Hukum dan Kriminal

AJI Terus Berupaya Tuntaskan Kasus Udin

 

[Suakaonline]- Sudah hampir 17 tahun kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin belum mendapatkan penuntasan hukum secara tuntas. Sedangkan dari kacamata hukum di Indonesia, kasus Udin tersebut akan kedaluarsa pada 16 agustus 2014.

 

Ketua Aliansi Jurnalis Independen kota Bandung, Zaky Yamani, dalam Deklarasi Bandung Menentang Kekerasan terhadap Jurnalis pada Jumat, 3 Mei 2013, mengatakan kasus Udin akan terus diupayakan meskipun ia beserta teman-teman AJI tak menafikan menemukan kesulitan dalam mengungkap kasus tersebut.

 

“Kita terutama AJI Yogyakarta masih terus berupaya mengajukan bukti-bukti baru agar bisa dibuka lagi peristiwanya. Namun tampaknya susah, karena kalau kita mengharapkan pengakuan-pengakuan dari mereka yang terlibat dari kasus tersebut sudah nyaris tidak mungkin,” tukasnya di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

 

Oleh karena itu, pihaknya terus berharap kepada siapapun yang merasa terlibat untuk mau memberikan bukti-bukti baru sebelum masa kedaluarsa persidangan kasus pembunuhan yang jatuh pada 16 Agustus 2014.

 

“Sejauh ini kita merasa tidak puas dengan hasil persidangan, soalnya banyak yang aneh di lapangan. Dari pengakuan yang berbeda-beda, putusan hakim juga dari orang-orang yang tidak melihat tapi dipaksakan masuk ke dalam persidangan,” katanya.

 

Sementara itu selain kasus Udin ada 8 kasus yang serupa yang hingga kini masih diambangkan kasus hukumnya. AJI pun mencatat tidak kurang dari 49 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi antara bulan Desember 2010 hingga Desember 2011, sebanyak 55 kasus kekerasan pada jurnalis terjadi selama periode Desember 2011-Desember 2012 dan sekitar 10 kekerasan terjadi sejak Januari-April 2013.

 

Zaky merasa bahwa dalam upaya penuntasan kasus yang menyangkut kekerasan terhadap jurnalis, negara tidak terlihat keseuriusannya baik dalam proses penyidikan ataupun peradilan. Hingga terkesan dibiarkan begitu saja.

 

Maka dari itu pihaknya pun akan terus mengingatkan kepada generasi penerus agar tahu bagaimana potret kebebasan di negara kita.

 

“Setidak-tidaknya kalau keadilan tidak bisa ditegakkan, kami akan selalu mengingatkan kepada publik bahwa kasus-kasus tersebut belum selesai persoalannya. Bahwa kita sampai saat ini masih berada dalam ancaman yang konstan dan mereka-mereka yang telah menjadi korban tidak ada keadilan yang ditegakkan,” pungkasnya.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas