengan gerak tubuh yang sangat mempesona membuat setiap orang yang menyaksikan  merasa terpanggil dan merasa di ajak kealamnya, seakan–akan si penyair ini ketika dalam syairnya mengajak  bahwa kalian adalah aku dan aku adalah kalian karena aku adalah penyair.

Banyak karya yang ia buat dalam hal sastra mulai dari cerpen hingga puisi dan lain-lain yang berkaitan dengan pengolahan kata, sehingga tidak salah setiap orang menyebutnya dengan sebutan “Si penyair “. Saking mendalami kesastraannya beliau pernah berucap bahwa ”aku bukan penyair, aku bukan sastrawan, dan aku juga bukan sanjungan kalian, karena aku adalah kalian, kalau kalian merasa jika aku adalah penyair berarti kalian juga sama penyair”, baginya sanjungan bisa berakibat fatal dan bisa berakibat buruk bagi dunia yang sedang dicintainya kini.

Namun jauh sebelum itu sang penyair ini ternyata adalah turunan ke sembilan puluh sembilan dari Raja Syailendra, beliau memilki hak khusus dari sebuah kerajaan namun naas ketika proklamasi kerajaan-berubah menjadi sebuah negara dan akhirnya beliau menjadi rakyat biasa.

Suatu ketika disebuah perempatan jalan beliau pernah membacakan puisinya di hadapan sang presiden yang sedang melakukan lawatan ke pernikahan anak sultan, dalam lirik puisinya

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Lalu sontak segenap rombongan presiden geram dan memutuskan untuk  menangkap si penyair itu, lalu presiden menanyainya dengan rasa geram, ternyata presiden ini tergugah dan merasa syair yang dikumandangkannya adalah tertuju kepadanya -presiden-.

Siapa kamu?Dan apa maumu? Tanya bodyguar presiden

“Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang” sahut si penyair

Karena geram dan kesal akhirnya si bodyguard itu semakin keras memukul dan menyiksa, hingga beberapa dari rentetan giginya patah dan sampai setengah hidup.

Dengarkan aku jika sekali lagi kamu berbicara dan berani kepada kami maka kami tak segan-segan untuk mencincangmu”, si bodyguard itu dengan nada yang sedikit mengancam.

Akhirnya si penyair itu dibuang dengan wajah yang lebam dan penuh dengan bekas pukulan dari  para bodyguard, tapi bukan penyair jika tidak berani berdarah-darah demi memperjuangkannya, lalu dari panggung ke panggung dari sekolah-ke sekolah hingga sampai ke tingkat universitas  dia lalui hingga besarlah namanya dan sang presiden yang konon mengancamnya turun dari jabatannya hingga beliau berkata sambil menyaksikan pengulingan kekuasaan di TV. Beliau berkata“ Mereka punya senjata, dan aku hanya punya kata-kata, mereka punya pesawat  namun aku punya pena, mereka punya tentara namun aku punya karya, dan mereka  punya kuasa namun aku punya Tuhan, karena aku adalah raja”.

Nb: Sedikit memakai puisi dari sastrawan terkemuka di Indonesia, namun ini bukan cerita dari beliau hanya sebuah imajinasi dari si penulis.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas