Fresh

Balutan Vintage di kedai Green White

Suasana Kedai Greenwhite pada malam hari. beberapa pengunjung asyik berbincang sambil menikmati suguhan yang mereka pesan

Suasana Kedai Greenwhite pada malam hari,  beberapa pengunjung asyik berbincang sambil menikmati suguhan yang mereka pesan

SUAKAONLINE.COM, Fresh- Bukan semata hangat kopi atau tembakau bakar. Namun kehangatan pelayan kedai yang cozy dan homey di Green White. Saat Fresh Crew datang ke sana beberapa malam yang lalu, tampak Rinto, sang barista, sedang berkutat dengan botol-botol berisi cairan merah, kuning, hijau dan biru, lalu grinder, dan berbagai alat-alat lain yang membuat dapur itu lebih mirip laboratorium kimia –dalam arti yang keren. Sementara Aad dan Oding, dua pegawai Green White, sedang bercerita ria dengan para pelanggan. Itulah khas kehangatan yang ditawarkan Green White.

Di dalam ruangan kafe, gaya Western diusung dengan beberapa pernak-pernik ruangan yang didominasi warna putih dan hijau. Bunga mawar yang mekar dari dalam pot bertetangga dengan telepon rotary (vintage blue rotary telephone) klasik. Seakan telepon yang dicurigai bertipe W48 buatan Jerman itu diantarkan lewat kotak teleportasi dari istana Buckingham Inggris tahun 60-an. Di atas telepon, lukisan bergambar Che Guevara terpampang besar. Pada sisi lain ruangan, buku-buku bacaan pelanggan tertata rapi di samping sound system sementara samping atas buku-buku, tertulis kata-kata pada kaca jendela “Jagalah semangatmu yang menyenangkan itu, kawan.”

Di dalam ruangan itulah Fresh Crew bertemu sang master kafe, Panshaiskpradi yang akrab disapa Pradi. Di sela-sela kesibukannya berkutat dengan angka-angka dan nota-nota, ia melayani Fresh Crew dengan wajah penuh semangat dan menjelaskan berbagai rincian kafe. “Akhirnya saya mengambil nama Greenwhite dari dominasi warna bangunan ini. Namun juga ada filosofinya. Green adalah kenyamanan. Sementara white adalah kesucian. Jadi itu sebagai do’a juga,” begitu keterangannya dengan kemeja bergaris, dan apron biru dongker masih melekat erat di badan.

Baca juga:  Pikiran Rakyat Menolak Gugatan yang Diajukan Zaky Yamani

Apabila kita keluar ruangan kedai, kita akan menjumpai meja dan kursi tertata dengan cahaya lampu temaram indah menerpa partikel-partikel asap tembakau bakar. Kepulannya yang seperti balon-balon udara menyembul satu per satu hampir dari semua bangku kafe. Lalu, suara serangga-serangga alam malam berbaur dengan cengkerama para pelanggan.

Belakangan kunang-kunang berkerlap-kerlip menerangi antara rerumputan dan perdu di sekitar kafe. Seperti kata pepatah “ketika kunang-kunang masih menyala, artinya ia belum menemukan cinta,” maka seperti itu pulalah sebagian pelanggan yang datang ke Green White. Sebagian pelanggan datang untuk menemukan cinta di Green White. Bukan hanya tentang lelaki dan perempuan, namun tentang cintanya pada suasana, aura dan aroma kedai.

Setiap hari meja-meja itu hampir selalu dihuni oleh para pelanggan Green White sekalipun kedai itu baru sebulan berdiri. Yoga, pelanggan yang Fresh Crew temui mengatakan, salah satu ketertarikannya datang ke kafe itu adalah ketenangan dan ketenteraman yang ditawarkan. “Karena nggak bising, jauh dari kebisingan dan enak di luar ruangan,” tutur Yoga dengan ramah.

Fresh Crew sempat mencicipi salah satu menu kafe, yakni Lemon Tea hangat. Sementara di kursi-kursi lainnya, para pelanggan memesan masing-masing pesanan seperti Green Thai Tea, Susu, Black Coffe dan berbagai menu lain yang tersaji. Pengunjung tampak menikmati sajian-sajian itu.

Sedangkan Purna, salah satu Fresh Crew yang mencicipi Ice Green Tea kegirangan menikmati minumannya sembari memain-mainkan bubuk-bubuk daun teh yang memberi sensasi kenikmatan tersendiri. “Enak, enak banget,” katanya sembari bercakap-cakap dengan Pradi yang dulu seperjuangan dengannya.

Kalangan mahasiswa UIN, terutama dari komunitas-komunitas adalah pelanggan utama yang meramaikan empat minggu pertama Green White. Mereka rata-rata datang pada jam “nongkrong” mulai dari jam empat sore hingga tengah malam sebagaimana biasanya jam buka kafe. Komunitas tersebut kerap datang dari arah halte UIN. Lalu terus mengikuti jalan kecil ke arah utara hingga bertemu kedai Green White.

Baca juga:  Wisuda ke 68, Mahmud : Adopsilah Filosofi Rumput

Selain layanan “jiwa”, menu-menu “ragawi” melengkapi kenyamanan Green White Menu-menu main course kedai yang memikat hati para pelanggannya itu merupakan percampuran antara menu lokal dengan menu Western. Misalnya Volcano Rice (British), Spageti Bolognese dan Spageti Carbonara (Italian), Vegetable Omelette, Gebraten Reis (German) lalu beberapa menu yang akan datang seperti Tortillas dan Rosadillas (Mexican). Harga makanan-makanan tersebut relatif terjangkau untuk ukuran kafe. Rata-rata menu makanan dipatok antara 13 ribu – 15 ribu rupiah. Untuk minuman rata-rata antara 7 ribu – 10 ribu rupiah.

Dengan serangkaian menu yang memberi kenyamanan dan kehangatan di hati para pelanggannya menjadi wujud betapa sesungguhnya ada sesuatu yang berbeda di Green White. Ada aura berbeda, aura menyengat yang aromanya sulit terungkap, seperti aroma kopi hitam yang telah lama dikenal semua orang. “Seakan kafe ini sudah lama berdiri,” kata Nunung, freelance helper di Green White.

Reoprter              : Muhammad Machally / Magang

Redaktur             : Ulfah Choirun Nissa

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas