Lintas Kampus

Kegelisahan Dari Pergeseran Formasi Komunikasi

(Dari kiri ke kanan) Jafar Sembiring, Yasraf Amir Piliang, Wawan Setiawan, Ayub Ilfandy Imran dan Adi Bayu Mahardian berfoto bersama seusai Seminar Reposisi Budaya Komunikasi di Era Digital usai, di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016). (SUAKA / Ismail Abdurrahman Azizi)

(Dari kiri ke kanan) Jafar Sembiring, Yasraf Amir Piliang, Wawan Setiawan, Ayub Ilfandy Imran dan Adi Bayu Mahardian berfoto bersama seusai Seminar Reposisi Budaya Komunikasi di Era Digital usai, di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016). (SUAKA / Ismail Abdurrahman Azizi)

SUAKAONLINE.COM – Dewasa ini banyak konteks realitas yang kemudian berubah formasi. Akibatnya banyak hal yang bergeser dari pergeseran formasi tersebut. Bagi sebagian akademisi yang berkecimpung di dunia komunikasi menilai fenomena tersebut sebagai hal yang menggelisahkan. Berbagai pertanyaan muncul di benak ketua Lingkar Studi Komunikasi (Liski) Telkom University, Adi Bayu Mahardian.

Dirinya ingin menarik benang merah mengenai kejelasan perdaban komunikasi kedepannya. Bagi Adi, forum paling ideal mempertemukan para akademisi, dan masyarakat untuk mengupas persoalan tersebut melalui ajang diskusi dalam Seminar Reposisi Budaya Komunikasi di Era Digital di Auditorium Institusi Francais Indonesia, Rabu, (7/9/2016).

Budaya komunikasi yang ada, diharapkan mampu menuju arah budaya yang syarat dengan makna, syarat dengan moralitas, tentunya itu menjadi sebuah tantangan yang patut ditelaah bersama. Persoalan yang perlu disadari, dahulu dan sekarang manusia telah berkomunikasi yang membedakannya adalah media. Keterkaiatan antara budaya dengan komunikasi, karena budaya sendiri merupakan proses dimana makna diproduksi, makna yang ada disampaikan secara kompleks oleh komunikasi.

Bersama Pakar semiotika Institut Teknologi Bandung, Yasraf Amir Piliang, seminar tersebut menjadi lebih menarik dengan argumen-argumen yang dicetuskan. “Mungkin saja nantinya kehidupan dunia nyata akan visual seperti media sosial, itu hanya memidahkan masalah,” ujar Yasraf.

Menurut Yasraf, dahulu masyarakat lebih banyak menggunakan oral dan tulisan, dibandingkan visual. Oral dan menulis melahirkan pandangan orisinalitas serta mendorong pemikiran kritis dan kemajuan pengetahuan, sedangkan visual banyak melahirkan pengetahuan retorika. Istilah yang sering muncul tentang network culture, dimana orang-orang melakukan aktivitas secara kolektif serta identitas dibangun berdasarkan keanggotaan di dalam visual community. Bahkan dengan adanya perkembangan teknologi, noise saat ini punya makna.

Baca juga:  Jadwal Dan Persyaratan Verifikasi UKT Peserta Lulus Jalur UM

Bukan tidak mungkin akan merubah definisi noise, adanya pemahaman yang berbeda, namun karena yang terjadi adalah sesuatu hal yang tidak biasa menjadi biasa, seperti tertawa saat membaca ponsel. Terkadang, sebagian orang melupakan keseimbangan antara visual dan face to face, padahal face to face dianggap memiliki nilai kesopanan yang lebih tinggi dibandingkan mengirim melalui ponsel. “Perkembangan teknologi yang mutakhir, merubah mindset orang,“ tambah Yasraf.

Peneliti komunikasi organisasi, Ayub Ilfandy Imran menambahkan, komunikasi organisasi  tidak terlepas dari budaya inovasi yang mana hal tersebut muncul dari dalam diri seseorang. Asumsinya komunikasi organisasi menjadi standar dari sebuah hukum tak tertulis dan akan menularkan kepada orang lain. Fungsi daripada komunikasi organisasi sendiri selain sebagai pembeda identitas juga mampu merumuskan seleksi sosial budaya.  “How member view, perceive, and act out towards their work surroundings,” tutupnya.

Reporter : Awallina Ilmiakhanza

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas