Terkini

Menyelami Makna Jurnalistik

 

[Suakaonline]-Tuk, tuk. salah satu panitia Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa mengetuk pelan mikrofon untuk menenangkan antusiasme peserta saat itu. Pelatihan yang mengusung tema ‘Mencetak Jurnalis Muslim yang Professional Untuk Kepentingan Dakwah Umat dan Bangsa’ ini merupakan kerjasama Fakultas Dakwah dan Komunikasi bersama pihak Balai Jurnalistik ICMI yang diselenggarakan tanggal 16-18 Januari.


Mengawali materi pagi itu, Drajat Wibawa melangkah maju untuk menyampaikan materi mengenai ‘Apa Itu Jurnalistik?’ Beliau mengurai definisi dari KBBI.


“Jurnalistik adalah segala hal yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran, katanya, Rabu (16/01).


Maka, dari definisi tersebut menurut Ketua Prodi Jurnalistik ini, jurnalistik dapat dilakukan oleh siapa saja. Yang membedakannya adalah dari segi kapabilitas pelakunya, apakah ia seorang praktisi ataupun penulis awam. Be
liau pun berujar perbedaannya
yaitu terletak di medianya.


“Semua orang yang melakukan kegiatan mengarang dan menulis bisa dibilang sedang menuju kegiatan jurnalistik, akan tetapi karena tidak dipublikasikan melalui media yang melembaga, maka itu bukanlah kegiatan jurnalistik,” ujarnya seraya menyapu pandangan ke seluruh peserta.


Pers di Indonesia


Berbicara mengenai pers, pikiran kita pasti melayang ke masa lalu dimana dahulu falsafah pers Indonesia menganut otoritarian, karena pemerintah memiliki kendali penuh atas pemberitaan. Dalam penjelasan yang dipaparkan Drajat, hal ini dikarenakan falsafah yang dianut oleh suatu negara akan langsung berimbas dan mempengaruhi terhadap perkembangan kinerja pers dalam negara tersebut.


Ia pun menganalisis, meski saat ini Pers Indonesia mengaku menganut falsafah pancasila. Ia sendiri mengatakan bahwa Pers Indonesia saat ini cenderung memakai falsafah komunis, jika dilihat dari adanya fakta banyaknya partai yang memegang kendali atas pers.


Walaupun kini pers banyak dikuasai oleh para pemegang saham, ada satu hal yang membedakan pers dengan industri lain, yaitu idealisme. Dengan lugas Drajat menerangkan, pers memiliki idealismenya masing-masing dalam menanggapi suatu permasalahan masyarakat, yang hal ini tidak semata-mata memandang dari segi keuntungannya saja.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas