Epaper

Majalah Suaka Edisi Juli 2008

Majalah Suaka Edisi Juli 2008

Editorial

Kado Tangisan Ibu Pertiwi

suaka-edisi-juli-2008Ibu pertiwi masih menangis. Peristiwa dan bencana terus terjadi. Rakyat semakin menjerit. Dari masa ke masa alih kepresidenan, Indonesia belum juga menunjukkan negara yang stabil. Indonesia memang negara yang kaya raya, orang bilang demikian. Sudah enam kali negeri ini beralih pemimpin. Tapi perubahan demi perubahan belum menunjukkan kearah yang lebih baik.

Tahun 2008 ini, peristiwa Kebangkitan Nasional meledak dimana-mana. Melalui protes. Tak heran jika unjuk rasa dengan turun kejalan kerap terjadi. Teriakan yang kurang pantas terhadap momen kebangkitan nasional bergaung di seluruh pelosok ini. Memang momen itu tidak tepat digemborkan disaat suasana negeri yang caruk maruk seperti ini. Jika memang hari jadi ke 100 bangkitna Indonesia ini di gelar, maka harus terwujud dulu bukti yang mnejurus pada kebangkitan itu.

Apa lagi pekan lalu sampai sekarang isu nasional tentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) belum juga reda. Esensi itupun harus direnungkan kembali. Sekali lagi Indonesia masih menangis dan rakyat semakin menjerit. BBM merupakan tolak ukur kehidupan ekonomi rakyat. Jika BBM naik semua harga naik. Pekan lalu, di berbagai kota terjadi pemandangan yang tak menyedapkan. Ribuan rakyatpun melakukan demo menentang kenaikan BBM tersebut. Hal ini adalah dampak dari ketidakkonsistenan pemerintah terhadap masyarakat.

Sebenarnya ada sesuati di balik pemerintah menaikkan BBK. Skema yang di atur oleh para elit pejabat negeri ini merupakan harga mati. Maka jangan heran kalau rakyat bertindak memprotes masalah tersebut. Kalau sudah begini, apa yang tidak dibayangkan selalu terjadi. Siapa orang yang tidak panas saat membudalkan kekesalannya terhadap pemimpinnya sendiri. Apapun caranya bakal ditempuh asal kenaikan BBM dibatalkan. Beberapa solusi pernah ditawarkan para elit, namun semua itu hanya semu belaka tanpa sosialisasi yang riil.

Tidak sampai disitu. Mahasiswa kembali beringas, mengamuk didepan h=gedung DPR/MPR, UNAS dan didepan kampus Atma Jaya Jakarta. Kali ini amarah mereka tak kuat lagi ditahan, kepalan tangan keatas langit, meneriakkan kekesalan atas terjadinya kenaikan BBM. Tak tanggung, apapun yang ada disekitar merek dibabat habis. Beberapa mobil polisi dan mobil dinas berplat merah dihancurkan. Dibakar hangus.

Entah unjuk rasa ini ada yang menunggangi atau tidak, yang jelas kebijakan pemerintah dengan menaikkan harga BBM tersebut memberikan dampak yang tidak sehat. Namun siapa tidak ngeri melihat unjuk rasa para mahasiswa dan earga yang terjadi pekan lalu ini. Semuanya merupakan hal yang wajar. Membuat negara kita semakin terpuruk. Mestinya harus kita renungkan bersama bagaimana cara mencari jalan keluar dari permasalahan semua ini.

Indonesia Negara yang strategis dan agraris. Ribuan bahkan jutaan orang berpendidikan ada ditanah ini. Pun tak sedikit orang dari kita mengayuh pendiikan di negeri orang. Maka mestinya mekeka semua bisa menyelesaikan segala persoalan di negeri ini. Bukan mustahil jika otak orang Indonesia juga bisa mengubah sebuah pemerintahan yang maju dan harum dicium oleh segala penjuru bumi ini.

Sekarang saatnya kaum muda bangkit. Menggugah para elit untuk memejamkan mata mereka. Menggiringnya pada wilayah yang bakan menyehatkab dan mententramkan ibu pertiwi kita tercinta ini. Waktunya kasus seperti ini menjadi cerminan kita semua untuk masa yang akan datang. Masa yang diimpikan kita semua. Negara yang berkembang, maju dan kaya dari berbagai aspek. [Redaksi]

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas