Kampusiana

WIHW 2016, Deklarasi Damai Antar Umat Beragama

Para pemuka agama sedang membacakan Deklarasi Damai dalam acara World Interfaith Harmony Week (WIHW) 2016 di Aula gedung Pascasarjana, Kamis (25/2/2016). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan antar agama. (Rifki Mutaali/Magang)

Para pemuka agama sedang membacakan Deklarasi Damai dalam acara World Interfaith Harmony Week (WIHW) 2016 di Aula gedung Pascasarjana, Kamis (25/2/2016). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan antar agama. (Rifki Mutaali/Magang)

SUAKAONLINE.COM — Prodi Religious Studies Pascasarjana UIN SGD Bandung menyelenggarakan World Interfaith Harmony Week (WIHW) 2016 atau Pekan Kerukunan Antar Umat Beriman di Aula gedung Pascasarjana, Kamis (25/2/2016). Dengan mengusung tema “Satu Kata Dalam Damai Antar-Iman untuk Dunia” acara ini dihadiri oleh pemuka dari berbagai agama.

Bersama beberapa organisasi keagamaan dan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang, Prodi Religious Studies bermaksud meningkatkan toleransi dan kerukunan antar agama yang diikat melalui Deklarasi Damai Antar Umat Beriman.

Menurut Ketua Prodi Religious Studies, Bambang Qomaruzzaman, menjelaskan bahwa Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang paling tidak toleran di Indonesia. Maka dibutuhkan dorongan untuk saling pengertian, kerukunan dan kerjasama antar manusia, yang memiliki latarbelakang tradisi budaya dan agama yang berbeda. “Menurut survei yang dilakukan Kemenag, Jawa Barat adalah Provinsi yang paling tidak toleran setelah Aceh,”kata Bambang.

Selain itu, acara ini diisi dengan do’a dan testimoni damai dari para pemuka agama. Deklarasi Damai ini merupakan pengucapan ulang Deklarasi Sancang, yang telah digelar pada 10 November 2007 lalu di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bandung, Jl. Sancang No. 8 Bandung.

Tokoh agama Katolik, Pendeta Frangy sangat mengapresiasi dengan diadakannya acara tersebut.  Terlebih dengan pengalamannya hidup ditengah-tengah umat beragama yang berbeda, dirinya sangat merasakan pentingya toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dari kisah hidup yang dialaminya dirinya menceritakan bahwa toleransi bisa dihadirkan walaupun dalam komunitas yang berbeda.

Baca juga:  Jas Almamater Mahasiswa Baru 2017 Siap Dibagikan

“Dulu saya pernah digugat oleh sebuah ormas garis-keras yang kurang bisa menerima saya. Untungnya masyarakat disana, dan teman-teman dari tokoh muslim tentunya mendukung saya,” sambung Frangy.

Selain do’a dan testimoni acara tersebut juga diisi dengan pemutaran film “Imam and Pastor”. Yaitu sebuah film yang menceritakan tentang Pastor James dengan Imam Ashafan dari kota Yelwa-Shendam, Nigeria. Dalam film tersebut, dua orang berbeda agama yang pada awalnya bermusuhan, menjadi damai dan berusaha merekonsiliasi hubungan antara dua umat beragama agar menjadi lebih damai.

Adapun beberapa point yang dibahas dalam acara tersebut diantaranya adalah, umat beragama di Kota Bandung harus menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Lalu, berjuang untuk tegaknya hukum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kerukunan hidup dalam mencapai kebahagiaan bersama. Selalu mengembangkan hidup toleransi, tanggung jawab, dan saling menghormati. Dan yang terakhir, selalu bekerjasama untuk berperan dalam mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan.

Reporter : Rifki Mutaali / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas