Epaper

Majalah Suaka Edisi Juni 2003

Majalah Suaka Edisi Juni 2003

Editorial

Ability

majalah-suaka-edisi-juni-2003Apa jadinya jika sistem pengembangan peguruan tinggi tak lagi berpihak pada mahasiswa? Dan ini tak layak terjadi. Selama beberapa tahun terakhir ini, misalnya di IAIN Sunan Gunung Djati, nampak beberapa perubahan yang bisa dipandang unggul dengan IAIN lainnya se-Indonesia. Namun sayangnya keunggulan itu hanya sebatas pada segi fisik. Yang menghabiskan dana cukup besar serta adanya retribusi baru akademik yang dipergunakan untuk menjunjang kegiatan akademik dengn nama berbeda dari SPP.

Ini berarti pendidikan lebih berorientasi dan bergantung pada besarnya uang yang di dapat, dan mahasiswalah yang harus menanggungnya. Pemerintahpun hanya bisa berjanji. Dan inilah yang menjadi salah satu indikasi dari keterpurukan mutu pendiikan di Indonesia di banding dengan negara tetangga sendiri seperti Malaysia dan Singapura. Mengembangkan sarana fisik bukan berarti tidak penting dan itu bukanlah menjadi skala prioritas bagi sebuah perguruan tinggi. Bila ini terjadi maka substansi dan Tri Darma perguruan tinggi tak berarti apa-apa.

Sisi lain yang tak bisa dianggap enteng dalam dunia pendidikan perguruan tinggi yaitu menciptakan mahasiswa yang bermutu dan handal di imbangi dengan kualitas pengajarannya. Bermutu bukan sekedar bagus dalam meraih angka A atau B. Namun yang terpenting adalah seberapa jauh mahasiswanya mampu menghadapi tantangan dan tuntutan globalisasi, yang tak bisa ditampikan lagi? Yang lucunya, dosenpun tak siap dengan mendidik mahasiswa nanti, bisa di unggulkan. Diunggulkan bukan berarti “dijagokan”. Dan ironisnya lagi, mahasiswanyapun tak menunjukkan lagi sebagai insan yang terdidik. Inilah pekerjaan besar yang harus diprioritaskan oleh para pengajar, para dekan, ketua jurusan dan rektor sebagai penanggungjawab tertinggi dari intitusi yang dipimpinnya, di IAIN khususnya. Sanggupkah mereka menyelesaikannya?

Selama ini, perguruan tinggi yang berlabel Islam lebih terkesan jalan di tempat dan hanya punya tempat di mesjid, ngurus tahlil, perkawinan dan waris. Sekarang hal itu bisa terkikis dengan adanya lulusan IAIN yang tak sekedar ngurus mesjid atau perkawinan tetapi hal tersebut bukanlah terbentuk dari sistem yang di bangun oleh IAIN, melainkan oleh kemampuan dirinya, secara pribadi. Dan apa yang sebenarnya sistem yang di bangun IAIN selama ini?

Ngurus sebuah perguruan tinggi bisa di ibaratkan mengelola negara. Sebab di dalamnya syarat dengan berbagao kepentingan jika tidak jeli maka negaralah dan kampuslah yang menjadi korban. Sebagai contoh, bisa tibanya suksesi rektor, suksesi dekan, hingga suksesi presiden mahasiswa, kesemuanya tak lebih dari kepentingan politik semata. Yang benar bisa salah dan begitupun sebaliknya. Sungguh ironis di dunia akademik. Maka tak heran yang terlahir adalah kader politisi bukanlah kader ilmuwan yang semestinya menjadi nomow wahid.

Kemampuan pemimpinlah yang menjadi taruhan dalam menghadapi persoalan yang tak bisa dianggap remeh (kecil) dan enteng (ringan). Pemimpin bukan sekedar mampu mengembangkan dirinya. Tetapi bagaimana kampusnya menjadi wahana kebebasan intelektual salah satunya dengan mengembangkan riset tak akan sedikit dana yang dibutuhkan, jika ini persoalan maka itulah yang dinamakan kebuntuan berpikir. Namun bagaimana riset yang dihasilkan memiliki daya tawar tinggi. Sebetulnya inilah yang dipersoalkan oleh rektor dan petinggi kampus lainnya, kedepannya. Sanggupkah?

Selama beberapa pergantian kepemimpinan yang terjadi di IAIN Bandung khususnya, tak dapat membawa angin segar, apalagi di tengah-tengah tuntutan reformasi saat ini, ditandai dengan jatuhnya rezim orde baru yang dikomandani Soeharto oleh mahasiswa. Namun itu, bukan berarti kita harus skeptis dan pesimis. Kemampuan menerka kedepanlah yang menjadi farameter pemimpin kedepan. Dan bagaimana ia memiliki keberanian dalam memperbaiki kekurangan dan kelemahan dari para rektor pendahulunya? [Redaksi]

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas