Kampusiana

Ridwan Kamil: Smart City Itu Kebutuhan

Walikota Kota Bandung Ridwan Kamil tengah menyampaikan materi Bandung Smart City di acara The 4th Conference Information Technology and Service Management (CITSM), Selasa (26/4/2016) di Gedung Anwar Musaddad UIN SGD Bandung. Dalam kesempatan ini Ridwan Kamil memaparkan pentingnya Bandung Smart City sebagai reformasi Kota Bandung. (Gisna Maulida/ Magang)

Walikota Kota Bandung Ridwan Kamil tengah menyampaikan materi Bandung Smart City di acara The 4th Conference Information Technology and Service Management (CITSM), Selasa (26/4/2016) di Gedung Anwar Musaddad UIN SGD Bandung. Dalam kesempatan ini Ridwan Kamil memaparkan pentingnya Bandung Smart City sebagai reformasi Kota Bandung. (Gisna Maulida/ Magang)

SUAKAONLINE.COM, — Teknologi di zaman modern ini telah menjadi kebutuhan. Karena perkembangan teknologi ini mampu mempermudah kehidupan manusia. Bandung Smart City sebagai salah satu penerapannya. Pengimplementasian ini sebagai reformasi birokrasi kota Bandung.

Hal ini disampaikan walikota Kota Bandung Ridwan Kamil saat mengisi opening speech International Conference on Information Technology for Cyber and IT Service Management (CITSM) keempat, Selasa (26/4/2016) di Gedung Anwar Musadad UIN SGD Bandung.

“Teknologi adalah kebutuhan. Hari ini kita hidup dimudahkan oleh teknologi. Saya mereformasi birokrasi dan merevolusi pelayanan publik dengan menggunakan 300 software untuk mengatur kota Bandung. Smart City Concept in Bandung sebagai reformasi birokrasi,” ujar Ridwan Kamil.

Emil mengklaim Smart City mampu mengatasi permasalahan-permasalah administrasi dan pengawasan di Kota Bandung. Seperti pelayanan manual yang lambat, korupsi, tidak transparan, costly serta sistem top down.

Dengan Smart City, pelayan manual akan diganti dengan pelayanan berbasis teknologi hingga pelayanan dapat lebih efisien dan cepat. Pelayanan publik yang bersifat online juga dapat mengubah pemerintahan menjadi lebih terbuka dan bersih. Pemaparan di atas merupakan cerminan dari tujuan utama smart city yaitu untuk mengontrol birokrasi kota Bandung.

Selain itu, Smart City juga berfungsi mengobservasi CCTV kota, data-data dari internet, data-data dari luar lainnya yang berguna dalam pengambilan keputusan. Kemudahan komunikasi juga menjadi target. Dengan Smart City komunikasi antara pemerintahan dan masyarakat menjadi lebih mudah, salah satunya dengan media sosial.

Baca juga:  Pembangunan Rumah Deret Harus Dihentikan

Perubahan kultur ini telah Emil terapkan. Ia mengaku dirinya kini tidak menerima laporan berbentuk tulisan, ia hanya menerima laporan visual. “Saya hanya menerima laporan visual saja, supaya tidak dibohongin. Karena dulu saya sering dibohongin,” jelasnya.

Hadirnya Smart City juga mampu mengatasi lebih dari 80 persen keluhan masyarakat dari berbagai tempat. “Setiap bulannya saya merekap Dinas mana saja yang mendapat banyak keluhan, saya evaluasi. Juga Dinas mana yang mendapat sedikit keluhan atau nihil saya beri apresiasi,” ungkap walikota jebolan ITB itu.

Setidaknya ada dua prestasi yang diraih Kota Bandung setelah menerapkan konsep Smart City selama kurang lebih dua tahun. Antara lain, Kota Bandung memuncaki peringkat pertama untuk kinerja pemerintahan kota tahun 2016, yang sebelumnya menduduki urutan ke-200 dari 500 pada tahun 2013 dan peringkat kedua nasional untuk pelayanan publik.

Kegiatan yang diselenggaran jurusan Teknik Informatika UIN SGD Bandung dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga dihadiri oleh Ismail Khalil (Johannes Kepler University Linz, Austria), Teddy Mantoro (USBI Sampoerna University), dan direktur konsultasi Asia untuk Quint Wellington Redwood, Michiel De Boer (ITILExpert, PRINCE 2).

Reporter: Ayu Isnaini & Gisna Maulida/ Magang

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas