Fokus

Potensi Ekonomi yang Lambat Disadari

Dokumen Suaka

Dok. Suaka

Oleh: Restia Aidila Joneva & Ricky Priangga Subastian

SUAKAONLINE.COM – Herman nampak santai menghisap kretek, sesekali tangannya mengusir lalat-lalat yang mencoba hinggap di atas dagangannya. Enam bulan lalu, pria asli Cipadung itu memutuskan berjualan ayam goreng di depan kampus UIN Bandung dengan menggunakan roda.

Demi kebutuhan rumahtangganya terus terpenuhi, Herman tetap berjualan meskipun pembeli sedang sepi. Herman tidak memiliki pekerjaan cadangan, hanya mensiasati porsi dagangannya dikurangi jika kegiatan akademik kampus sedang libur.

“Pengaruh (adanya kampus) gede pisan. Contohnya ya kalo libur jualan otomatis sepi,” ujar Herman (31/12). Jika tidak libur setiap harinya Herman mendapatkan penghasilan sebesar lima puluh ribu rupiah.

Lain halnya dengan Herman, keberadaan UIN Bandung membuka peluang Arfan Efendi menjadi Cleaning Service kampus. Ia tidak memilih usaha yang lebih potensial karena keterbatasan ilmu, pengalaman serta kemampuan. “Pertama, izasah saya izasah SMP. Pengennya mah sih kerja yang enak atau buka usaha,” kata Arfan, (19/12). Namun kesempatannya menjadi Cleaning Service di kampus ia syukuri ketimbang tidak memiliki pekerjaan sama sekali.

Arfan mengakui bahwa keberadaan kampus mengubah lingkungan berikut sosial serta ekonomi warga sekitar. Namun pribumi terlambat menyadari akan perubahan tersebut, sehingga mereka lebih memilih menjual tanahnya kepada pendatang. “Kebanyakan pendatang membeli tanah bukan untuk rumah, buat kostan, buat usaha soalnya ini dekat dengan kampus uin pasti strategis,” tambah Arfan. Sehinnga lahan yang asalnya kebun atau persawahan menjadi bangunan.

Salah satu yang melihat peluang dari didirikannya UIN Bandung ialah Asep Aziz, lelaki asal Kuningan tersebut kini menetap di Cipadung sejak 1993. Aziz melihat potensi ekonomi besar dari keberadaan Kampus. “Adanya kampus mengangkat perekonomian warga setempat. Kalau tidak ada kampus tidak ada kost-kostan, Laundry, Fotocopy, dan warung-warung,” ujar pemilik usaha Crepes tersebut.

Bagi Aziz pendatang maupun penduduk asli sekitar kampus tidak bisa dispesialkan dalam dunia persaingan. Maju atau tidaknya usaha ditinjau dari kerja keras, bukan dari di mana ia tinggal. “Nabi bersabda kalau anda ingin maju anda harus berani keluar dari tempat anda,” tegas lelaki yang pernah merambah di dunia usaha bajigur dan bakso itu, Selasa (15/12).

Aziz juga menyadari libur panjang akan berdampak terhadap perekonomiannya. Namun Aziz telah mempersiapkan usaha sampingan di luar kampus. Meski tidak sebesar penghasilan dari usaha crepesnya, namun cukup untuk menutupi pengeluaran ketika mahasiswa tengah liburan.

Berdiri tahun 1955, UIN Bandung berdampak besar bagi perekonomian warga sekitar. Sayangnya penduduk asli di sekitar UIN Bandung tidak menyadari potensi keberadaan kampus di tengah-tengah mereka. Pola pikir warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan bergelut dengan dunia agraris, tidak siap menyambut potensi besar dari hadirnya kampus hijau tersebut.

Akibatnya potensi-potensi usaha non agraris kebanyakan digenggam oleh pendatang. Sedangkan penduduk asli memilih menjual tanahnya ketimbang mengelola sendiri. Kini Cipadung dipenuhi bangunan yang diperuntukan sebagai kost, warung nasi, fotocopy, bahkan mini market yang mayoritas dimiliki oleh pendatang.

“Tanah warga Cipadung asli mungkin hanya tinggal beberapa persen lagi. Tanah-tanahnya dijual sama orang-orang yang punya modal dan punya duit,” ujar salah satu tokoh maysrakat Cipadung, Ella Nurlaela Tombah.

Perempuan lulusan Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya tersebut mengakui bahwa kampus memberi sumbangsih yang signifikan bagi masyarakat sekitar, terutama ekonomi. Sayangnya sumbangsih itu tidak diimbangi dengan pendidikan untuk mempersiapkan perubahan yang terjadi di masyarakat .

Salah satu masalah yang terbilang klasik ialah masyarakat diiming-imingi uang dengan jumlah yang banyak untuk menyerahkan tanahnya. Tidak hanya uang, masyarakat pun diberi pemahaman atas nama pembangunan perekonomian rakyat. Tanah persawahan pun berganti menjadi pusat pendidikan tinggi, serta memicu perubahan disekitarnya.

“Warga setempat tidak disiapkan untuk menghadapi era ekonomi  bukan agreris. Tidak ada edukasi kepada warga sekitar bahwa dengan berdirinya kampus maka akan muncul potensi-potensi ekonomi lain,” tambah aktivis Komunitas Sekolah Perempuan itu, Sabtu (14/11). Akhirnya masyarakat lebih memilih menjual tanahnya ketimbang mengelola sendiri.

Di tengah ketidaksiapan tersebut, masyarakat lain dari luar daerah sekitar kampus yang mengetahui adanya peluang besar berdatangan dan membeli tanah-tanah warga sekitar kampus. Masyarakat asli baru menyadari keterlambatan mereka dalam mengelola sumber daya yang ada. Pada akhirnya, menurut Ella masyarakat hanya menjadi de javu, mengenang masa kejayaannya dan meratapi bahwa dulu tanah tersebut merupakan tanahnya.

SebelumnyaSelanjutnya

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas