Puisi

Gadis Berpayung Hujan #2

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Oleh: Kelvin*

 

Engkaukah itu,

Wahai gadis yang dipersimpang mendung.

Jejakmu meninggalkan gebah dan terpaku keraguan,

Wajah lemas menahan luka

Seolah ruas-ruas dadamu runtuh

Hingga tangis mengundang hujan tempatmu menangis.

 

Wahai gadis berpayung hujan

Seusai hilang tempat berlindung

Akankah hujan membasuh tubuhmu yang berlumuran kegetiran

Sedang ia menjelmai ribuan jarum yang menusuk ke ulu hati,

Atau sekedar menghitung bulu matamu

Basah disimbah dusta

 

Kau masih saja bertanya

Kala kuhantarkan dengan doa

Serta bebunyian seruling ruas-ruas tulang rusukku.

Bukankah seluruh luka telah diasami, sepi telah disunyikan,

Bahkan seluruh bunga telah aku gugurkan

Di sepanjang lekuk tubuhmu

Hanya untuk membendung aliran-aliran sungai

Di tepian matamu

 

Lalu masihkah kau menari dalam hujan,

Sementara ia tak mengaliri warna pada jiwa

Selain darah perkosaan

Serta perawan-perawan takut

Mengeluarkan air mata

 

Derai-derainya tak lagi mendendangkan

Nada-nada riang dari langit

Namun gemuruh dari dalam dadamu,

Berdinding pelupuh.

Rapuh

 

Gadis berpayung hujan,

Menunggu titian seberkas pelangi

Dari slayan awan

Sebab tiada penyeberangan untuk memanggul duka

 

Bandung, 2016

*penulis merupakan Redaktur Foto LPM Suaka UIN SGD Bandung, puisi-puisinya juga bisa ditemukan dalam buku antologi puisi Peminta Malam.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas