Kampusiana

The Story of Stuff, Kritik Terhadap Ekonomi Kapitalisme

Suasana screening dan diskusi film The Story of Stuff yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Kamis (31/3/2013). Diskusi tersebut diadakan untuk menarik antusias dan meningkatkan daya kritis mahasiswa. (Akbar Gunawan / Magang)

Suasana screening dan diskusi film The Story of Stuff yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Kamis (31/3/2013). Diskusi tersebut diadakan untuk menarik antusias dan meningkatkan daya kritis mahasiswa. (Akbar Gunawan / Magang)

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi mengadakan screening dan diskusi film dokumenter berjudul The Story of Stuff, di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi (FISIP), Kamis (31/3/2016).  Film tersebut membongkar alur ekonomi barang dalam sistem kapitalisme dan mengungkap bahwa barang yang selama ini digunakan berasal darimana, siapa saja yang dirugikan dan harga barang yang sebenarnya, dirangkum dalam animasi yang menarik.

Ketua bidang Pengembangan Intelektual HMJ Sosiologi, Yuris F. Zaidan, mengatakan bahwa diskusi tersebut diadakan untuk menarik antusias dan meningkatkan daya kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiwa kini lebih menyukai menonton film daripada diskusi biasa. “Pemilihan film tersebut karena masih berhubungan dengan produktifitas mahasiwa sehari-hari,” ujar Yuris.

Yuris menjelaskan, film yang digagas oleh aktifis lingkungan hidup Amerika Serikat, Annie Leonard ini, mengkritik bentuk ekonomi kapitalisme hubungan antara pemerintah dan perusahaan. Dimana peran pemerintah yang seharusnya melindungi dan melayani rakyat, justru kalah oleh perusahaan yang mempunyai modal lebih besar. Selain itu, peran media yang mengiklankan produk-produk dari perusahaan-perusahaan tersebut, bisa mempengaruhi masyarakat. Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlebihan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang melebihi kapasitas pun terjadi demi mengejar target produksi.

Selanjutnya, target distribusi dari negara kapitalisme tersebut adalah menjual barang secepat mungkin dengan bertumpu pada dua sektor, yaitu ketersediaan barang dan keterjangkauan harga. Targetnya adalah barang tersebut cepat habis, agar mereka terus memproduksi untuk mendapatkan banyak keuntungan. Ini juga dikarenakan adanya permintaan barang terus menerus yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh konsumen. “Konsumen terus membeli barang tanpa memikirkan aspek eksploitasi alam yang dilakukan oleh instansi tertentu,” lanjut Yuris.

Baca juga:  Wisuda Ke-68 UIN Bandung Luluskan 2806 Wisudawan

Mengomentari isi film tersebut, mantan Ketua bidang Pengembangan Intelektual HMJ Sosiologi tahun 2006, Naufal Arkom mengatakan, perlunya kesadaran dari masyarakat atas gaya hidup dan mengurangi konsumsi yang berlebihan. “Perlu juga adanya kesadaran untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan baik, dan memperjuangkan hak buruh serta perdagangan yang adil,” ujarnya.

Selain itu, bahan-bahan produksi yang digunakan, kebanyakan mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan pekerja dan konsumen. Bahan produksi yang berasal dari bahan alami dicampur dengan beberapa zat kimia. Bahan produksi tersebut berasal dari negara berkembang yang alamnya dieksploitasi habis dengan ini tentunya akan mengakibatkan disfungsi keseimbangan alam.

Selanjutnya, salah satu alumni UIN SGD Bandung sekaligus pemateri diskusi, Hafidz Azhar mengatakan bahwa film tersebut menimbulkan rasa pesimis. Karena masyarakat dikuasai oleh mesin dan tidak akan terlepas dari mesin dan alam yang semakin tidak terawat. Ia juga mengatakan adanya budaya konsumtif yang buruk dan cara berpikir masyarakat yang instan. “Ibaratnya pacar kedua, contohnya dari pagi sampe malem selalu megang handphone,” kata Hafidz.

Menurutnya, budaya kapitalisme menimbulkan cara berpikir instan pada masyarakat, karena salah memanfaatkan tekhnologi. Misalnya, plagiarisme mahasiswa dalam mengerjakan tugas, tinggal copas dari internet. “Coba bedakan dengan yang baca buku dan menggunakan akalnya,” tutup Hafidzh.

Reporter : Akbar Gunawan / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas