Lingkungan dan Kesehatan

Menuju Earth Hour Switch Off Ceremony

Para narasumber dari berbagai instansi yang mendukung aksi Earth Hour Switch Off Ceremony sedang memberikan penjelasan dalam konferensi pers di Trans Studio Mall, Rabu (16/3/2016). Dengan konferensi pers tersebut, Komunitas Earth Hour ingin mengajak masyarakat untuk menghemat energi. (Anisah Meidayanti / Magang)

Para narasumber dari berbagai instansi yang mendukung aksi Earth Hour Switch Off Ceremony sedang memberikan penjelasan dalam konferensi pers di Trans Studio Mall, Rabu (16/3/2016). Dengan konferensi pers tersebut, Komunitas Earth Hour ingin mengajak masyarakat untuk menghemat energi. (Anisah Meidayanti / Magang)

SUAKAONLINE.COM — Koordinator Jaringan Komunikasi Bandung Bijak Energi (JKBBE), Christian Natalie mengingatkan kembali kepada masyarakat untuk menghemat pemakaian energi. Dirinya berharap agar masyarakat Indonesia ikut berpartisipasi dalam aksi Switch Off Ceremony yang akan dilaksanakan Sabtu (19/3/2016) mendatang, dengan mematikan listrik selama 60 menit mulai pukul 20.30 – 21.30 WIB.

Aksi Switch Off Ceremony merupakan agenda tahunan dari Komunitas Earth Hour (EH) untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli pada lingkungan dengan menghemat energi. Tahun ini, merupakan kedelapan kalinya EH mengadakan aksi tersebut. Selain itu, aksi tersebut diadakan serentak diseluruh kota di Indonesia.

Meskipun mendukung aksi tersebut, Christian juga menghimbau agar masyarakat menghemat listrik di kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat aksi Switch Off Ceremony. “Misalnya mematikan listrik yang tidak dipakai, mencabut charge apabila tidak dipakai, dan mematikan lampu sebelum tidur,” kata Christian saat konferensi pers di Trans Studio Bandung, Rabu (16/3/2016).

Perwakilan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) kota Bandung, Lita Endang sepakat dengan Christian. Dirinya menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia masih boros dalam pemakaian energi. Karena itu, BPLH bersama World Wide Fund (WWF) Indonesia, berkomitmen mendukung kampanye ini untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia agar menghemat energi, terutama kota-kota besar yang ada di Jawa-Bali.

“Kampanye ini bertujuan mengedukasi dan terus diingatkan berpartisipasi lalu menindaklanjuti kegiatan ini sebagai perubahan gaya hidup agar lebih ramah lingkungan dalam jangka panjang,” kata Lita.

Baca juga:  Latar Belakang Ditetapkannya Hari Pahlawan

Selanjutnya, Koordinator EH Kota Bandung, Dwi Widya menjelaskan, aksi Switch Off Ceremony bukan hanya sekedar acara hura-hura. Aksi ini merupakan tantangan bagi EH yang harus didukung oleh pemerintah. Beberapa instansi pemerintahan seperti Badan Pengelola Lingkunan Hidup (BPLH), Dinas Provinsi Jawa Barat,  Dinas Kota Bandung dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mendukung aksi ini.

”Jangan hanya acaranya saja yang bagus, bukan hanya ceremony atau acara saja pemerintahan kota turut serta tidak dalam acara ini biar ada komitmen dan himbauannyata dalam hal menurunkan energi penghematan ini kepada seluruh masyarakat,” ujar Dwi.

Dwi juga memaparkan bahwa di kota Bandung ada sekitar 70 titik yang menyatakan siap melaksanakan aksi ini. Titik tersebut meliputi kantor pemerintahan, kawasan komersil mall, hotel, kampus, dan museum. Aksi puncak akan diselenggarakan di dua tempat di Bandung. “Trans Studio Mall Bandung menjadi titik utama aksi ceremony tingkat kota Bandung dan Gedung Sate menjadi titik utama aksi tingkat Provinsi,” kata Dwi.

EH merupakan komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Komunitas muncul di kota Bandung pada tahun 2009. Hingga hari ini, EH tersebar di 32 kota di Indonesia, seperti Aceh, Padang, Medan, Palembang, pekabaru,Lampung, Tangerang, Jakarta, Bogor, Depok, Serang, Bekasi, Bandung, Cimahi, Subang, Jogjakarta, Solo, Kediri, Malang, Kota Batu, Sidoarjo, Surabaya, Denpasar, Mataram, Balikpapan, Samarinda, Pontianak,  Palangkaraya, Palu, Makassar,dan Banjarbaru.

Selain aksi penghematan energi, EH juga memliki aksi lain yang berkenaan dengan lingkungan. Aksi tersebut antara lain bersepeda, diet kantong plastik, memakai transportasi umum, mengurangi dan memisah sampah, konsumsi produk lokal, dan gerakan menanam pohon.

Reporter : Anisah Meidayanti / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Baca juga:  Pengumuman Hasil Wawancara Tahap 1 Oprec SUAKA 2017

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas