Sosok

Nadia Sarosa : Banggakan Daerah dan Negeri Melalui Tarian Tradisional

Nadia Sarosa

Nadia Sarosa

SUAKAONLINE.COM, — Menjaga nama baik daerah melalui seni tari itu adalah tantangan paling besar  bagi Nadia Sarosa. Perempuan kelahiran Palembang, 14 September 1997 itu sangat hobi sekali menari. Masa kecil yang sangat pemalu, bertolak belakang dengan keadaannya saat ini yang lebih percaya diri. Berkat kegigihan seorang ibu yang ingin melihat Nadia berani dan bisa perform di depan umum.

Tarian bukanlah hal yang negatif dan di pandang sebelah mata. Bagi Nadia tarian  adalah suatu identitas daerah dan dirinya. Dan merupakan suatu cara melestarikan budaya tradisi di daerahnya. “ Dulu ketika  aku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) pertama kali perform di panggung aku nangis-nangis gak mau ikut karena malu,” ujar Nadia saat dihubungi via telefon seluler, Kamis (4/8/2016).

Nadia memilih dunia tari tradisional, karena setiap performance, pakaian dan gerakkannya selalu sopan. Hingga saat ini, ia bangga bisa kenal dan menampilkan tarian daerah, karena merupakan ciri khas suatu daerah dan identitas diri.

Pernah menjadi penari di Istana Negara tahun 2011 merupakan suatu hal yang membanggakan bagi Nadia. Tak hanya sebagai penari, ternyata Nada juga  memiliki berbagai penghargaan dengan proses yang begitu sulit dan membuatnya sangat tertantang dengan berbagai kritik dari para masyarakat.

Nadia pernah dinobatkan sebagai juara 2 model Indonesia tingkat nasional pada tahun 2011, gadis sampul favorit tahun 2012, POR pelajar Indonesia – Malaysia tahun 2012-2014, parade tari Nusantara di TMII tahun 2016, dan baru-baru ini nada terpilih menjadi puteri kulit sehat dan London Beauty Centre (LBC) tahun 2016. Prestasinya di berbagai jenis seni tetap membuatnya berpropesi sebagai penari hingga saat ini, dan  itu merupakan suatu taktik agar budaya daerahnya tetap bisa dipromosikan.

Baca juga:  Terbentuknya Kepanitiaan OPAK

Berlatarbelakang sebagai mahasiswa Akuntasi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura tak menghalanginya untuk berkarya sebagai penari. Berbagai kota dan negara ia jelajahi untuk  pertunjukan mulai tari daerah, tarian Melayu, Dayak, dan Tionghoa.

“Begitu banyak yang berkesan sebagai penari. Karena bisa hidup lebih mandiri tanpa membebani orang tua, dari hasil dan jerih payah di setiap performnya yang indah dapat membiayai kebutuhan, membanggakan keluarga, masyarakat Pontianak dan provinsi Kalimantan Barat dengan cara melestarikan budaya melayu khususnya tari tradisional Melayu,” ujar Nadia.

Nadia juga berbendapat tentang perkembangaan tarian saat ini. Menurutnya, tarian modern akan membuat tari tradisi menipis. Namun dirinya tetap bangga dengan perkembangan tarian saat ini, penari-penari semakin kreatif dan pintar. “Karena  tarian tradisional tetap menjadi  nomor satu yang di bawa kemana-kemana untuk acara daerah ataupun festival daerah dalam membawa nama daerah masing-masing. Dan sedikit kemungkinan tarian modern di suguhkan untuk para tamu resmi atau acara pemerintahan,” lanjut Nadia.

Selanjutnya, Nadia menjelaskan bahwa kolaborasi antara tari tradisional dan modern untuk mempertahankan budaya tari tradisional memang cocok. Karena masyarakat tetap menerima budaya luar  yang baik dan menggabungkan dengan budaya daerah akan menjadi suatu hal yang unik.

“Ambil yang bagus, buang yang jeleknya. Tarian tradisional asli akan tetap jadi dasar dan memiliki ciri dan khas gerakan dasar tersendiri .  Biar orang  tidak bosan makanya harus ada inovasi kolaborasi antara tradisi dan modern. Orang tradisipum berpikir lebih maju dan pintar, open minded buat mix tradisi sama modern,” ujarnya

Berkat kelincahan dan keramahannya, ia sangat dikenal oleh kalangan para seniman tari di daerah-daerah  lain. selain itu, dirinya berharap bisa membuat para perempuan muda untuk berkarya lebih baik, dan menjaga budaya daerah masing-masing yang di anggap sebagai identitas diri.

Baca juga:  Majelis Patani Bicarakan Perdamaian

“Semoga generasi muda bisa tetap mempertahankan seni tari di daerah masing-masing lebih memajukan dan menjaga budaya ketimbang memilih aktifitas yang tidak bermanfaat,” tutup Nadia di akhir wawancara.

Reporter : Delvia Yosa Amanda

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas