Lingkungan dan Kesehatan

Ketinggian Banjir Meningkat, Warga Kebingungan

Para pengungsi mengunjungi salah satu posko kesehatan yang melayani para pengungsi di Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (16/3/2016). (Ayu Kania / Magang)

Para pengungsi mengunjungi salah satu posko kesehatan yang melayani para pengungsi di Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (16/3/2016). (Ayu Kania / Magang)

SUAKAONLINE.COM – Banjir di kawasan Bandung Selatan tahun ini disebut banjir terparah daripada tahun-tahun sebelumnya, karena ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. Warga sekitar yang umumnya bekerja serabutan, kebingungan untuk menghidupi keluarganya sehari-hari. Saat ini posko tanggap darurat tersebar di beberapa titik, salah satunya di Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah.

Kepala koordinator posko tanggap darurat, Gatot Suardi berharap kepada masyarakat umum dan warga sekitar tempat pengungsian untuk turut menyumbangkan tenaganya ataupun sumbangan berbentuk materi ataupun non materi secara sukarela. “Jumlah pengungsi di lokasi ini sejak hari senin terhitung telah mencapai 151 kepala keluarga, dari hari ke hari sebagian ada yang baru mengungsi ada juga yang meninggalkan pengungsian,” ucap Gatot, Rabu (16/3/2016).

Menurut Gatot, posko tanggap darurat banjir di Desa Rancamanyar ini berlokasi di 3 titik, yaitu SD – SMP Bina Negara, Mushalla, dan Rusun Baleendah. Dari tahun ke tahun, SD – SMP Bina Negara tercatat menjadi posko pengungsian terbanyak jumlahnya.

Selain itu, bagian kesehatan dan dapur umum bekerja sama semaksimal mungkin agar para pengungsi tetap terjaga gizi dan kesehatannya meskipun dengan konsumsi seadanya. Salah satunya dengan memberikan makanan pokok dan pemberian vitamin yang rutin di bagian kesehatan. “ Kami mengutamakan kesehatan para pengungsi disini,” ujar salah satu pengurus kesehatan dan dapur umum, Wewen Winarni.

Menurut salah seorang pengungsi, Endang Sulistyo, pemerintah seharusnya lebih serius menanggapinya lalu mencari solusi untuk bencana yang terjadi hampir di tiap tahun ini. “Mau pulang ke rumah juga takutnya nanti hujan lagi banjir lagi jadi terpaksa bertahan dulu aja disini,” kata Endang.

Baca juga:  Gladi Resik Wisuda Ke - 68 Berlangsung Ricuh

Gatot menambahkan, tidak menutup kemungkinan terjadi hambatan di posko ini. Salah satunya karena hujan yang terus menerus turun dan jumlah pakaian yang mereka bawa hanya seadanya. Maka dari itu, bantuan pakaian layak pakai sangat dibutuhkan untuk para pengungsi. “Segala bantuan kami terima disini, bantuan tenaga maupun materi kami terima dengan tangan terbuka,” tutur Gatot.

Reporter : Ayu Kania / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas