Lintas Kampus

Langkah Kaki Kecil Iringi Peringatan Hari Buruh

 

[Suakaonline]-Sengatan tajam sang surya ditemani pekik suara yang berkumandang dari para demonstran terdengar silih berganti  tanpa henti seolah diabaikan tanpa peduli. Berbaur bersama mereka yang jauh lebih tua atau bahkan berbeda umur hampir setengah abad lamanya. Dengan mengikuti pegangan tangan orang tuanya, anak-anak kecil ini dengan setia ikut damping perjungan tanpa henti sang orang tua.


Peringatan hari buruh sedunia yang dilakukan sekitar 1500 buruh se-Bandung raya terdiri dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI), Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Astakira. Aksi  demonstrasi dipusatkan di palataran Gedung Sate  kota Bandung, Rabu (01/05).


Ditengah-tengah riuh gemuruh orang-orang dewasa yang menuntut kesejahteraan, menguaplah tingkah polah seorang bocah polos yang meronta-ronta meminta diturunkan dari pangkuan sang ibu. Kemudian ia berlari-lari kecil sambil memegan botol susu yang sudah setengah kosong.


Bocah mungil itu bernama Siti Sarah, umurnya masih sangat muda, 2 tahun. Ia masih terlalu belia untuk memahami apa yang dilakukan orang-orang dewasa tersebut, dan apa pula makna dari kesejahteraan yang diharapkan para demonstran.


Hanya dengan mengenakan pakaian ala kadarnya, bocah kecil itu membaur dengan orang-orang yang jauh lebih gagah tubuhnya. Tak peduli bila terjadi bentrok atau malah anak tak mengerti kalau dalam aksi demo sering terjadi bentrokan dengan pihak aparat polisi. Tak lupa botol susu menemaninya dengan setia.

 

Di balik ketidaktahuannya itu, tersimpan pengharapan orang tuanya, agar kelak si bocah lugu tersebut bisa mengerti perasaan seperti apa dirasakan para buruh saat itu.


“Saya membawa anak ini supaya kelak dengan adanya perjuangan ini, anak saya bisa memahami apa yang diperjuangkan oleh orang tuanya, tutur Yuyun Yuningsih (32), ibu dari bocah polos ini.


Sang bunda yang bekerja disebuah PT Garmen di daerah Majalaya itu juga berharap agar kedepannya anak tersebut tidak harus menjadi buruh seperti orang tuanyanya, “Saya ingin agar pemerintah memperhatikan betul pendidikan anak saya dan anak-anak dari para buruh” pungkasnya.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas