Opini

Mahasiswa Dalam Kancah Dakwah dan Politik Kampus

 

Oleh: Fikri Aziz*


Saat ini, saat di mana peran mahasiswa memang sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat dengan taktik perubahan yang dipraktikkannya. Namun terkadang, pembangunan yang dilakukan dengan cara atau taktik tertentu seringkali jarang membuahkan hasil maksimal seperti apa yang sebelumnya diharapkan.


Cita-cita berbakti pada masyarakat dan merealisasikan pemahaman di perkuliahan menjadi hambar untuk diperbincangan di kalangan mahasiswa dewasa ini. Terlebih apabila pandangan mahasiswa terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di tengah mereka, malah mereka respon dengan sikap acuh.


Inilah yang menjadikan mahasiswa hari ini tak mampu memberikan gambaran permasalahan dan pemberian solusi tatkala kondisi sosial sedang berada dalam puncak keresahan yang menghawatirkan.


Ini juga yang seharusnya menjadi pertanyaan mendasar, bagaimana mungkin mahasiswa yang dinobatkan sebagai agen perubahan tidak mampu memberikan peranan lebih sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya?


Apalagi jika melihat latarbelakang mahasiswa UIN SGD Bandung, banyak yang sebelumnya mengkaji islam di pesantren, aliyah, SMA dan sebagainya. Apa itu semua belumlah cukup? Tentu bagi masyarakat awam hal seperti itu mereka yakini sudah memadai mahasiswa menjadi pembangun masyarakat dengan kepribadian yang dimilikinya.


Namun, lagi-lagi masyarakat dipusingkan dengan banyaknya tingkah laku dari mahasiswa yang sama sekali tidak menampakkan ciri dia memiliki kepribadian islam. Tidak mampu memperlihatkan sosok mahasiswa muslim dengan pola pikir dan pola sikapnya yang islami.


Malah beberapa bulan ke belakang sempat beredar kabar bahwa mahasiswi di salah satu Fakultas UIN SGD Bandung yang konsennya memberikan pengarahan kepada masyarakat, menyampaikan syiar islam justru menggambarkan kebalikannya. Merusak dan menebar image negatif di wilayah kampus. Tentu yang demikian harus mendapat perhatian serius dari pihak rektorat, dan jelas bukan main-main. Walaupun kalau kita analisis, permasalahan di atas hanyalah salah satu permasalahan cabang dari ratusan ribu permasalahan yang melanda negeri ini.


Kalaulah begitu, mahasiswa harus mengambil dan memberikan solusi seperti apa agar kondisi rusak seperti ini bisa teratasi? banyak kebingungan tatkala melihat kondisi sosial yang terlanjur rusak akibat penerapan sistem yang ada yaitu demokrasi.


Kembali ke solusi pragmatis jelas tidak mungkin, karena hanya melihat permasalahan dari satu sudut pandang yang dangkal dalam artian tidak secara keseluruhan (inti permasalahan). Apakah harus mengikuti metode lain? Tidak mungkin. Karena seorang muslim sudah memiliki solusi dari semua permasalahan yang membelit yaitu islam dengan menerapkan syariat islam secara kaffah (menyeluruh) melalui daulah khilafah.


Akan tetapi sudah banyakkah mahasiswa muslim memahami dan mendalami solusi islam sang pengobat kerusakan saat ini? Nyatanya tidak. Sudut pandang islam yang seharusnya digunakan terhadap berbagai persoalan individu dan masyarakat di tengah kondisi carut marutnya negeri berpenduduk muslim terbesar malah diabaikan, malah diacuhkan dan justru mengambil sudut pandang lain yang bukan berasal dari sunnah Rasulullah saw.


Akibatnya bisa kita lihat sendiri, sikap dan prilaku mahasiswa abad 21 seperti di UIN SGD Bandung yang konon katanya berlabel islam pun buktinya sangat jauh dari cerminan seorang muslim yang harusnya memakai metode perubahan yakni dakwah dalam perubahannya.


Menyerukan ide-ide islam di ranah kampus dan masyarakat seharusnya sudah menjadi kebiasaan mahasiswa di kampus label islam. Mendakwahkan islam kepada yang lain, saling mengingatkan, menegur, amar makruf nahi munkar sepatutunya menjadi makanan sehari hari agent of change. Namun kenyataan yang meluluhlantakan konsep dan metode yang seharusnya dijalankan.


Kebanyakan aktivitas yang dilakukanpun hanya terpusat pada ranah akademik yang sifatnya individual, pacaran dijadikan kebut
uhan primer, dan terlebih aktivitas yang sama sekali tidak membangun pribadi seorang muslim dengan mengadakan acara-acara non intelektualitas dan politis yang sifatnya hanya hiburan semata.


Padahal kunci sukses dunia akhirat yaitu memahami ide-ide keislaman lalu mengamalkannya, dan ini sebenarnya aktifitas mengurus (siyasah) yang berarti aktifitas politik dalam islam. Mana mungkin mahasiswa akan membuat perubahan yang revolusioner dengan islam melalui gerakan atau harakah apabila mahasiswanya sendiri masih ragu dan tak mau berjuang dengan lisan-lisan yang basah dengan ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi saw.


Perilaku dari setiap anggota gerakan yang semau dengkulnya seringkali dijumpai, sama sekali tidak mencerminkan pribadi seorang muslim yang mengikatkan dirinya dengan aturan islam. Mana mungkin islam bangkit hanya dengan label, mana mungkin umat islam mengaplikasikan aturan islam tanpa sebelumnya memahami dan memahamkannya.


Paradigma terhadap dakwah dan politik seharusnya menjadi dasar, acuan mahasiswa dalam perubahan yang ingin dicapai. Mahasiswa muslim harus berfikir bagaimana cara mengatasi permasalahan dengan sudut pandang dan solusi islam.


Menyuarakan ide islam diranah kampus terlebih di tengah masyarakat. Lalu mengajak dan memberi arahan kepada mahasiswa lain bahwa motode yang baik ialah metode yang sesuai dengan apa yang telah Rasul contohkan yaitu dengan berdakwah, yang bertujuan untuk mengurusi tatanan sosial ke arah yang baik pula.


Jangan sekali-kali melepaskan peran sebagai seorang pembangun, sebagai konstruktor yang diharapkan mampu menata kehidupan yang layak bagi masyarakat. Tentunya dengan aturan dan pemahaman islam yang bersumber dari al-khalik juga rasulnya, Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.


*Penulis adalah Ketua Umum Lembaga Studi Politik Islam (LSPI) UIN SGD Bandung, jurusan Jurnalistik semester IV

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas