Lintas Kampus

Hari Kebangkitan Nasional, Himase Unpad Gelar I Am the Historian

Pemenang lomba Ranking Satu Yunus (kiri) menerima hadiah dari panitia acara I Am the Historian, Sabtu (21/5/2016) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sejarah (HImase) Universitas Padjajaran (Unpad) di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya. Lomba ini menjadi salah satu ajakan pada masyarakat untk tidak pernah melupakan sejarah dan tak menggapnya sebagai angin lalu. (SUAKA/ Delvia Yosa)

Pemenang lomba Ranking Satu Yunus (kiri) menerima hadiah dari panitia acara I Am the Historian, Sabtu (21/5/2016) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sejarah (HImase) Universitas Padjajaran (Unpad) di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya. Lomba ini menjadi salah satu ajakan pada masyarakat untk tidak pernah melupakan sejarah dan tak menggapnya sebagai angin lalu. (SUAKA/ Delvia Yosa)

SUAKAONLINE.COM, Bandung, — Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke- 108 Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himase) Universitas Padjajaran (Unpad) menggelar acara I Am the Historian 2016, Sabtu (21/5/2016) di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya. Himase mengajak untuk mengingat pentingnya sejarah serta nilai-nilainya dalam kehidupan ini.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk simpati Himase terhadap pelarangan pada kelompok yang menggelar diskusi bertemakan gerakan kiri di Indonesia.

“Kami bersimpati kepada orang-orang  yang berjuang untuk kebaikan negeri ini, orang-orang di persimpangan kiri,” ujar ketua pelaksana Oky Nugraha Putra. Artinya, lanjut Oky ruang dan waktu sejarah itu tak hanya di isi orang-orang kanan, tapi orang-orang kiri pun memiliki peran penting dan fundamental.

Ia menjelaskan Tan Malaka salah satunya. Tahun 1925 Tan menulis buku Naar De Republiek atau Menuju Republik. Tan Malaka memiliki gagasan bila Hindia Belanda merdeka diharapkan republik lah bentuk pemerintahannya. “Sebagian orang seakan-akan anemia sejarah, bahwa Tan Malaka salah satu pemikir besar bangsa kita, dan kiri. Konsep itu (bukunya- Red) terbukti hingga saat ini,” ujarnya.

Mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah ini juga mengatakan sejarah tak seharusnya dipandang sebagai hal yang tak berarti. “Banyak publik lupa akan sejarah dan lebih menyukai musik yang esensial keilmuan  tak begitu penting,” pungkas Oky.

Seajarah itu, Oky melanjutkan bukan sekedar hafalan tanggal dannama  orang. Tetapi sejarah itu sebagai sumber solusi untuk permasalahan zaman sekarang atau nanti dan pencegehan masalah serupa di masa lalu.

Baca juga:  Kuliah Umum Hindu bersama Religious Studies

“Kita harus bisa menanamkan konsep baru mengenai sejarah. Menganalis sejarah dan memecahkan permasalahan yang terjadi di masa lalu agar ke depannya tak terjadi hal seperti dulu,” ujarnya.

Lomba Ranking Satu Nasionalisme menjadi salah satu rangkaian acara ini. Bukan sekedar lomba tetapi menjadi salah satu cara agar publik mengetahui Nasionalisme. “Nasionalisme tidak dapat dipersepsikan sebagai slogan saja tetapi sebuah kata yang bermakna, dimengerti, dipaham, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Oky.

Reporter: Delvia Yosa

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas