Lingkungan dan Kesehatan

Peringati Hari Tani, Ribuan Tani Gelar Aksi di Istana

aksi tani

Ribuan petani yang tergabung dalam berbagai organisasi Tani Se-Indonesia menggalar aksi di Depan Istana Negara memperingati hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September, Selasa (29/9/2015). (SUAKA/Nizar Al Fadilah).

SUAKAONLINE.COM, Jakarta—Ribuan petani yang tergabung dalam berbagai organisasi Tani Se-Indonesia menggalar aksi di Depan Istana Negara memperingati hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September, Selasa (29/9/2015). Dalam Aksinya mereka meminta pemerintah segera memperbaiki kesejahteraan Tani yang dinilai jauh dari cukup.

Aksi yang bertajuk “Jalankan Reformasi Agraria, Tanah untuk Rakyat” ini pelopori oleh puluhan Organisasi Tani di Indonesia. Diantara Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P3I), Konsarium Pembaruan Agraria (KPA), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) serta Serikat Petani Pasundan.

Menurut Koordinatur Umum, Sapei Rusin, aksi ini sebagai bentuk dukungan untuk para petani yang tak memiliki tanah dan hidup di bawah garis kemiskinan. “Kita tahu sendiri bagaimana nasib petani gurem (petani tak memiliki tanah sendiri) hidup, mereka tidak sejahtera kehidupanya, dan dengan adanya kami disini, kami meminta keadilan kepada pemerintah,” ucap Rusin, Selasa (29/9/2015).

Dalam Orasinya, Rusin menjelaskan begitu pentingnya tanah bagi para Petani. “Petani tidak membutuhkan pupuk yang di subsidi atau pun Bibit unggul, Tapi petani membutuhkan Tanah, karena tanah adalah sumber semuanya,” katanya.

Beberapa tuntutan lain yang di peruntukan untuk pemerintah adalah meminta Presiden agar tanggal menetapkan 24 September sebagai Hari Tani Nasional sesuai dengan kepres No. 169/1663. Karena hingga hari ini, kata dia, tidak pernah dilakukan peringatat  hari tani secara resmi.

Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) , Yani, mereka (petani) Selain merayakan Hari Tani, mereka pun mengkritisi kinerja Jokowi. “Para petani memperingati hari Tani Nasional, dan juga mengkritisi kebijakan Jokowi dalam Bidang Agraria,” jelas Yani.

Aksi tersebut menuai hasil. Setelah beberapa perwakilan dari Organisasi petani bertemu dengan Staff kepresidenan dan Menteri Agraria dan tata ruang/Kepala Badan Pertahanan Nasional, Ferry Mursyidin Baldan. Salah satu hasilnya adalah para Petani yang menggarap tanah yang bukan miliknya, tetap diperbolehkan untuk menggarap dengan tuntunan tidak boleh memperpanjang tanah garapanya.

“Pemerintah tidak akan mengganggu gugat tanah yang sudah di garap petani, dan kami juga mengimbau dengan tegas petani tidak boleh memperluas tanah garapanya,” kata Ferry dalam pertemuan.

Salah satu mahasiswa yang juga mengikuti Aksi, Siti Halimah, mengatakan aksi tersebut merupakan sumbangsih nyata untuk memperjuangkan hak petani. “Sangat Luar biasa.  di sampng masyarakat dan teman – teman (mahasiswa) semangat kita menjadi satu, kita jadi mempnyai jiwa bener – benar  tulus. Kita bukan masa  aksi bayaran,tapi kita tulus memperjuangkan hak petani,” ucap Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (STH) Garut ini.

Reporter : Nizar Al Fadillah

Redaktur : Robby Darmawan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas