Pendidikan dan Budaya

Kopma, Gerakan Alternatif Bangun Kembali Budaya Koperasi

[suakaonline]- Gerakan Koperasi Mahasiswa (Kopma), diharapkan dapat mengembalikan jati diri koperasi yang sebenarnya. Dimulai dengan memahami jatidiri, sejarah pemikiran koperasi, dan filosofi dari koperasi itu sendiri. Kopma dapat menjadi sebuah gerakan alternatif untuk terwujudnya ekonomi kerakyatan melalui koperasi, apabila para aktivis Kopma menyadari dan memahami hal-hal tersebut dan mau mempraktikannya.

 

Hal tersebut diutarakan oleh Suroto Ketua Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia (LSP2I), ia pun menyimpulkan bahwa Kopma sekarang telah tercerabut dari akar sosialnya. “Kopma harus merombak paradigma bahwa kopma tidak hanya sebagai lembaga aktualisasi diri untuk belajar kewirausahaan dan mengabdi di sektor kapitalis kemudian, tapi Kopma merupakan agen perubahan sosial untuk mengganti sistem yang kapitalis,” ujarnya kepada Suaka melalui surat elektronik, (9/2).

 

Ia menambahkan bahwa apabila Kopma tidak keluar dari perangkap kuno sebagai koperasi fungsional dan enggan mentranformasi diri menjadi gerakan koperasi yang inklusif dan membuka keanggotaan bagi semua orang, Kopma adalah juga hanya akan jadi masalah. Dan menjadi alasan mengapa koperasi di Indonesia ini kerdil dan tidak berkembang ; menjadi lawan tanding yang seimbang seperti yang ada di negara-negara lain.

 

“Kopma saat ini lupa diri dan hanya sebagai lembaga aktualisasi saja saya melihatnya. Bukan sebagai agen perubahan sosial untuk merubah sistem yang kapitalis. Kita harus paham cita-cita koperasi dan mau mempraktekkan kehidupan perkoperasian dalam keseharian kita kalau mau besar,” Suroto menambahkan.

 

Senada dengan Suroto, Tolka Badrus Deputi Menteri Koperasi dan UKM Bidang Sosialisasi Kewirausahaan, mengatakan bahwa selama ini kopma tidak berkembang dikarenakan aktivis Kopma belum memiliki kemampuan yang mumpuni tentang koperasi. “Mungkin yang mereka cari hanya keuntungan semata, juga faktor lainnya adalah masalah internal dari kampusnya masing-masing. Maksud disini kan tidak semua kampus mendukung dan berusaha memajukan kopmanya,” ujar Tolka.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas