Terkini

Membahas Problematika Mahasiswa Ushuluddin

 

[Suakaonline]Dalam rangkaian acara Musyawarah Komisariat, Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Perbandingan Agama UIN SGD Bandung mengadakan diskusi panel yang membahas tentang problematika mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Dialog ini diikuti oleh seluruh BEMJ yang ada di Ushuluddin, Sabtu (01/12).


Ushuluddin adalah mother of faculty di UIN SGD Bandung. Jika diibaratkan, ushuluddin dahulu seperti macan di UIN. Namun saat ini Ushuluddin kehilangan kehebatannya, begitu pun dalam hal akademik. Hal tersebut dipaparkan oleh Ezwar, perwakilan BEMJ Tafsir Hadist.


Dulu mahasiswa Ushuluddin identik dengan budaya akademiknya. Dominan mahasiswa sekarang lebih senang pada poker, point blank, dengan mengorbankan belajar, ujarnya.


Ia menyayangkan hal itu, sebab penyempitan sosialisasi di kampus akan terjadi. Selain itu, menurut Ezwar kesadaran mahasiswa untuk mengikuti kegiatan BEMJ sangat minim. Via dari BEMJ Tasawuf Psikoterapi mengamini pendapat Ezwar tersebut.


Ruang diskusi semakin menciut, dengan adanya jejaring sosial dan game,” ungkap Via.


Stigma Buruk Mahasiswa Ushuluddin


Permasalahan selanjutnya adalah ketika fakultas Ushuluddin menjadi pilihan kesekian dari fakultas-fakultas lain yang ada di UIN. Sehingga mahasiswa yang kuliah di Ushuluddin banyak yang asal-asalan.


Abdillah, Ketua BEMJ Akidah Filsafat menyayangkan hal ini, sebab menurutnya Ushuluddin mempunyai jurusan-jurusan yang tak kalah saing dengan jurusan lain. Abdillah mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena stigma yang buruk di masyarakat tentang mahasiswa Ushuluddin.


Stigma di Ushuluddin yang sering muncul ke permukaan ini adalah rambut gondrong, meninggalkan shalat dan lain-lain. Jika dibiarkan hal ini akan mengakar,ujarnya.


Sehingga yang harus dilakukan saat ini adalah merubah stigma itu sendiri yang bisa dimulai dari kesadaran kita sendiri. Via juga menyayangkan jikalau memang dalam penampilan, mahasiswa Ushuluddin kurang rapih.


“Salah satu langkahnya kita harus kembali pada kode etik, dan ketika masih ada yang pakai sandal saat kuliah. Hendaknya itu dikembalikan pada diri sendiri, mau berubah atau tidak,” papar Via.


Lain halnya dengan Via, Ezwar justru mengatakan penampilan bukan hal yang utama. “Jangan condong kepada hal yang bersifat material, karena penampilan itu tidak terlalu penting, yang penting kan hatinya, katanya.

 


 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas