Sosok

Ringankan Beban Orangtua Dengan Wirausaha

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Bermimpi besar lalu bekerja keras untuk mewujudkannya. Itulah prinsip hidup yang selalu dipegang oleh mahasiswa semester empat, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN SGD Bandung, Ilyas. Saat memasuki bangku kuliah ia memutuskan untuk tidak lagi meminta biaya kepada orang tua. Bahkan sejak memasuki semester dua ia mulai rutin mengirim uang kepada keluarganya di Sukabumi.

“Sejak awal kuliah mulai berpikir bagaimana caranya bisa hidup mandiri dan tidak membebankan orang tua,” ungkapnya kepada Suaka, Rabu (27/6/2016).

Tanpa berpikir panjang, niatnya pun mulai ia realisasikan sejak hari pertama masuk kuliah di semester awal. Saat itu, ia memulai usahanya dengan berjualan air mineral dan pisang aroma di pelataran ruang kuliah Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Penghasilannya pun mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Meski begitu, usaha pertama yang ia mulai tidak terlepas dari tantangan dan hambatan.

Ia bercerita, saat itu tak jarang ia menemukan dagangannya habis namun tidak ada uang yang tersisa. Hal tersebut tak lantas membuatnya putus asa. Kecintaannya terhadap dunia wirausaha yang ia rasakan sejak SMK membuatnya pantang menyerah. Dirinya juga mengaku harus datang lebih awal untuk menyimpan barang dagangan dan pulang lebih akhir untuk memeriksa dan mengambil hasil jajakannya tersebut.

Tidak puas sampai di sana, ia pun mulai mencoba usaha lain yaitu berjualan baju, sepatu dan perlengkapan naik gunung. Dari bisnisnya itu, ia mendapatkan omzet yang cukup memuaskan yaitu mencapai rata-rata 3 juta perbulannya.

Tak ingin keuntungannya ia rasakan sendiri, ia juga mengajak teman-temannya untuk bergabung dalam bisnisnya tersebut. “Saat itu saya mengajak teman-teman kelas yang punya misi sama dan tertarik untuk berwirausaha,” ceritanya. Ia menambahkan saat itu ia mulai diangkat sebagai manajer oleh salah seorang pengusaha kuliner dan memiliki tiga karyawan yang membantunya.

Baca juga:  Terbentuknya Kepanitiaan OPAK

Kesibukannya mengelola usaha yang ia geluti, tidak serta merta mengganggu kegiatannya di bidang akademik. Bahkan ia terpilih sebagai mahasiswa teladan di jurusannya pada tahun 2015. Menurutnya, menjadi mahasiswa harus piawai dalam mengelola waktu kuliah dan berwirausaha. “Setelah kuliah, sorenya saya harus bergegas ke pasar lalu berjualan sampai malam hari,” tuturnya. Kegiatan tersebut rutin ia lakukan setiap hari tanpa meninggalkan tugas-tugas kuliah.

Selanjutnya, dari hasil usahanya itu ia mampu membeli motor pribadi senilai 25 juta rupiah. Uang tersebut ia kumpulkan selama kurang lebih satu semester terakhir. Di samping itu jumlah kirimannya kepada orang tuanya kini semakin meningkat. “Awal-awal biasanya saya kirim 400 ribu sampai 500 ribu perbulan, tapi sekarang sudah bisa kirim sampai 900 ribu, Alhamdulilah,” ujarnya.

Baginya, kunci kesuksesan ada pada do’a orang tua serta rasa syukur kepada Allah SWT. Ia pun selalu berusaha untuk menjalankan sholat tepat waktu dan berdo’a. Selain itu Ilyas menuturkan bahwa kesuksesan harus disertai dengan niat besar dan tujuan yang jelas.

Menyadari bahwa semangatnya kerap naik turun, Ilyas pun mencari cara untuk menjaganya. Salah satunya dengan menuliskan target-target yang ingin dicapainya dan membaca buku-buku motivasi dari tokoh-tokoh yang ia sukai seperti Ipho Santosa, Robert T. Kiyosaki dan Bung Chandra. Baginya meniru cara orang yang telah sukses menjadi bagian penting untuk mencapai kesuksesan. Ia juga mengaku memiliki pembimbing khusus yaitu Ryan Aprilianto. “Kang Ryan selalu memotivasi saya ketika lagi down,” katanya

Diusianya yang baru menginjak 21 tahun kini ia memiliki penghasilan 4,5 juta perbulan dari hasil usahanya. Disamping kesibukannya kuliah saat ini ia pun tengah mempersiapkan targetnya ke depan. Ilyas mengaku ingin membeli rumah untuk mengembangkan usaha kulinernya di Bandung. Dia juga ingin mendirikan pesantren dan sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu. “Saya ingin terus meningkatkan penghasilan saya supaya bisa membantu anak-anak yang belum beruntung,” pungkasnya.

Baca juga:  Persiapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan

Reporter : Purna Irawan

Redaktur: Ibnu Fauzi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas