Pendidikan dan Budaya

Pria Tak Tamat SD Ini Mengadu Nasib Di kota Kembang

 

[Suakaonline]-Hiruk pikuk suara deru kendaraan di bawah jalan fly over Kiara Condong, Bandung tidak dihiraukan oleh Riyanto. Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah 35 tahun silam ini tetap beraktifitas seperti biasa, mengumpulkan barang bekas yang berhasil ia pungut setiap hari di jalanan Kota Bandung.


Sudah empat tahun ia datang ke Bandung dengan harapan bisa mencarai rezeki yang lebih.  Ia tinggal di kawasan tanah milik PT. Kereta Api (Persero) DAOP 2 Bandung. Riyanto tak sendiri, bersama dua orang yang  tinggal di kawasan itu. Jauh dari kata nyaman, untuk air bersih saja mereka sulit mendapatkannya. Kumuh dan kotor menjadi pemandangan setiap hari yang harus ia rasakan. Belum lagi ancaman penyakit yang bisa setiap saat datang menyerangnya.


“Kalau di sini udah empat tahun, cari barang bekas di sini. Kalau dibilang nyaman, namanya orang jalanan yah nyaman gak nyaman,“ ucap Riyanto, saat diwawancara Minggu, (20/01).


Ketidaknyamanan yang ia rasakan kian bertambah. Pasalnya rumah yang ia tempati baru saja digusur oleh pemerintah setempat.


“Seperti kemarin baru digusur, udah diperingatin barang-barangnya dikeluarin dulu baru tempatnya dibongkar,” papar Riyanto.


Ia sudah memulung barang bekas sejak usia 11 tahun, pria yang tidak tamat SD ini setiap harinya berpenghasilan rata-rata Rp.15.000,- s/d Rp.20.000,- dari hasil memulung. Hasil mengais barang bekas, ia jual ke pengepul yang berada di sekitaran kawasan Kiaracondong. Uang hasil jerih payahnya digunakan untuk menghidupi empat orang anak dan istrinya yang tinggal di kampung.


Suka duka sudah banyak ia rasakan  selama menjadi pemulung di Kota Bandung. “Kalau keluarga datang jenguk ke sini, saya merasa senang. Dukanya, di waktu turun hujan jadi manghambat pekerjaan terus lagi ada razia,” ucap Riyanto.


Mendambakan Pekerjaan yang Layak


Pekerjaan yang lebih layak sebetulnya sangat Riyanto dambakan. Namun, keterbatasan pendidikan dan ijazah yang tidak ia miliki menghambat niat untuk mencari penghidupan yang lebih layak.


“Mungkin kalau dulunya sekolah, udah punya ijazah bisa cari pekerjaan yang layak. Kalau punya ijazah bisa kerja di toko atau di tempat lain,” ungkapnya, sambil merapihkan hasil memulung barang bekas ke dalam karung.


Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah mengenai pemberian dana usaha untuk masyakat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu menurut Riyanto pendidikan menjadi hal yang paling penting untuk masa depan.


“Yang paling penting itu pendidikan, biar nanti bisa cari kerjaan yang layak,” pungkasnya.

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas