Kampusiana

Payung Teduh Meriahkan FISIP Awards

Penampilan band bergenre folk Payung Teduh turut menarik antusiasme pengunjung dan fans di Jawa Barat pada acara FISIP Awards yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) UIN SGD Bandung, Senin (16/5/2016) di Gedung Anwar Musaddad. Panitia mencatat sekitar 2800 pengunjung yang hadir dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Cianjur, Cirebon, bahkan Kebumen. (Elya Rhafsanzani/ Magang)

Penampilan band bergenre folk, Payung Teduh turut menarik antusiasme pengunjung dan fans di Jawa Barat pada acara FISIP Awards yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) UIN SGD Bandung, Senin (16/5/2016) di Gedung Anwar Musaddad. Panitia mencatat sekitar 2800 pengunjung yang hadir dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Cianjur, Cirebon, bahkan Kebumen. (Elya Rhafsanzani/ Magang)

SUAKAONLINE.COM, — Band asal Jakarta, Payung Teduh meriahkan FISIP Awards, Senin (16/5/2016) di Gedung Anwar Musaddad UIN SGD Bandung. Lewat kekuatan lirik puitis yang berpadu dengan musikalitas apik, sontak melarutkan ribuan penonton yang memadati gedung.

Payung Teduh yang digawangi Mohammad Istiqamah Djamad (Gitar/Vokal), Comi Aziz Kariko (Contra Bass), Ivan Penwyn (Guitalele), dan Alejandro Saksakame (Drum) ini pertama kalinya manggung di kampus ini.

Band genre folk ini membawakan 9 lagu antara lain, Angin Pujaan Hujan, Berdua Saja, Kucari Kamu, Untuk Perempuan, Biarkan, Rahasia, Di Ujung Malam, Resah, dan Menunggu Senja.

“Kita ingin jadi yang pertama, sebelumnya kan di UIN belum pernah ada yang ngundang Payung Teduh,” ujar ketua pelaksana Fazrin Alfaris. Ia menganggap pamor Payung Teduh yang sedang naik daun ini juga mampu mendongkrak eksistensi FISIP.

Istiqamah atau yang akrab disapa Is mengaku senang dapat menghibur mahasiswa UIN Bandung. “Hari ini gokil banget, kita senang bisa manggung di UIN, secara pribadi gue seneng, gue bersyukur,” ujarnya di belakang panggung.

Sekitar 2800 pengunjung dan fans pun membuat gedung menjadi sesak. Antusiasme tinggi mereka pun terbukti dengan salah satu fans Payung Teduh yang rela datang dari jam 9 pagi.  “Saya sendiri sangat antusias dengan adanya acara ini, dari rumah saya berangkat jam 9 pagi karena takut kepenuhan,” ujar salah satu fans Dwiki Alpin.

Baca juga:  Zulfa Hendri: Peluang UIN Bandung dalam Financial Market

Fans yang berasal dari Padalarang ini menilai UIN Bandung sangat beruntung bisa menghadirkan band yang padat jadwal ini. “Bulan ini Payung Teduh sedang sibuk-sibuknya dan hanya sekali aja ada di Bandung,” ujarnya.

Fazrin mengatakan pengunjung tak hanya datang dari Bandung saja, namun dari Sukabumi, Cianjur, Cirebon, bahkan Kebumen. Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Hamzah Hayatulloh mengatakan banyaknya jumlah penonton menjadi pencapaian yang luar biasa.

Suksesnya acara ini adalah hasil sosialisasi tekun panitia. Hamzah mengaku pihaknya bekerjasama dengan beberapa stasiun radio di Bandung, seperti Ardan dan Raka. Kemudian official Payung Teduh pun membantu proses sosialisasi, hingga acara ini meriah.

Acara yang diselenggarakan Dema Kabinet Motekar ini pun menjadi bentuk apresiasi pada mahasiswa dan dosen. Ada lima kategori untuk mahasiswa dalam FISIP Awards, antara lain mahasiswa terajin, terakademik, teraktivis, teragamis, dan berprestasi.

Bagi dosen terdisiplin, terajin, terfavorit, dan termodis pun ada di perhelatan ini. Tak ketinggalan, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) terprogesif dan komunitas terkompak pun turut diapresiasi.

“Penghargaan ini kita berikan supaya mereka semakin termotivasi. Semoga dosen semakin profesional lagi dalam mengajar dan mahasiswa bisa lebih rajin dalam belajar,” ujar Fazrin.

Kategori mahasiswa terajin diberikan kepada  Muhammad Thalhah Ma’sum dari jurusan Administrasi Negara (AN), terakademis Nadi (AN), teraktivis Dindin Ahmad Toharudin (Manajemen), dan mahasiswa berprestasi Rina Ayu Nurohmah (Manajemen).

Untuk kategori dosen terfavorit diraih oleh Muhammad Zaky, terajin Muhibin Wijaya Leksana, terdisiplin Ruhenda, dan dosen termodis diberikan pada Lilis Sulastri. Komunitas Brigade AN meraih penghargaan komunitas terkompak dan HMJ Manajemen keluar sebagai HMJ terprogesif.

Penilaian setiap kategori dilakukan oleh jajaran officio Dema FISIP. Hamzah mengatakan penilaiannya memang  bersifat normatif namun tetap atas pertimbangan berbagai aspek. Pertama berdasarkan banyaknya likers di akun Intagram. Selanjutnya penilaian berdasarkan data dan beberapa persyaratan tertentu. “Misal untuk penilaian mahasiswa terakademis, kita mengutamakan persyaratan dibandingkan likers Instagram,” ujar Hamzah.

Baca juga:  Diskusi Rakyat Anti Kriminalisasi Kebon Jeruk

Beberapa persyaratan tersebut seperti, nilai IPK. Mahasiswa teraktivis pun dinilai dari seberapa besar pengaruh mahasiswa pada organisasi yang diikutinya. Sementara untuk penilaian kategori dosen berdasarkan rekomendasi setiap jurusan dan likers.

Reporter: Hasna Salma/ Magang & Ridwan Alawi

Redaktur: Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas