Kampusiana

Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama

(Dari kiri) kepala Departemen Dakwah dan Pembinaan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat; Ajid Tohir, Akademsi Adab dan Humaniora; Setia Gumilar, Moderator; Fadly, Peneliti dan Penggiat Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jakatarub); Wawan Gunawan Saat menyampaikan materi dalam Seminar Sehari di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung, Senin (28/3/2016). (Puji Fauziah/Magang)

(Dari kiri) Kepala Departemen Dakwah dan Pembinaan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat; Ajid Tohir, Akademsi Adab dan Humaniora; Setia Gumilar, Moderator; Fadly, Peneliti dan Penggiat Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jakatarub); Wawan Gunawan Saat menyampaikan materi dalam Seminar Sehari di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung, Senin (28/3/2016). (Puji Fauziah/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Munculnya Islamic State Of Iran and Sham/Syria (ISIS) atau dalam bahasa Arabnya al-Daulah al-Islamiyah fi Iraq wa al-Syam (Daisy) adalah gerakan ekstremis yang mengatasnamakan Islam. Hal ini disampaikan kepala Departemen Dakwah dan Pembinaan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Ajid Tohir dalam Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung ,di Aula fakultas, Senin (28/3/2016).

Degan tema seminar “Mengantisipasi ISIS, Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama”,  Ajid menjelaskan mengenai dampak yang disebabkan atas munculnya ISIS terhadap eksistensi agama islam. “Dampaknya, wajah Islam tampak hanya kemarahan dan kebiadaban. Di Indonesia, individu-individu nyang berperan dalam mewujudkan visi global ISIS adalah orang-orang yang tidak mengerti geopolitik Arab, khususnya Iraq dan Suriah,” ujar Ajid.

Selanjutnya, Ajid mengatakan, terlepas dari kontorversial asal-usul ISIS, umat manusia wajib waspada terhadap ideologi apa pun yang mengancam keutuhan umat Islam dan ketentraman umat manusia. Negara ini dibangun di atas pengorbanan para pejuang, termasuk para tokoh agama, juga para santri, dalam melawan segala macam bentuk penjajahan dan pembodohan.

Selain itu, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung, Setia Gumilar menjelaskan, dalam prespektif sosial budaya, lahirnya agama disebabkan oleh ketidakberdayaan manusia dalam menjawab berbagai problem yang dihadapinya. Nalar yang dimilikinya, sudah tidak bisa lagi memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapinya. “Kelahiran agama dimaksudkan untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh setiap manusia,” ujar Setia.

Baca juga:  Wisuda ke 68, Mahmud : Adopsilah Filosofi Rumput

Setia menambahkan, masalah yang berlatar belakang agama antara lain dipicu oleh konflik atau kekerasan antar atau internal umat beragama karena perbedaan keyakinan atau akidah, pendirian tempat ibadah, perebutan tempat ibadah dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu. “Sehingga menimbulkan reaksi atau penolakan serta perlawanan dari kelompok yang lain. Konflik antar dan internal umat beragama masih terjadi di Indonesia,” lanjut Setia.

Selanjutnya, Peneliti dan Penggiat Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama (Jakatarub), Wawan Gunawan menegaskan, bahwa kekerasan sosial seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama apapun yang dianut oleh para pelaku. Kekerasan sosial juga menunjukkan dangkalnya pemahaman para pelaku terhadap ajaran agama dan hancur leburnya ketaatan hukum masyarakat pelaku kerusuhan sosial. Apabila fenomena kekerasan sosial yang berlatarbelakang agama tidak segera diatasi maka akan berdampak negatif terhadap ketahanan nasional yang kahirnya akan berpengaruh pada tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Keberagaman bagi bangsa Indonesia adalah rahmat dan karena itu harus disyukuri sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Namun, jika bangsa indonesia gagal mengelola kebhinekaan itu, maka yang terjadi adalah disintegrasi bangsa. Oleh karenanya seluruh komponen bangsa harus bersatu padu menjaga kebhinekaan itu sebagai kekayaan dan modal dasar dalam pencapaian tujuan nasional,” tutup Wawan.

Reporter : Puji Fauziah / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas