Fresh

Resensi Lagu: Putih, Inspirasi dari Kematian dan Kelahiran

Single Putih, Efek Rumah Kaca (Dok.Net)

Single Putih, Efek Rumah Kaca (Dok.Net)

Oleh: Ahmad Rijal Hadyan

SUAKAONLINE.COM- Efek Rumah Kaca (ERK) kembali melepas single barunya di akun soundcloud mereka. Setelah Pasar Bisa Diciptakan, Cipta Bisa Dipasarkan (Biru), 19 September lalu, mereka melepas Putih untuk bisa diunduh gratis. Menurut rilis yang dimuat di efekrumahkaca.net,  Lagu Putih terinspirasi dari obrolan para personil ERK dengan seorang teman, Adi Amir Zainun, yang akhirnya pergi menuju kekekalan sebelum lagu tersebut selesai. Inspirasi lain datang dari kebahagiaan para personil ERK akan kelahiran anak-anak mereka.

Putih dibuka dengan ketukan drum rapat nan lambat, diiringi dentuman bass dan petikan guitar tenang. Suara tipis Cholil kemudian menyusul menimpali alunan musik. “Saat kematian datang,” Cholil membuka lagu, tenang dan dalam. Putih dikemas apik menjadi musik yang khidmat dan kontemplatif. Lirik Putih dibagi dua bagian, pertama bertajuk Tiada (untuk Adi Amir Zainun), dan yang kedua Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu, dan semua harapan di masa depan).

Mendengar Putih bagian pertama adalah menyelami kematian. Lirik-lirik yang digubah bercerita tentang detik-detik menuju mati seorang manusia. Lagu ini seolah mengajak kita masuk kedalam lirik, dan kemudian ikut sebagai subjek dalam cerita. Mengajak kita merasakan sekarat, dan memberi tawaran untuk pasrah menghadapinya. Menerima dengan penuh kelapangan sambil berkata “akhirnya aku usai juga”.

Setelah kita dibawa dalam pengalaman metafisis sekarat, Putih menawarkan nostalgia dari ruh ke rumah duka. Mengaduk perasaan dengan menampilkan kerinduan ruh akan kamar di mana Ia dan jasadnya dulu tidur bersama, juga ke ruang tengah dimana aroma masakan kesukaan mulai tercium. Pilu, karena makanan itu bukan buat ruh atau kita, tapi buat tamu tahlilan yang menaburkan do’a sambil sesekali menangis. Ruh pun ikut menangis. Namun sekali lagi ruh mengajak kita untuk pasrah, karena kematian lah yang menggenapkan manusia. “Kini aku lengkap sudah”.

Bagian pertama dari Putih ini menawarkan gagasan bahwa kematian hanyalah perpindahan dimensi. Dari dimensi fisik ke dimensi ruh. Bahwa kematian adalah awal untuk kehidupan tanpa kematian. Bagian pertama ini mencoba mendekonstruksi  kematian. Kematian dipreteli prosesnya dari tahapan sekarat hingga ketika ruh terpisah dari raga dan diramu jadi sebuah tawaran gagasan kematian yang berbeda. Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, bukanlah akhir bahkan awal dari kekekalan.

Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu, dan semua harapan di masa depan) muncul di menit ke 3:26 dari lagu yang berdurasi 9 menit 48 detik itu. Ada menjadi kelanjutan dari kisah kematian di bagian pertama. Ada berbicara tentang kelahiran sambil mengutip gagasan Widji Thukul (sepertinya) dalam Bunga dan Tembok (sepertinya). Bahwa semangat, keyakinan adalah sesuatu yang membuat manusia kekal, selama manusia mewariskannya. “Seperti kata Wiji, disebar biji-biji, disemai menjadi api,” lirik Putih bagian kedua.

Ada mengajak kita menerawang kehidupan dan kompleksitasnya; suka dan duka, lapar dan kenyang, nalar dan iman, dan semua pertanyaan yang terus bermekaran. Ada dikemas dalam sajian musik yang lebih ingar denga tempo yang naik dari rendah ke menengah. Itu membuat Ada punya emosi yang berbeda dengan Tiada di bagian pertama.

Secara keseluruhan Putih menggambarkan siklus hidup manusia. Putih mengajak kita menikmati setiap proses kehidupan bukan dari lahir ke mati, namun sebaliknya, dari kematian menuju kehidupan.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas