Lintas Kampus

Kumandang Merdeka di Hari Buruh

 

[Suakaonline]-Ada aksi demonstrasi yang berbeda dibalik riuh para buruh yang berdemo dalam peringatan hari buruh sedunia yang dilakukan sekitar 1500 buruh se-Bandung raya yang terdiri dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI), Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Astakira.


Namun, sekumpulan masa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang berujumlah 35 orang sudah terlebih dulu melakukan aksi demontrasi sekitar pukul 8 pagi. Berbanding terbalik dengan tuntutan lantang disuarakan oleh para buruh, masa AMP ini mengumandangkan tuntutan kemerdekaan atas nama rakyat Papua.


“Kami ingin pemerintah memberikan kebebasan dan hak bagi rakyat Papua untuk menentukan nasib kami sendiri, kalau menganggap Papua sebagai bagian dari NKRI itu omong kosong,ujar Frans Kotouki selaku juru bicara aksi  saat diwawancara Suaka, Rabu (01/05).


Tuntutan untuk memerdekakan diri ini bertepatan dengan peringatan  hari buruh sedunia , tuntutan itu digaungkan oleh AMP yang menganggap bahwa pada tanggal 1 Mei 1963 bagi rakyat Papua merupakan awal pendudukan Indonesia di tanah Papua.

 

Mereka menganggap bahwa ratusan ribu rakyat Papua tewas akibat kekejaman militer Indonesia dan setelah diberlakukan Dearah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1977 sampai tahun 1998.


“Setelah Trikora turun diakui bahwa Papua adalah bagian dari NKRI, dan saat pada masa itu juga masyarakat Papua diintimidasi, disiksa dan disuruh memilih. Apabila memilih bergabung bersama Indonesia langsung dibunuh,” tuturnya.


Dalam tuntutannya masa AMP juag menginginkan pengusiran kaum penjajah imperialisme atas rakyat Papua. Peringatan hari buruh 1 Mei dijadikan momentum AMP memperingati 50 tahun Papua bergabung bersama Indonesia sekaligus menuntut kemerdekaan atas nama rakyat Papua.


Tuntutan untuk mementukan nasib mereka sendiri disuarakan oleh masa AMP dan ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga kepada pemerintah Indonesia.  Dalam sepanduk yang dibentangkan oleh masa AMP terselip gambar bendera Bintang Kejora yang tak lain merupakan lambang gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).


Adapun 3 poin tuntutan AMP adalah pertama, memberikan kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua sebagai solusi  Demokrasi. Kedua, menarik militer (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari seluruh peluruh tanah Papua. Terakhir, menghentikan eksploitasi dan tutup seluruh perusahaan milik kaum imperialis yaitu Freeport, BP, LNG Tangguh, Cirindo, Medco dan lainnya.


Masa AMP kemudian membubarkan diri dan pergi menjauh dari kerumunan para buruh yang melakukan aksi demonstrasi datang dengan jumlah yang lebih banyak lagi dikawasan Gedung Sate dan mendapat pengawalan ketat terhadap mereka.


 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas