Kampusiana

Kantin Kejujuran, Harga Sebuah Ke(tidak)jujuran

[Suakaonline]-Cara para pedagang menjajakan dagangannya kini telah semakin bervariasi. Salah satunya adalah konsep “kantin kejujuran”, yang diusung Adi Daya Buana, mahasiswa Sosiologi UIN SGD Bandung semester 7. Sebuah cara yang tidak mudah dan agak riskan, karena transaksi yang dilakukan hanya antara pembeli dan Tuhan yang maha melihat.

 

Jam 6 pagi adalah waktu bagi Adi memulai petualangannya berniaga. Adi meletakkan donat-donat yang telah dimasukan ke dalam wadah berukuran sedang di atas sebuah kursi di beberapa fakultas di UIN Bandung. Tak lupa, ia pun mencantumkan harga yang harus dibayar untuk satu buah donat. Setelah itu, ia meletakkan minuman yang dikemas dalam gelas plastik di sampingnya. Dengan berucap bismillah, Adi meninggalkan dagangannya, berpasrah diri pada Tuhan Yang Maha Mengetahui.

 

Barangkali tidak ada yang tau bagaimana si pembeli memanfaatkan jasa kantin kejujuran itu. Si pedagang tidak tahu menahu ijab qabul membeli, ia hanya bisa mengelus dada jika ternyata rupiah yang ada di celengan (tempat pembeli memasukan uang, -Red) kurang dari jumlah yang semestinya, atau bahkan ia bisa tersenyum sekaligus heran jika ternyata jumlahnya lebih.

 

Adi memulai bisnisnya yang penuh resiko ini ketika ia sedang menempuh kuliah di semester 2. “Dari dulu saya memang suka dagang. Pas tahun 2010, saya cuma ngisi di fakultas Ushuluddin, tapi link nya saya tambah pas saya semester 5, yaitu di fakultas Adab dan Dakwah,” ungkapnya ketika diwawancara (2/11)

 

Membantu Mahasiswa yang Belum Sarapan

 

Adi mengaku bahwa niat utamanya berjualan adalah untuk membantu para mahasiswa yang belum sarapan. Walaupun dari sisi komersil tentu saja tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

 

Banyak pengalaman pahit yang ia alami selama perjalananya berbisnis. Terutama karena kurangnya tingkat kejujuran yang tertanam pada diri beberapa mahasiswa UIN Bandung. Celengan bahkan pernah dibobol pada akhir semester lalu, sedangkan donat-
donat daganganya habis tak bersisa.

 

“Waktu itu, saya sampai harus nombok Rp. 50.000,” ujar mahasiswa yang menjabat sebagai ketua HMJ Sosiologi ini.

 

Karena musibah itulah, Adi sempat vakum beberapa bulan. Pembobolan celengan itu sempat menciutkan nyali Adi untuk kembali berbisnis.

 

“Waktu itu saya memang rugi banget. Jadi, saya berhenti berjualan. Tapi beberapa bulan kemudian, saya kembali berbisnis dengan dagangan yang sama, katanya.

 

Adi juga mengaku bahwa pendapatannya setiap hari tidak pernah benar-benar cocok dengan yang seharusnya ia dapatkan. “Secara statistik, uang yang ada di celengan selalu tidak sesuai. Seringnya kurang, sekitar Rp. 3000,- an. Itu terjadi setiap hari,” lanjut mahasiswa yang gemar bermain futsal ini.

 

Sebuah Pendidikan Anti Korupsi

 

Adi menambahkan bahwa kantin kejujuran ini bisa menjadi sebuah pendidikan anti korupsi. Walaupun rupiahnya kecil, namun kantin ini adalah awal untuk mencapai kejujuran-kejujuran lain.

 

Jika dari hal kecil saja sulit untuk mempraktekannya, kemungkinan besarnya adalah bahwa amanah besar akan sulit untuk diemban pula.

 

Harapan pun terlontar dari mulut Adi. “Gak muluk-muluk sih, yang penting bayar lah sesuai harga. Kalau ngambil donat satu ya bayar Rp. 1500. Itu saja,” tuturnya mengakhiri pembicaraan.

 

Kantin kejujuran memang belum sepenuhnya bisa menjadi takaran akan kejujuran seseorang. Namun itu bisa menjadi pembelajaran awal. Sudah sepatutnya, penuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi, apalagi yang bernafaskan Islam berlaku jujur.

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas