Kampusiana

Kisah Mahasiswa Rantau Asal Thailand di Bulan Ramadhan

[Suakaonline]-Minggu (28/7) sore, langit kota Bandung diselimuti awan mendung. Udara terasa lebih dingin daripada hari biasanya. Di depan halaman sebuah rumah di Jalan Permai 2, Cipadung, Kota Bandung, terihat empat pemuda sedang bercengkrama. Rumah tersebut merupakan sekretariat Persatuan Mahasiswa Islam Pattani (PMIPTI). Pattani adalah suatu wilayah di bagian selatan negara Thailand dengan etnis muslim melayu.


Sebanyak 81 mahasiswa asal Pattani baik laki-laki dan perempuan sedang menempuh pendidikan di UIN SGD Bandung. Meskipun kalender akademik menunjukan waktu libur, aktivitas mereka tetap berjalan, terlebih di bulan ramadhan kali ini.


Selama bulan Ramadhan, mereka mempunyai beragam kegiatan. Mulai dari tilawah, kajian islam, buka bersama dan shalat tarawih. Setiap hari senin diadakan kajian tentang makna dan kegiatan ibadah di bulan Ramadhan. Keesokan harinya diadakan tadarus dan tafsir hadits. Esok lusanya diadakan kegiatan tilawah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan dari hari Senin sampai dengan hari Rabu sejak pukul 13.00 sampai pukul 15.00 wib di skere PMIPTI. Malam harinya rutin menggelar shalat tarawih berjama’ah.


Tak hanya itu, tanggal 26 Juli lalu mereka menggelar buka bersama dengan mahasiswa asal Pattani se-Bandung. “Buka bersamanya itu di lapang futsal sana,” ucap Mr. Muhammad Chudir, mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam smester 5 sambil menunjuk ke arah barat. Karena kalau tempatnya disini (sekre PMIPTI) tidak akan cukup,” lanjutnya.


Ternyata mahasiswa asal Pattani tersebar di beberapa perguruan tinggi di Bandung seperti UIN, Universitas Islam Nusantara dan Universitas Padjadjaran. Namun mahasiswa terbanyak berasal dari UIN.


Menu Masakan Pattani


Kumandang adzan Maghrib bergema. Waktunya untuk berbuka puasa. Aneka gorengan dan sop buah menjadi menu berbuka kala itu. Ruangan tengah penuh sesak. Suasana tetap cair karena satu sama lainnya terlihat asyik bercanda. Tentunya disertai dengan tawa dan mmimik riang yang selalu terpancar dari wajah mereka.


Berbicara masalah kuliner, mereka juga sering memasak makanan khas Pattani. Hal ini dilakukan agar dapat mengurangi rasa rindu akan kampung halaman. Seperti menjelang buka puasa pada sore itu. Terlihat empat orang terlihat sibuk di ruangan dapur. Dua orang sibuk memotong daging, dan dua orang lainnya sedang mengurus bumbu masak. Tidak berbeda jauh dengan kuliner Indonesia, masakan khas Pattani diolah dengan menggunakan berbagai macam rempah-rempah seperti jahe, kunyit, kayu manis dan yang lainnya.


Sekitar pukul 18.45, masakan telah siap dihidangkan. Satu orang terlihat sibuk membagikan nasi ke dalam piring plastik. Satu orang lainnya sibuk memasukan potongan daging sapi ke dalam 3 wadah besar, patpet namanya, atau dalam bahasa Indonesia berarti goreng pedas. Patpet merupakan masakan khas Pattani yang berasal dari daging sapi, ayam maupun ikan. Menu yang dimasak malam ini terbuat dari 1 Kg daging sapi. Daging dipotong dadu lalu dimasak dengan campuran rempah-rempah seperti kunyit, jahe, kayu manis dan yang lainnya.


Ketika melahap patpet aroma dari daun jeruk begitu kuat. Bau amis dari daging tidak tercium lagi. Ada hal unik ketika hendak memasak patpet. Jika bahan baku daging atau ikan sebanyak 1 Kg, maka cabai yang digunakan akan sebanding dengan banyaknya daging atau ikan yang dimasak. Patpet kali ini cukup pedas.  Rasa pedas inilah yang semakin menambah nafsu makan. Ditambah dengan sepiring nasi yang masih hangat. Meminjam jargon milik Bondan Winarno, Mak nyus!


Ada hal unik yang ditangkap Suaka ketika menyaksikan mahasiswa asal negeri Gajah Putih menyantap menu saat itu. Daging dimasukan ke dalam 3 wadah besar. Setiap wadah tersebut dikerumuni sekitar 6-7 orang. Mereka membuat posisi melingkari wadah tersebut dan tidak boleh ada seorang pun yang berada di luar lingkaran tersebut. Mereka menilai bahwa hal itu kurang sopan karena tidak sesuai dengan budaya mereka. Masing-masing dari mereka menerima 1 porsi nasi.


Mr. Muhammad Chudir bercerita bahwa dirinya merasa heran saat menyaksikan teman-temannya asal Indonesia sedang makan bersama ala prasmanan. Mereka itu mengambil nasi dan lauknya masing-masing. Makanpun masing-masing.


“Disana (Pattani, -Red), ketika prasmanan, kami makan dengan cara berkumpul,” kenang mahasiswa yang berasal dari provinsi Narathiwat itu. Pada hari itu tidak semua mahasiswa ikut berkumpul, ada sebagian yang sedang pulang ke kampung halaman.


Makanan Favorit


Berbicara tentang kuliner Indonesia memang sangat menarik. Rendang, nasi goreng dan sate adalah makanan asli Indonesia yang kelezatannya telah diakui dunia. Begitupun dengan para mahasiswa asal Pattani. Sebagian dari mereka mengakui kelezatan kuliner tanah air ini. Mereka dapat dikatakan telah ‘jatuh cinta’ terhadap masakan asli Indonesia yang tidak pernah akan ditemui di tanah kelahirannya tersebut.


Mr. Ismae Hama, dari jurusan Sejarah Peradaban Islam smester 7 mengaku sangat menyukai satai, rendang dan nasi uduk. “Nasi uduk itu sangat enak, apalagi sambal nya itu,” ucap mahasiswa yang akrab disapa Mae tersebut. Sambal yang dimaksud adalah sambal oncom, sambal khas di tatar Sunda.


Lain lagi dengan Mr. Ahmad Latif. Mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Islam smester 9 tersebut sangat menyukai soto. “Kuahnya sangat enak. Disana (Pattani,-Red) saya belum pernah menemukan makanan seperti ini,” ucapnya dengan jelas menggunakan bahasa Indonesia. Kalau Mr.Chudir tertarik dengan ayam penyet. Olahan yang berbahan dasar ayam dimasak dengan bumbu yang kaya akan rempah-rempah telah mebuatnya tertarik. “Saya suka ayam penyet karena makanan tersebut hampir mirip dengan salah satu makanan dari Pattani,” ucapnya.


Kesulitan memang selalu dirasakan oleh warga pendatang. Pun halnya dengan mahasiswa asal Pattani ini. Berada di negara yang memiliki budaya dan adat istiadat berbeda, hal tersebut sempat menjadi hambatan mereka dalam melakukan adaptasi. Namun untuk kendala bahasa, mereka tidak terlalu menghiraukannya karena kampung halamannya sendiri senantiasa menggunakan bahasa melayu.


Mae bercerita bahwa dirinya sempat kaget ketika melakukan ibadah puasa dan shalat tarawih pertama di Bandung. “Ketika shalat
tarawih di mesjid, ternyata raka’atnya itu 11. Masing-masing 4 raka’at disertai salam dan 3 rakaa’at witir. Padahal niat shalatnya itu 2 raka’at,” ucapnya disertai tawa. Mae menjelaskan bahwa di kampung halamannya, shalat tarawih itu biasa dilakukan sebanyak 23 raka’at, masing-masing 2 raka’at disertai salam dan 3 raka’at witir.


Kebersamaan tetap dijaga oleh sesama mahasiswa yang berasal dari Pattani ini. Lambat launmereka mulai terbiasa dengan budaya dan adat istiadat di tanah rantau. Kebersamaan ini merupakan obat mujarab untuk mengobati rasa rindu akan kampung halaman mereka, Pattani, sebuah negeri yang berada di seberang lautan nan jauh disana, negeri dimana mereka lahir dan dibesarkan.


 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas