Kampusiana

Hypnoselling, Perpaduan Hipnotis Dan Penjualan

Internet Marketer, Trainer, Psychotherapist, Founder psikopedia, Ridwan Hasan saat menyampaikan materi mengenai Hypnoselling dalam mini seminar dan workshop yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Inkubasi Kewirausahaan Mahasiswa (LIKM) UIN SGD Bandung, di Aula Perpustakaan, Sabtu (2/4/2016). (Hasna Salma / Magang)

Internet Marketer, Trainer, Psychotherapist, Founder psikopedia, Ridwan Hasan saat menyampaikan materi mengenai Hypnoselling dalam mini seminar dan workshop yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Inkubasi Kewirausahaan Mahasiswa (LIKM) UIN SGD Bandung, di Aula Perpustakaan, Sabtu (2/4/2016). (Hasna Salma / Magang)

SUAKAONLINE.COM — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Inkubasi Kewirausahaan Mahasiswa (LIKM), mengadakan mini seminar dan workshop di Aula Perpustakaan UIN SGD Bandung, Sabtu (2/4/2016). Dengan tema “Reaktualisasi Nilai-Nilai Berbisnis Guna Memperoleh Enterpreneur Sejati”, seminar ini menghadirkan Internet Marketer, Trainer, Psychotherapist, dan Founder psikopedia, sekaligus dimisioner UKM LIKM, Ridwan Hasan.

Pada kesempatan ini, Ridwan menyampaikan materi mengenai hypnoselling, yaitu perpaduan dua disiplin ilmu, yaitu hipnotis dan penjualan. Dirinya juga menjelaskan tentang bagaimana caranya menjadikan pembeli sebagai pelanggan.  Selanjutnya, ia juga mengkategorikan empat jenis kesadaran, yaitu beta, alpha, thera dan delta.

Dalam penjelasanya, Beta adalah mengkategorikan seseorang itu sadar sepenuhnya. Kemudian Alpha adalah posisi seseorang yang berada dibawah sadar, Thera merupakan kondisi seseorang yang sangat sugestif atau mudah dipengaruhi, dan Delta adalah kondisi seseorang dalam keadaan tertidur atau tidak sadar.

Lebih spesifik, Ridwan juga mengkategorikan tingkat kesulitan mempengaruhi seseorang dalam tiga kategori yaitu sulit, moderat, dan mudah, dengan menggunakan metode psikis.“Jadi kita bisa liat seseorang itu sulit, moderat atau mudah dari gerakan matanya, jika matanya ke atas maka dia digolongkan sulit, jika saat berbicara gerakan matanya samping ketengah itu moderat dan jika kebawah itu dikatan mudah.  Namun presentasenya Sulit 10%, Moderat 80% dan mudan 10%,” kata Ridwan.

Selanjutnya, Ridwan mengatakan bahwa, ada kondisi dimana saat klien itu terpengaruhi, kondisi ini disebut dengan Trance Hypnotism. Hal ini dibagi kedalam tiga kategori, yaitu pengantar pesan, penerima pesan dan apa yang disampaikan. Cara membuat pembeli menjadi pelanggan berkaitan dengan hal ini, karena untuk membuat pembeli tertarik itu tergantung kepada cara  kita menyampaikan pesan dan kondisi penerimanya.

Baca juga:  Bawaslu Ajak Mahasiswa Sukseskan Pemilu

“Sebelum masuk ke proses hypnoselling sebaiknya kita lebih dulu membangun keakraban dengan calon pembeli, kemudian penggunaan bahasa pun sangat berpengaruh untuk mensugesti seseorang,” ujar Ridwan.

Setelah tahap itu barulah masuk pada tahap Hypno Communication, yang dimana dalam tahap ini terdapat Pacing (mendengarkan) dan Leading (menggiring/mengarahkan). Sebagai penjual, ada baiknya kita mendengarkan keinginan pelanggan, baik dengan kata-kata ataupun anggukan. Dari situ, maka akan didapatkan kenyamanan dan terbangun sebuah hubungan antara pembeli dan penjual. “Barulah beranjak pada tahap Leading yang dimana pembeli digiring dan diarahkan untuk membeli,” tutup Ridwan.

Reporter : Hasna Salma / Magang

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas