Puisi

Naar

black_fire_speedpaint_by_exohazard-d5cfwri

Dok. Net

Oleh Muhammad Machally*

Kantung kemarau terikat sewindu

Tujuh per tujuh manusia mengisi kantungnya

Tanyakan pada pastur mengapa

Ia tak punya sebab melainkan menyuruhmu menuntut Tuhan Bapa

 

Lisan Tuhan Bapa terlalu suci untuk menjawab

Maka Dia menjawab lewat debu-debu dan kerlap-kerlip hitam di udara

Dengan abu dan arang yang tertiup titah

Dari sisa-sisa tanganmu sendiri sesungguhnya ia menyala dan menyisa

 

Kalian merasa aman memakai payung-payung plastik hitam

Berbondong-bondong menyalahkan-Nya?

Dan kalian terlalu naif memakai sepatu kulit semiliyar

Berbondong-bondong menunjuk wajah-Nya?

Jangan tanya Tuhanmu, tanya dirimu

 

Mungkin tanggung berdosa

Jadi kalian mencebur saja

Berharap medali setan setidaknya terkalung

Agar tak terlalu menyesal kalian

Kala jahanam memereteli iga-iga kalian sebatang-sebatang

Tak apa pikir kalian, sebab kalian berbondong-bondong

 

Dan kalian tak ingat kata Rumi?

Bukan buah ada sebab pohon tumbuh

Namun pohon tumbuh sebab buah ingin diunduh

 

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik UIN SGD Bandung semester IV dan aktif sebagai anggota magang di LPM Suaka 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas