Kampusiana

Madegel, Manusia Baik di Hadapan Tuhan

Dari kanan, Adang Bima (Ilyas 'Mate' Nurwansyah) bersama anak buahnya mempersiapkan pertarungan mereka dengan musuh komplotan preman Kalajengking dalam pemetasan teater Madegel, Selasa (12/4/2016) di Gedung Abjan Soelaeman UIN SGD Bandung. Madegel garapan Teater Awal Bandung menjadi pementasan studi panggung pertama Teater Awal angkatan 28. (Puji Fauziyah/ Magang)

Dari kanan, Adang Bima (Ilyas ‘Mate’ Nurwansyah) bersama anak buahnya mempersiapkan pertarungan mereka dengan musuh komplotan preman Kalajengking dalam pemetasan teater Madegel, Selasa (12/4/2016) di Gedung Abjan Soelaeman UIN SGD Bandung. Madegel garapan Teater Awal Bandung menjadi pementasan studi panggung pertama Teater Awal angkatan 28. (Puji Fauziyah/ Magang)

SUAKAONLINE.COM – Usai sukses melaksanakan pemetasan teater Manusia Jero Botol (11/4/2016), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal Bandung kembali menggelar pemetasan bertajuk Masa Depan Gelap (Madegel), Selasa (12/4/2016). Pementasan Studi Panggung ini menjadi lahan semai pertama Teater Awal angkatan 28.

Cerita yang disutradarai Wildan Galih Wibawa (Mejun) ini mengisahkan dua komplotan preman, Madegel dan Kalajengking yang memperebutkan suatu wilayah. Madegel dipimpin sosok yang gagah berani dan berwibawa Adang Bima (Ilyas Mate). Sementara Kalajengking dipimpin Kala (Muzzakir Huut).

Tabuhan drum mengiringi perkelahian antara Madegal dengan Kalajengking menjadi pembuka pentas. Kedua komplotan ini menjadi musuh bebuyutan. Pertarungan tak akan henti sampai salah satunya menjadi penguasa.

Di markas Madegel, seketika datang dua orang anak buah Bima. Gaduh membawa seseorang berlumur darah. Korban ialah klien Madegel. Tak salah lagi, ini perbuatan Kalajengking. Tanpa berpikir panjang, Bima menyuruh anak buahnya untuk menyampaikan pesan perang guna mengakhiri permusuhan ini.

Dini hari di persimpangan jalan, kedua komplotan bertemu. Sebelum bertarung, mereka membuat kesepakatan bertarung tanpa menggunakan senjata. Tak ingin mengorbankan anak buahnya, Adang Bima mengajak Kala berduel.

“Amat kamu jangan pergi. Tunggu disini, jadilah saksi, kita harus mengangkat pimpinan wilayah baru,” ujar Adang Bima kepada anak buahnya.

Pertarungan dimenangkan Bima. Kala terbujur kaku di atas aspal sebelum anak buahnya membopong Kala pergi. Salah satu anak buah Kala, Ateng Gada (Saeful Calung) kembali ke medan pertarungan. Ia meminta izin kepada Bima untuk membawa senjata-senjata Kalajengking. Bima mengizinkan.

Baca juga:  FSH Juarai Kompetisi Futsal Tingkat Provinsi

Namun terkadang serigala berbulu domba. Ketika Bima membelakangi Ateng, sontak senjata milik Ateng mendarat di kepala Bima dengan kerasnya. Bima tersungkur. Anak buah Bima kaget hingga tak berbuat apa-apa. Mereka bergerak setelah Ateng melarikan diri. Bima memerintahkan semua anak buahnya mengejar Kalajengking dan membiarkannya.

Bima yang tergeletak, ditemukan rombongan warga yang sedang takbiran. Tiga hari kemudian, Ia siuman dan amnesia. Bima dirawat keluarga Haji Suyaman (Farras Debo). Bima diislamkan dan diangkat sebagai anak. Muhajir, nama baru yang diberikan Haji Suyaman kepada Bima. Bima (Muhajir) yang awalnya preman kini menjadi muslim taat dan dekat dengan Al-Quran.

***

Satu tahun Muhajir tinggal bersama Haji Suyaman. Muhajir sangat menghormati dan memandang baik ayah angkatnya. Namun selama itu pula Muhajir mengetahui buruknya akhlak sang haji. Suyaman hanya lah  orang yang gila harta dan wanita.

Muhajir tidak percaya ada orang yang seperti itu. Nasihat selalu Muhajir layangkan kepada Suyaman, namun tak sedikit pun Suyaman mendengarkannya. Suyaman menganggap Muhajir tak tahu terimakasih.

Suatu malam, Muhajir keluar rumah dengan pembantu di rumah, Mang Awon (Dian Beng Beng). Mereka berbincang sepanjang jalan. Perbincangan terhenti ketika datang seseorang yang mengaku suruhan anak Haji Suyaman, Rukmi (Melly Memew). Ia menyampaikan pesan dari Rukmi meminta Muhajir untuk menunggu di jalan itu sendirian.

Alih-alih yang ditunggu Rukmi, malah datang sekelompok orang asing kemudian menghajar Muhajir dan meninggalkannya. Muhajir tak melawan. Malam yang sama seperti tahun kemarin. Muhajir terbujur kaku tergeletak di jalanan.

Tak lama terdengar suara orang-orang berbincang mendekati Muhajir. Ada Ning (Dina Bopri), Baun (Khairul adang), Jobin (Ariyanto Degdeg), Koing (Irfan Aston), dan Amat (Ardi Liang). Ternyata mereka adalah anak buah Adang Bima. Mereka dating berniat untuk memperingati satu tahun hilangnya Bima.

Baca juga:  Pembangunan Rumah Deret Harus Dihentikan

Sepanjang perjalanan mereka bertanya-tanya apakah Bima sudah meninggal. Hanya Ning lah yang tetap yakin Bima masih hidup. Sesampainya di perempatan mereka memastikan letak terakhir kalinya Bima terkapar.

Sambil mencari mereka melihat seseorang tergeletak tepat di tempat Bima hilang. Mereka menghampirinya. Membalikan badannya, sontak mereka kaget melihat apa yang mereka temukan. Bima. Rasa gembira dan haru setelah setahun mereka mencari sang bos.

Muhajir bangun. Ia merasa aneh dengan sarung, baju taqwa, dan kopiyah yang dikenakannya. Segera Muhajir melepaskan semuanya dan menyapa anak buahnya. Adang Bima kembali dengan ketegasan dan kewibawaannya.

“Sebenarnya ini (Madegel) adalah bangsa Indonesia dengan kasus-kasus korupsi yang tak pernah selesai,” ujar Mejun. Ia menambahkan seyogyanya manusia jangan memandang Adang Bima atau Haji Suyaman dari tampilannya saja.

Ilyas ‘Mate’ Nurwansyah, mengatakan Madegel mencerminkan realitas kehidupan sekarang. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang baik dihadapan tuhan,” paparnya. Menilai orang, lanjutnya jangan dari luarnya saja.

“Jika kelakuan tokoh agama itu ccinta dunia, kita tinggal menunggu kehancuran saja. Kemudian menolak lupa. Jadi harus terus diingatkan dengan memunculkan kemunafikan-kemunafikan seperti ini,” ujar Wildan.

Reporter: Nolis Solihah & Puji Fauziah/ Magang

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas