Hukum dan Kriminal

Majalah Lentera Dibredel, Ini Sikap Pers Mahasiswa Bandung

Dok. Internet

Dok. Internet

SUAKAONLINE.COM —  Penarikan dan pembakaran majalah pers mahasiswa Lentera oleh Polisi mendapat respon dari Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB). Sekretaris Jenderal FKPMB, Adam Rahadian Ashari mengecam adanya pembredelan terhadap majalah dengan berjudul “Salatiga Kota Merah” tersebut.

“Kami mengecam adanya ikut campur kepolisian dalam penerbitan majalah Lentera,” kata Adam kepada Suaka, Rabu (21/10/2015). Ia menilai tekanan psikis yang dialami Lentera mengancam kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Menurutnya dalam proses jurnalistik yang ditempuh pers mahasiswa Lentera sudah sesuai dengan prosedur. Oleh karenanya Adam menganggap pembredelan itu sebagai upaya pengekangan terhadap kebebasan pers. “Sangat kentara, agaknya ada pihak-pihak yang ketakutan terhadap pemberitaan yang dilakukan lentera,” katanya.

Adam mengatakan, pers mahasiswa di Bandung sudah melakukan komunikasi yang intens terkait pembredelan itu. Langkah awal yang akan dilakukan oleh semua pers mahasiswa di Bandung yakni membuat tulisan-tulisan, baik berupa editorial, berita dan lain sebagainya, yang mendukung Lentera.

“Diharapkan Lentera bisa mendapat dukungan moral dari kami. Untuk langkah selanjutnya sedang kami perbincangkan. Bisa jadi kami akan melakukan aksi peduli terhadap Lentera. Bentuknya mungkin turun ke jalan, atau kami akan mengunjungi langsung rekan-rekan Lentera. Langkah apapun akan kami tempuh untuk memberi dukungan, karena pers mahasiswa di manapun adalah satu,” ujarnya.

Dirinya berharap pihak kampus, Dewan Pers dan organisasi kewartawanan serta masyarakat sudi membantu Lentera. Karena, katanya, jika kebebasan berpendapat sudah dibungkam, maka yang tersisa adalah kegelapan dan kesewenang-wenangan.

Majalah Lentera merupakan produk dari pers mahasiswa Lentera di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Majalah tersebut dilarang beredar karena memuat isu soal Tragedi 1965 di Salatiga, Jawa Tengah.

Majalah yang terbit 10 Oktober 2015 dan terbit sebanyak 500 eksemplar itu mendapat respon keras dari kepolisian, tentara, hingga Wali Kota Salatiga. Polisi kemudian meminta supaya majalah itu ditarik kembali dari peredaran.

Dari sumber yang dihimpun Suaka, pihak kepolisian menyatakan penerbitan majalah ini tidak disertai izin-izin serta tidak sesuai perundang-undangan dan tidak layak untuk disebarluaskan secara umum. Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) sudah melayangkan sikap atas kejadian tersebut.

Kabar terbaru menyebutkan, selain Polisi, pihak kampus dalam hal ini rektor merupakan orang pertama yang menginginkan agar majalah tersebut ditarik peredarannya. Namun saat akan diambil dari agen, majalah tersebut telah diambil terlebih dahulu oleh polisi untuk kemudian dibakar.

Reporter : Adi Permana

Redaktur : Robby Darmawan

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas