Kampusiana

Tips Menjadi Guru Komunikatif dan Menarik

Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Lilik Hendrayana saat menyampaikan materi pada seminar pendidikan yang diselenggaraka oleh Hima Pendidikan Fisika di Auditorium UIN SGD Bandung, Kamis (17/3/2016). (Gisna Maulida Q / Magang)

Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Lilik Hendrayana saat menyampaikan materi pada seminar pendidikan yang diselenggaraka oleh Hima Pendidikan Fisika di Auditorium UIN SGD Bandung, Kamis (17/3/2016). (Gisna Maulida Q / Magang)

SUAKAONLINE.COM – Untuk menjadi tenaga pendidik yang komunikatif dan menarik, calon guru fisika harus melaksanakan Hukum Dinamika Newton II, dengan F=m.a. Dimana F merupakan sebuah gaya masukan yang dapat diartikan sebagai komunikatif atau menarik , m sebagai kelembaman yang dapat diartikan sebagai kemalasan dan a sebagai percepatan atau dapat diartikan sebagai gerakan aksi. Sehingga calon guru harus bergerak untuk melawan rasa malas untuk menjadi guru yang komunikatif dan menarik bagi siswanya.

Hal tersebut disampaikan oleh Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Lilik Hendrayana saat mengisi materi pada seminar pendidikan yang diselenggrakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) Pendidikan Fisika UIN SGD Bandung, Kamis (17/32016). Dengan tema “Menjadikan Fisika Sebagai Penghela dan Pendorong Kelembaman Manusia”, seminar tersebut merupaka rangkaian acara Gebyar Fisika Eureka (GFE)  yang diselenggarakan di Auditorium.

Selain penerapan Hukum Dinamika Newton II, untuk mampu membuat pembelajaran lebih komunikatif, Lilik menyampaikan unsur 3 O, yang  terdiri dari Otak, Otot dan Omong. Seorang calon guru harus mengasah otaknya agar mampu berpikir bagaimana caranya menjadi guru yang komunikatif . Kemudian, guru harus memiliki otot yang kuat guna membantu dalam pekerjaan. Tutur kata atau omongan harus bisa membuat guru mampu untuk berkomunikasi dengan peserta didik.

“Fisika hakikatnya memang sulit. Makanya fisika itu harus runut, jangan loncat-loncat. Rumus fisika itu jangan dihafal karena bukan hafalan, harus tahu cara penggunaanya. Rumus fisika itu harus dipahami melalui penalaran bagaimana rumus tersebut dapat terbentuk. Fisika itu merupakan pengukuran tak langsung. Pahami teori medan agar bisa menguasai pengukuran tak langsung dalam fisika,” tutur Lilik.

Baca juga:  Zulfa Hendri: Peluang UIN Bandung dalam Financial Market

Selanjutnya Lilik juga menyampaikan tips agar guru mampu bekerja secara paralel. Ada 5 hal yang harus dilaksanakan untuk melakukan hal tersebut. Pertama, kembangkan kecerdasan magnetik. Sehingga calon guru harus mengembangkan kecerdasan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kemudian ada antisipatif,  komunikasi rasa dengan kesatuan pikiran, menarik simpati orang dan sabar dengan langkah meyakinkan.

“Fisika itu sangat dekat dengan kita, dapat terjadi dimana saja. Karena itu, laboratoriumnya fisika adalah alam. Bisa sungai besar, gorong-gorong, tatanan jalan dan banyak hal lainnya yang dengan mudah dapat kita temukan dikehidupan kita. Karena itu untuk membuat modul percobaan, guru fisika dapat mengembangkan banyak modul di tiap lab alam. Silahkan loka karya membangun dan memfungsikan laboratorium alam,” lanjut Lilik.

Di akhir materi, Lilik menyampaikan cara agar calon guru fisika mampu membuat modul percobaan yang baik. Pertama, pilih satu topik yang ada pada laboratorium alam. Kedua, deskripsikan secara komprehensif tujuan, permasalahan yang ada, tinjau ulang prinsip-prinsip dasar fisika dan bagaimana pengukuran yang dilakukan. Ketiga, buat modul dasar untuk memahami permasalahn dan prinsip-prinsip yang berlaku. Keempat, buat modul lanjut sebagai pencarian solusi untuk menjawab masalah.

Reporter: Gisna Mulida Q. / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas