Kampusiana

Kemiskinan Dora Sebagai Manusia Jero Botol

Dora adalah gambaran dari kekayaan, kemewahan, sekaligus kemiskinan. Teater Awal Bandung menampilkan teater Manusia dalam Botol menggunakan bahasa Sunda, Senin (11/4/2016) di Gedung Abjan Soelaeman UIN SGD Bandung. (Elya Rhafsanzani/ Magang)

Dora adalah gambaran dari kekayaan, kemewahan, sekaligus kemiskinan. Teater Awal Bandung menampilkan teater Manusia dalam Botol menggunakan bahasa Sunda, Senin (11/4/2016) di Gedung Abjan Soelaeman UIN SGD Bandung. (Elya Rhafsanzani/ Magang)

SUAKAONLINE.COM, — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal UIN SGD Bandung menampilkan naskah teater Manusia dalam Botol karya Yusef Muldiayana dalam bahasa Sunda, Senin (11/4/2016) di Gedung Abjan Soelaeman. Disutradarai oleh Yayan Katho, Manusia Jero Botol mampu menyajikan suasana surealis dan realisnya yang dipadukan dengan nyanyian dan tarian.

Dora adalah gambaran dari kekayaan, kemewahan, sekaligus kemiskinan. Ia hidup dengan segala kebutuhan yang berkecukupan. Apapun yang ia inginkan, pasti terpenuhi. Kecuali kebebasan. Ibu Dora (Mamih), dengan sifatnya yang overprotektif terhadap Dora, membuat Dora tertekan. Mamih selalu melarang Dora bergaul dengan orang lain, bahkan keluar rumah pun tak boleh.

Ia tumbuh menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang jago beladiri, atau mungkin seharusnya menjadi gadis periang. Ia hobi mengoleksi benda-benda unik seperti botol. Koleksi botol yang banyak. Botol-botol itu telah menjadi temannya untuk mengobrol, curhat, pacaran, hingga bercumbu.

Setiap botol memiliki nama seperti Markus Horison, Elvis Presley, dan Cat Women. Selain botol, Dora juga memiliki koleksi bunga yang setiap harinya disiram dengan darah hewan yang berbeda. Yayan Kato mengatakan disinilah letak keunikan cerita ini. Karena imajinasi yang dihasilkan oleh Dora ini menarik. Situasi ini membuat kejiwaan Dora sedikit terganggu.

“Eh kamu siapa? Kenapa bisa ada dikamar saya? Sudah berapa lama kamu disini? Kenapa enggak ketok pintu dulu?” ujar Dora kaget melihat sosok pria yang tiba-tiba berada di kamarnya.

“Saya Mardi neng, sudah satu jam saya disini. Saya dirusuh nganterin camilan dan minum oleh ibu, buat neng Dora,” ucap Mardi ketakutan sambil membawa nampan berisi camilan. “Ini mau saya simpen dimana neng nampannya?” tambah Mardi.

Baca juga:  Bawaslu Ajak Mahasiswa Sukseskan Pemilu

“Enggak usah disimpen pegang aja sama kamu, kamu diem disitu sambil pegangin nampan yah!” jawab Dora pada pembantu rumah tangga baru itu.

Mardi hanya diam memperhatikan majikan mudanya berlatih beladiri. Tak lama keduanya mulai akrab dan bercengkrama. Dora merasa memiliki teman dirumah itu karena Mardi begitu mengerti akan dirinya. Hingga Dora pun bercerita tentang pengekangan Mamih kepadanya.

“Mardi, aku merasa begitu tersiksa hidup dirumah ini. Jangankan sahabat, temanpun aku tidak punya. Setiap apa yang aku inginkan itu harus sesuai dengan kehendak Mamih, teman seperti apa, penampilan apa yang aku pakai, hingga pakaian yang ingin aku kenakanpun itu harus sesuai dengan keinginannya. Aku pun tidak pernah tau rasanya mencintai ataupun dicintai seseorang. Apa kamu pernah merasakan apa itu cinta Mardi?”

“Ya saya pernah merasakannya,” jawab Mardi singkat.

“Baguslah setidaknya kamu pernah merasakannya, tidak seperti aku yang tidak tau rasanya menerima dan memberi,” sambung Dora. Keduanya kian akrab. Dora juga menceritakan kisah botol-botolnya kepada Mardi. Namun, akhirnya Mardi pun pergi.

***

Suatu malam saat Dora tengah asyik bercengkrama dengan botol-botolnya, Mamih menghampirinya. Mamih mengajak anak semata wayangnya keluar menikmati udara segar. “Dora besok kamu anter Mamih ya, ada diskon barang-barang elektronik loh. Kamu harus anter Mamih besok,” ucap Mamih.

“Enggak ah males, Mamih aja. Kenapa harus ada aku, Mamih kan bisa pergi sendiri tanpa aku. Lagian aku juga mau pergi sendiri tanpa Mamih, dan lakuin apapun yang aku mau tanpa Mamih” jawab Dora ketus.

“Kamu tau kan Mamih itu tidak bisa hidup tanpa kamu, Mamih mau lakuin apapun sama kamu. Mamih juga enggak bisa hidup tanpa kamu.” tambah Mamih.

“Emangnya aku bakal selamanya hidup sama Mamih, jadi kalau Mamih meninggal aku juga harus ngikutin Mamih meninggal gitu, iya?” Dora setengah berteriak.

Baca juga:  UKM Fokus Unpad Gelar Pameran Foto Pasar Tradisional

Namun tetap saja apapun keinginan Dora tidak mendapat respon apapun dari ibunya. Mamih tetap bersikeras tidak mengizinkan Dora untuk pergi sendirian kemanapun.

***

Kian dewasa, Dora pun tak kunjung mendapatkan yang ia inginkan. Kini tokoh-tokoh botol dalam khayalan Dora menjadi nyata. Ada Elvis Presley, Bruce Lee, Penari, Anak punk, dan Cat Women. Semua tokoh menyuruh Dora untuk keluar dari penderitaanya.

“Dora kamu harus coba keluar dari rumah, kamu bisa keluar melalui jendela itu Dora,” ujar Cat Women.

“Nanti aku jatuh, jendela ini terlalu tinggi. Lagian nanti ketahuan Mamih,” jawab Dora

“Ya, kamu kan bisa pegangan agar tidak jatuh Dora,” Anak punk juga membujuk Dora.

“Baiklah kalau begitu aku coba,” ujar Dora.

Dora pun pergi meninggalkan penjara megahnya dan menikmati indahnya dunia yang selama ini ia inginkan. Namun, Mamih segera mengetahuinya. Mamih menunggu putri kesayangannya hingga pulang. Dora tiba di rumah bersama seorang pria asing.

“Dora dari mana kamu? Itu pulang bareng siapa? Kamu hujan-hujanan juga, cepat ganti baju dan basuh badan kamu dengan air hangat. Cepat!”Mamih meradang. Tak terima, Dora pun membantah segala tuduhan ibunya seraya bergegas ke kamarnya.

***

Adalah Koboy pria asing yang kini menjadi teman kencan Dora. Koboy kembali mengunjungi Dora di rumahnya. Banyak hal baru yang dikenalkan Koboy pada Dora. Bersenggama salah satunya.

Koboy membekali Dora dengan sebuah pistol. Dengan alasan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tak disukai Dora.

“Tapi koboy ini buat apa?” Dora heran.

“Ya buat jaga-jaga aja siapa tau Mamih berbuat hal yang tidak kamu inginkan, kamu bisa menggunakan ini pada Mamih,” Koboy tersenyum sinis. Malam itu Dora dan Koboy sibuk di dalam kamar.

Kasihan Dora, ia tak tahu siapa Koboy sebenarnya. Koboy sudah memiliki banyak istri yang tak terhitung. Ia memanfaatkan Dora, karena Koboy hanya ingin memilki kekayaan Mamih. Koboy tahu kalau Mamih seorang janda kaya.

Baca juga:  FSH Juarai Kompetisi Futsal Tingkat Provinsi

Esok harinya gadis berambut sebahu itu kembali menyelinap pergi bersama pria pujaannya. Lagi, Mamih mengetahuinya. Merasa khawatir sambil menangis dan berdoa berharap anak gadisnya pulang selamat.

“Dadah koboy, sampai ketemu lagi,” dari luar rumah terdengar suara percakapan antara Dora dan seorang pria. Sontak, Mamih kaget melihat anaknya pulang dalam keadaan mabuk.

“Dora kamu darimana saja, kenapa kamu pulang dalam keadaan mabuk seperti ini,” Mamih marah.

“Aduh mamih aku enggak mabuk, tadi itu aku habis liat indahnya dunia. Pokonya seru banget, indah banget,” ujar Dora sempoyongan.

Bibi asisten rumah tangga memastikan. “Ibu si neng Dora th mabuk, mulutnya juga bau alkohol,” ujarnya. Seketika Dora pun marah. Lepas kontrol, Mamih menampar pipi anaknya. Dora pun menampar balik Mamih.

“Dasar anak pelacur, anak setan,” maki Mamih dengan nada tinggi.

“Kalau aku anak pelacur berarti Mamih pelacurnya, kalau aku anak setan berarti Mamih setannya,” balas Dora.

Mamih berkata akan memusnahkan anaknya tersebut. Dora teringat pistol yang diberikan Koboy. Tak pikir panjang Dora melepaskan pelatuk pistolnya kepada Mamih dan Bibi.

Merasa frustasi,  Mamih pergi meninggalkannya. Dora membuang koleksi botolnya karena saat ini ia sudah merasa bebas dan tak ada yang akan mengatur hidupnya. Namun, Dora harus menerima hukuman atas perbuatannya.

 

*Sebelumnya di rumah Dora, sebelum Dora tiba

Di tengah penantiannya, tidak sengaja Mamih bergumam menceritakan kisah kecil anak gadisnya. Bibi yang tak sengaja mendengar perkataan Mamih sontak bertanya.

“Ibu yang tadi ibu bilang itu maksudnya? Saya tidak mengerti.” Tanyanya.

“Sebenarnya Dora itu anak angkat saya, setelah menikah dengan suami saya. Selama 8 tahun kami tidak dikaruniai seorang anakpun, hingga akhirnya kami mengadopsi Dora saat berusia 6 bulan. Tapi kamu harus merahasiakan hal ini dari Dora ya?” kata Mamih.

“Siap ibu, kapan saya buka rahsia ibu. Saya bisa jaga rahasia, tenang saja,” Bibi berjanji.

 

Reporter: Hasna Salma/ Magang

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas