Terkini

Meneladani Kembali Nilai-nilai Kepahlawanan

 

[Suakaonline] Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Momentum perayaan ini tentunya bukan hanya sekedar hadiah, melainkan juga untuk meneladani kembali nilai-nilai kepahlawanan.


Fenomena di Indonesia saat ini, banyak sosok pahlawan yang tidak mendapatkan gelar pahlawan. Bung Karno dan Bung Hatta pun baru mendapat gelar pahlawan beberapa waktu lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


“Pahlawan hanya ingin Indonesia bebas tanpa ada keinginan lain,” ungkap Dosen Jurusan Sejarah Peradaban Islam Mardani, saat menjadi pembicara dalam acara peringatan hari pahlawan di DPR UIN SGD Bandung, Rabu (14/11).


Mardani juga menjelaskan mengapa hari pahlawan bisa jatuh pada tanggal 10 November.


“Dimata dunia adalah sebuah peristiwa besar. Pada tanggal 10 November itulah, banyak yang terbunuh karena memperjuangkan kemerdekaan,” ujarnya kembali dalam acara yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Sejarah Peradaban Islam UIN SGD Bandung.


Saat  sesi Tanya jawab, Dian, salah seorang peserta bertanya mengenai sejarah dan pahlawan. “Sejarah yang menciptakan pahlawan ataukah pahlawan yang menciptakan sejarah?,” tanyanya.


Dani Wardani Dosen di Jurusan Sejarah Peradaban Islam yang juga menjadi pemateri saat itu menjawab, bahwasanya keberadaan sejarah dan pahlawan ibarat telur dan ayam, dimana keduanya sangat berkaitan.


“Pahlawan menciptakan sejarah dan sejarah pun menciptakan pahlawan, sama-sama mempunyai peranan penting,” ungkapnya.


Senada dengan Dani, Organizing Comitee(OC) Cecep Somantri juga beranggapan demikian. “Ungkapan tersebut keduanya benar, bahwa pahlawan telah menggoreskan tinta sejarah,” ujarnya saat di wawancarai di tengah-tengah acara.


“Yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa meneledani dan menghormati setiap apa-apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, yakni bagaimana kita bisa memanfaatkan profesionalitas dan proposonalitas kita sebagai mahasiswa untuk bergerak dan mempertahankan kemerdekaan, mahasiswa harus bisa menunjukan bahwa ia berada di posisi tengah antara birokrat dan rakyat,” tambah Cecep.


Acara yang mengusung tema “Mengenang, memahami, dan melanjutkan perjuangan pahlawan di era globalisasi” tersebut ditutup dengan penampilan kreasi seni dari mahasiswa Sejarah Peradaban Islam.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas