Lintas Kampus

Remotivi Gelar Bedah Buku Orde Media

Perpustakaan Batu Api

Sandy (Sebelah kanan) sedang membedah buku “Orde Media”, dalam acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Remotiivi bekerjasama dengan Perpustakaan Batu Api, di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sumedang, Sabtu (9/10/2015). (Ima Khotimah/ Suaka)

SUAKAONLINE.COM, SumedangBuku Orde Media menjadi penanda transisi Remotivi dalam membaca perubahan arah khalayak mengkonsumsi media. Karena saat ini industri media lebih menekankan pada konvergensi media. Misalnya peran televisi hari ini harus diimbangi dengan kajian yang komprehensif karena televisi berperan aktif dalam perubahan sosial.

Hal tersebut di ungkapkan oleh Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Sandy Jaya Saputra saat diskusi yang diselenggarakan Remotivi bekerja sama dengan perpustakaan Batu Api. Menurutnya, kompleksitas realita yang dihadirkan oleh televisi sangat tinggi, maka mutlak produsen konten televisi harus memiliki kemampuan dalam memahami realita yang selanjutnya direpresentasikan dalam televisi.

“Salah satu elemen metode yang harus dikuasai adalah bahasa visual, agar kita bisa menyaring pesan buruknya yang di hadirkan oleh televisi,”papar Sandy di Perpustakaan Batu Api, Sabtu (9/10/2015).

Pria dengan gaya santai itu mengatakan bahwa media televisi hadir dengan penuh imajinasi. Imajinasi televisi bermula pada awal ditemukannya fotografi, yang selanjutnya berkembang dalam video dan televisi. Maka hal ini di gadang-gadang sebagai kenyataan.

Kamera sebagai medium representasi realitas menjadi problem apabila para professional media menginginkan  decoding (khalayak) sama dengan encoding (media). Sedangkan para professional itu tidak paham apa yang namanya realitas. Asumsinya mereka gagal dalam menghadirkan realitas ke dalam format visual.

“ Di kutip dari perkataan Hikmat Darmawan menyimpulkan bahwa kamera memiliki hukum besi pencipta realitas kedua, manipulasi kamera untuk memberikan kesan nyata malah di terima seperti kita menerima bualan seorang teman yang pandai menghibur dengan omong kosong.” tambah Sandy.

Sepanjang sore Sandy menjelaskan bahwa sebagai penikmat televisi agar melek terhadap tontonannya. Kemampuan membaca tontonan dengan berbagai metodologi, adalah keniscayaan dalam masyarakat modern. Mendorong setiap pribadi dan tidak tergantung pada instansi diluar dirinyalah yang utama, karena apabila mengharapkan institusi untuk mendidik setiap pribadi, akan lebih lama prosesnya.

“Orde Media adalah solusi dalam memperkuat benteng diri untuk meningkatkan refleksi rasional kritis individu. Budaya baca tulis adalah pondasi menuju kajian visual, untuk membangun rasa yang kongkrit antara realitas dan imajinasi. Maka kesadaran ini harus dibangun dengan merenungi kualitas keseharian yang kita alami,” pungkas Sandi.

Reporter         : Ima Khotimah

Redakttur       : Isthiqonita

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas