Kritik Sastra

BEBEGIG: SEBUAH CERPEN DARI KEDALAMAN PADI KARYA VENNY SITI M

Galah Denawa

Oleh Galah Denawa

Dari dua tahun terakhir, penulis belum lagi mendengar ada komunitas sastra di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Beberapa karya sastra dari mahasiswa Jurusan BSA, penulis menemukan sedikit di tabloid dan majalah Suaka. Salah satunya cerpen berjudul Bebegig pada majalah Suaka edisi tahun 2015. Pada majalah edisi ini terdapat dua cerpen: Andai Mereka Bisa Bicara karya Anggi Nugraha mahasiswa Jurusan Sastra Inggris dan Bebegig karya Venny Siti M mahasiswi BSA.

Dari dua cerpen itu yang paling menarik perhatian penulis adalah cerpen Bebegig. Arti dalam Bahasa Indonesia bebegig itu orang-orangan sawah. Mereka yang besar di perkampungan dengan mata pencaharian bertani padi pasti mengenal bebegig. Fungsinya tentu kita tahu, mengusir burung-burung yang mencoba memakan biji padi. Bebegig biasanya dipasang di tengah-tengah sawah agar strategis di luas tanaman padi. Namun, jika diperhatikan, burung-burung akan tetap mencuri biji padi yang berjauhan dari tempat bebegig tersebut didirikan. Maka, pemasangan bebegig biasanya disertai dengan tali memanjang dari bebegig ke setiap sudut sawah disertai kaleng yang sudah diperisapkan sedemikan rupa agar menghasilkan suara nyaring. Salah satu tali yang memanjang tadi akan diikatkan ke saung yang rata-rata setiap sawah memiliki saung. Setelah itu, semuanya bergantung pada angin. Ketika angin tidak datang dan burung-burung bandel mulai menghampiri batang-batang di padi, seseorang dari arah saung akan menarik tali yang telah diikatkan tadi.

***

Venny, sebagai cerpenis telah berusaha mengangkat bebegig ke dalam karyanya. Dengan menggunakan tokoh Aisyah, gadis kecil yang selalu menunggu ayahnya pulang dari sawah, Venny hampir saja membuat penulis “oleng” di akhir cerpennya. Dimulai saat ayahnya tidak pulang semalaman sedangkan Aisyah akan pentas tari di sekolah keesokan harinya, di situ Venny sebagai cerpenis menggunakan Aisyah kecil untuk menggambarkan apa-apa yang terlihat saat Aisyah kecil untuk pertama kalinya bertemu bebegig di sawah.

Sudut pandang Venny sebagai “Aisyah dewasa” mulai terlihat saat Aisyah kecil yang polos diajak ke sawah untuk melihat bebegig. Aisyah kecil yang imut tiba-tiba mampu menggambarkan burung-burung yang “mengitari pematang. Matanya mengincar sesuatu. Sedangkan paruhnya sudah gatal ingin mematuk biji isi padi yang sejenak lagi menguning.” Untuk ukuran Aisyah kecil, penggambaran suasana seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan. Dari awal, Aisyah kecil adalah Aisyah imut dan polos yang masih “kebingungan (saat) bangun tidur. Rambut berantakan dengan mata yang masih sedikti terpejam”, terbangun oleh suara derit pintu yang terbuka dan suara orang tuanya berbincang di ruang tengah pada pukul tiga pagi. Aisyah kecil adalah dia yang “melengkungkan bibir selebar-lebarnya, bersorak. Menampakkan manisnya anak bungsu perempuan satu-satunya.

Baca juga:  Acara Puncak Biologi Anniversary Ke - 11

“Olengnya” penulis dalam arti badan penulis ini ketika membaca cerpen Bebegig pada paragraf-paragaraf terakhir langsung tersentak ke belakang. Itu tepat saat Venny mengalihkan esensi bebegig ke sosok ayah. Ayah Si Petani Sejati Pemilik Selendang Hijau Sawah Ini, begitu kira-kira bila dibahasakan. Meski awalnya terlihat curang saat sudut pandang Venny sebagai “Aisyah dewasa” ikut campur dalam cerpen itu, tapi segera termaafkan oleh kalimat di paragraf-paragraf akhir “Abah tak bercerita tentang ini, tapi kali ini aku yang bercerita pada siapa saja yang membaca cerita ini.”

Kemampuan untuk memancarkan estetika dalam sebuah karya seni, mutlak menjadi prestasi dan menunjukan tingkatan maqom si pembuat karya seni tersebut. Sepertinya Venny hampir saja melakukannya. Meski penulis sendiri sempat “oleng” oleh pancaran estetika itu, namun masih ada hijab yang terdapat di satu kalimat yang agaknya menutup lancarnya pancaran tersebut. Misalnya di paragraf sebelum paragraf paling akhir Venny menggambarkan tokoh Abah itu sangat apik, memukodimahi seperti ini: “Aku melihat ada bebegig yang berbeda dari apa yang diceritakan abah. Bebegig yang aku saksikan sendiri. Bebegig yang bukan bertulang bambu, bebegig yang terbungkus oleh daging, memiliki wajah dan mata, bahkan bebegig yang mamiliki jari dan kaki sempurna. Ia sama tertanamnya pada lumpur pematang.” Sampai kalimat ini itu baik-baik saja. Namun hijab yang penulis maksud munculnya di kalimat ini: “Bergoyang oleh angin, menunggu padi dari benih hingga menguning.”

Perpaduan waktu yang dibuat Vennymenunggu padi dari benih hingga menguning” dengan waktu yang dibuat Venny sebelumnya “sama tertanamnya pada lumpur pematang” otomatis akan melahirkan tokoh Ayah yang gak pulang-pulang. Bila tokoh Ayah tidak pulang-pulang, lalu siapa Ayah yang bersama Aisyah kecil selama ini? Begitu kira-kira.

Baca juga:  Dan Satriana : Keterbukaan Informasi Hak Setiap Orang

***

Telah lama penulis tidak menikmati cerpen-cerpen semacam Bebegig ini. Saat membaca pertama kali, penulis tidak menyangka ending dari ceritanya akan memuaskan bagi penulis. Sesungguhnya hijab yang ada dalam cerpen ini tidak masalah bagi penulis sendiri, penulis paham dan masih bisa menikmati esensinya. Namun, tetap dalam menulis karya sastra khususnya, kita jangan pernah sekali-kali lengah terhadap hal-hal yang sepele seperti hijab barusan, seperti typo dan persoalan-persoalan EYD lainnya. Semakin kita ketat dalam menulis karya satra, semakin profesional lah, semakin meningkat lah maqom kita, semakin bermakna lah kita menulis.

Sebagai penutup, penulis banyak ucapkan terimakasih kepada mereka yang masih menulis karya sastra dan masih menganggap karya sastra sebagai jalan ataupun hobi serius. Apa yang telah penulis paparkan semata-mata penghormatan kepada mereka-mereka itu. Venny Siti M, Terimakasih.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Akidah Filsafat ,Ushuluddin.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas