Kampusiana

Marak Kriminalitas, Buya Rayanudin: Bangsa Ini Butuh Terapi

Ir. H.Zulkifli MH. MM (Kiri), K.H Buya Royanudi (Tengah), hadir sebagai pemateri didampingi oleh moderator Restu Syauqi Nugraha (Kanan) dalam acara Seminar Seminar Kebangsaan yang bertemakan "Melindungi Bangsa Dengan Agama Dan Budaya Serta Meningkatkan Strategi Ekonomi Masa Depan" di Aula Abjan Soelaiman, UIN Bandung, JL. A.H Nasution No. 105, Kota Bandung, Rabu (25/5/2016). Dikarenakan ada halangan, ketua GP Anshor Cilacap Nur Sayyid Sentosa Kristeva yang juga menjadi pemateri tidak bisa hadir dalam acara ini. (SUAKA/ Elya Rhafsanzani)

Zulkifli MH. (Kiri), Buya Royanudi (Tengah), hadir sebagai pemateri didampingi moderator Restu Syauqi Nugraha (Kanan) pada Seminar Kebangsaan bertajuk Melindungi Bangsa dengan Agama dan Budaya Serta Meningkatkan Strategi Ekonomi Masa Depan, Rabu ((25/5/2016) di Gedung Abjan Soelaeman UIN SGD Bandung, JL. A.H Nasution No. 105, Kota Bandung. Dikarenakan berhalangan, ketua GP Anshor Cilacap Nur Sayyid Sentosa Kristeva yang juga menjadi pemateri tidak bisa hadir acara ini. (SUAKA/ Elya Rhafsanzani)

SUAKAONLINE.COM, — Nilai kebangsaan Indonesia kian hari luntur hingga menjadikan Indonesia krisis identitas. Terbukti dengan maraknya kasus kriminal yang ganas pelaku dan tindakannya. Bangsa ini pun butuh ‘penyembuhan’.

“Bangsa ini butuh terapis, dan terapis yang paling bagus adalah menanamkan ajaran Islam,” ujar pembina sekaligus ketua Pancasila Pembela Bangsa, Buya Rayanudin pada Seminar Kebangsaan yang digelar anggota penerima beasiswa Bidikmisi UIN SGD Bandung, Selasa (25/5/2016) di Gedung Abjan Soelaeman.

Indonesia, lanjut Buya mustahil maju tanpa agama dan budaya. Bila Indonesia ingin maju, maka jadikan agama sebagai landasannya. Dan bila Indonesia ingin berjaya, maka jangan pernah melupakan budaya. Keduanya selaras dijadikan pondasi bangsa ini.

Menurut Buya seluruh agama mengajarkan kebaikan, tapi ajaran agama Islam lah yang cocok untuk bangsa Indonesia. Bukan tanpa alasan, sebab Islam ada karena wujudnya dan mampu mengakomodir umat manusia sepenuhnya.

Begitu pula budaya, keduanya bak sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Menurutnya budaya tak dapat diartikan sempit sebagai produk kesenian saja. Budaya bangsa ini bila digali lebih dalam lagi niscaya mampu mengembalikan identitasnya.

Ramah tamah dan percaya kepada Tuhan lah budaya yang sesuai dengan bangsa Indonesia. “Bangsa ini punya Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, itu yang menjadi bingkai untuk bangsa kita,” terang Buya.

Baca juga:  Pengumuman Hasil Wawancara Tahap 1 Oprec SUAKA 2017

Kini, lanjutnya Ketuhanan Yang Maha Esa hanya menjadi kata penghias. Serta tak banyak yang memahami maksud dari sila pertama Pancasila itu. “Paham tersebut harus diubah sebagai paham sejati dan mengoptimalkan budaya leluhur untuk menjaga moral bangsa,” ujarnya.

Senada dengan Buya, ketua pelaksana Muhammad Iqbal Awaludin mengandaikan bila bangsa ini bisa memaknai Pancasila sebagai ideologi bangsa, seraya akan menjadi pagar setiap tindakan masyarakatnya.

Termasuk untuk memagari maraknya tindak kriminal yang terjadi belakangan ini. “Bangsa sudah lupa akan bajunya, banyak yang sudah lupa jati diri bangsanya,” ujar mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah ini.

Reporter: Akbar Gunawan

Redaktur: Ridwan Alawi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas