Kampusiana

Telusuri Jejak Sastra UIN Bandung Bersama JAS

Dari kiri: moderator diskusi Aras Abdul, sastrawan Cecep Suhaeli, Ahmad Gibson Al-Bustomi, dan Bambang Q-Anees dalam Milangkala pertama Jaringan Anak Sastra (JAS), Selasa (26/4/16) Dibawah Pohon Rindang (DPR) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ketiga pemateri menceritakan jejak sejarah sastra di kampus ini. (Dadan M. Ridwan/ Magang)

Dari kiri: moderator diskusi Aras Abdul Rasyid, sastrawan Cecep Suhaeli, Ahmad Gibson Al-Bustomi, dan Bambang Q-Anees dalam Milangkala pertama Jaringan Anak Sastra (JAS), Selasa (26/4/16) Dibawah Pohon Rindang (DPR) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ketiga pemateri menceritakan jejak sejarah sastra di kampus ini. (Dadan M. Ridwan/ Magang)

SUAKAONLINE.COM, — Pada Milangkala pertama Jaringan Anak Sastra (JAS) kita diajak menelusuri jejak sastra UIN SGD Bandung Selasa (26/4/2016) Di bawah Pohon Rindang (DPR). Mulai dari nol hingga perkembangan sastra kampus saat ini.

Hadir dalam acara tersebut tiga penggiat sastra sekaligus pelaku sejarah sastra kampus ini, yakni Cecep Suhaeli, Ahmad Gibson Al-Bustomi, serta Bambang Q-Anees. Masing-masing pembicara menceritakan jejak sejarah perkembangan sastra kampus. Di akhir kisah kita disuguhkan dengan pembacaan pusi dan sajak karya anggota JAS.

Sastrawan yang juga pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal Cecep Suhaeli menceritakan lahirnya sastra di kampus. Dimulai ketika ia menjadi mahasiswa IAIN tahun 1987. Mahasiswa belum mengenal teater melainkan pementasan lagu-lagu pop dan dangdut. “Jika ada seseorang membaca puisi itu menjadi sesuatu yang aneh,” ujar Cecep. Hingga ia berinisiatif mendirikan Teater Awal.

Mula berdirinya Teater Awal itu tidak pernah tampil di publik. Terhitung berapa kali Teater Awal pentas. Peminat pun minim sekali. Teater Awal terpaksa memasukan nuansa komedi agar publik dapat menerimanya. Kini Teater Awal memiliki magnet tersendiri untuk menarik peminatnya. Apresiasi publik pun tinggi. “Walaupun pada awalnya harus bernuansa komedi, namun lama-lama penonton bisa lebih menerima,” kata Cecep.

Kini Teater Awal mampu menyajikan pentas panggung berkualitas. Teater Awal pun memiki gelar prestisius sebagai penampil terbaik Festival Teater Mahasiswa Nasional ke- 7 tahun 2015 lalu. Cecep bangga akan hal itu. “Setingkat Jawa Barat rasanya Teater Awal sudah bisa diperhitungkan,” ujarnya.

Baca juga:  Check – Recheck dan Komparasi, Upaya Tanggulangi Banjir Informasi

Kisah Cecep dilanjutkan Bambang Q-Anees. Pria yang akrab disapa BQ ini mengatakan setelah Teater Awal terbentuk, ia beserta kawan-kawannya mendirikan sebuah komunitas sastra bernama Forum Apa Saja. Kemudian berganti nama menjadi Forum Alternatif Sastra (FAS) yang hingga kini masih eksis.

FAS berdiri oleh lima sampai 10 orang anggota. Mereka sering berkumpul di bawah pohon atau teras rumah. Setiap anggotanya diwajibkan membawa karya sastra apapun pada tiap perkumpulan. “Tidak ada yang mengedit atau menentukan karya siapa yang layak atau tidak layak, yang penting sudah didiskusikan dalam forum, lalu apresiasi karya tersebut dibuat dalam buletin,” ujar BQ.

Ia menganggap FAS bagian penting dalam karirnya. Pengalaman penting ia dapatkan dari FAS dan kegiatan luar kelas kelas lainnya. “Yang penting adalah karya kita, mahasiswa harus memiliki lebih dari nilai dan bukan hanya mengandalkan ijasah,” jelasnya.

Berkarya itu, lanjut BQ membuat kita menjadi ada. Dalam sastra kita dapat menunjukkan perasaan kita, seperti dalam puisi dan sajak. Eksplorasi dan kreatifitas dibutuhkan dalam membuat karya sastra. “Hal terpenting membangun jaringan, itu membuat kita dapat bereksplorasi karya, yang terpenting harus abadi tradisi kesusastraannya,” kata BQ.

Ahmad Gibson Al-Bustomi mulai bercerita. Ia ingat satu kalimat “Jadikanlah benda mati menjadi benda hidup,” ujarnya. Ia mengimplementasikan sastra bak benda mati yang harus dihidupkan. Tahun 1997, di jurusan Akidah Filsafat ia sempat mendirikan komunitas serupa dengan FAS meski tak eksis hingga saat ini.

Sebuah kebanggaan bagi Gibson dengan hadirnya JAS dan eksisnya Teater Awal sampai saat ini. Ia pun menganggap sastra menjadi bagian dari agama. “Sastra dan agama merupakan persoalan hati,” ujar Gibson.

Baca juga:  Pembangunan Rumah Deret Harus Dihentikan

Cecep menambahkan ketika bersastra seseorang sedang berdiaolog dengan hatinya. Cecep menyarankan jika ingin menciptakan sesuatu yang berasal dari hati, “Coba tulislah sebuah sastra maka kehidupan akan enak, komunikasi dan dialog akan berjalan lancar,” tutup Cecep.

Diskusi diakhiri dengan pengumpulan puisi, cerpen, dan sajak oleh panitia. Karya tersebut akan dibukukan dan dibagikan ke dinas, bupati, walikota sekitar Jawa Barat. Tanggal 21 Mei mendatang pun Cecep Suhaeli dkk. akan menggelar workshop Sumbang Puisimu untuk Perbaiki Negerimu, di teras Cikapundung yang akan dihadiri salah satu ulama besar dan sastrawan, Mustofa Bisri (Gusmus).

Reporter: Agung Tri Laksono/ Magang

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas