Kampusiana

Rumpi Ririwa Bersama LPIK, “BANDUNG: Lautan Api Menuju Lautan Budaya”

[Suakaonline]-Selasa 26 maret 2013, Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung kembali memeriahkan suasana DPR (Dibawah Pohon Rindang) dengan acara Rumpi Ririwa dalam memperingati hari Bandung Lautan Api yang jatuh pada tanggal 25 Maret.


Diskusi tersebut di hadiri ratusan perserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sekitar dengan menghadirkan pembicara yang kredibel dalam bidang budaya, yaitu Dalang Opik Sunandar Sunarya (dalang dan Budayawan) yang sering nongol di acara Pojok Si Cepot pada salahsatu stasiun TV lokal, dan Ahmad Ghibson Al Bustomi (Filusuf dan Ahli Kebatinan Sunda).


Peristiwa Bandung Lautan Api yang kini diperingati oleh LPIK, disajikan dalam bentuk diskusi interaktif dengan mengupas sejarah Bandung Lautan Api dalam perspektif budaya. Seperti yang dikemukakan oleh Zulfi sebagai ketua OC yang mengatakan alasan untuk mengambil tema Bandung Lautan Api Menuju Lautan Budaya itu dikarenakan pemahaman umum tentang peristiwa sejarah Bandung Lautan Api.


“Kebanyakan kita hanya memahami melalui tulisan-tulisan sejarah tanpa merefleksi ulang. Melainkan bahwa jika kita pahami kembali dari buah persitiwa Bandung Lautan Api adalah dengan membakar semangat masyarakat pribumi dari jajahan kolonialisme,” ujarnya, Selasa (26/03).


Tentunya semangat tersebut muncul dari kultur-kultur yang terbangun pada masa itu. Bagaimana tidak, masyarakat Bandung dengan alat yang sekedarnya buktinya bisa mengalahkan penjajah dengan siasat yang mereka lakukan.


“Hal ini membuktikan bukan hanya bara api dalam bentuk materilnya, melainkan pula dalam wujud imateril yang tertanam pada jiwa-jiwa masyarakat Bandung sendiri,” kata Zulfi menambahkan.


Selain itu, tema tersebut mengacu pada budaya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ketua umum LPIK bahwasannya lautan api menjadi lautan budaya merupakan rekontruksi dari peristiwa sejarah menuju realita budaya, khususnya pada masa sekarang. Bandung dikenal sebagai kota yang memiliki ragam budaya, dimulai dari budaya tradisional kemudian sampai pada budaya modern. Hal itu melekat bukan hanya pada manusianya, melainkan pula pada struktur bangunan-bangunan yang ada.


Pada diskusi yang diisi oleh pembicara pertama, Ki Dalang Opik dengan cawokahnya menghadirkan Si Cepot ditengah diskusi. Paparan peristiwa Bandung Lautan Api digambarkan dalam bentuk cerita lucu melalui wayang golek yang cukup menghibur bagi para peserta, sehingga hal itu mengundang hadir dari berbagai kalangan untuk menyaksikan candaan Si Cepot dan kawan-kawan.


Inti dari cerita tersebut Ki Dalang Opik menggambarkan, jika zaman dulu kitika peristiwa Bandung Lautan Api bahwasannya indonesia di jajah dalam bentuk fisik, akan tapi sekarang Bandung kembali di jajah dalam bentuk sistem. Lebih parahnya lagi, sistem ini telah membentuk ideologi-ideologi di masyarakat Bandung.


Dengan hadirnya budaya dan produk asing, kita malah lupa dengan budaya sendiri yang jelas-jelas kita lahir dari budaya asal, ujarnya. Disamping itu, disambung oleh pembicara kedua dari ahli kebatinan sunda yyang akrab dipanggil Baba Icon, beliau mengatakan bahwasannya masyarakat Bandung tidak akan berhasil menjadi manusia sempurna seperti dalam ungkapan Iqbal jika hanya menjadi tangtunga
n
.


Karena Bandung akan nanjung jika masyarakat Bandung tidak pundung dan meninggalkan Cikapundung, maka dari itu masyarakat Bandung harus tangtung dan melahirkan eksistensi pada dirinya, begitulah beliau mengatakan dalam bahasa siloka.


Inti dari pembahasan diskusi tersebut adalah menyadarkan kembali bagi para muda-mudi yang berada di Bandung, khususnya kalangan mahasiswa agar dapat bercermin dari peristiwa Bandung Lautan Api. Jika peristiwa tersebut bahwasannya masyarakat bandung telah rela membumihanguskan tempat tinggal dengan membakar rumahnya agar supaya penjajah tidak dapat masuk, maka kini kita harus membakar api dalam bentuk semangat juangnya agar tidak terjajah sistem kapitalis global.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas