Buletin

Buletin Momentum Edisi Februari 2003

Buletin Momentum Edisi Februari 2003

Editorial

Saling Berebut

momentum-edisi-februari-2003Demokrasi, kebebasan, keadilan dan jujur adalah kata yang mudah terucap dan kata-kata demikian dapat menggiurkan bahkan tak sama sekali, tentunya bagi orang yang mendengar dan menyimak sebagai jaminan yang harus dipertanggungjawabkan kelak dan tidak hanya bualan semata. Dukung-mendukung atas berbagai macam kepentingan merupakan hal yang sangat dinantikan oleh setiap kepentingan itu sendiri. Saat ini tak mudah hal itu didapatkan, rupanya sebuah kepercayaan yang belum dapat menyentuhnya.

Menumbuhkan kepercayaan merupakan suatu pekerjaan yang tidak bisa dianggap enteng oleh siapapun apalagi bagi yang menjadi sang pemimpin mahasiswa yang kali edang jadi persoalan yang sangat krusial. Tidak hanya perkataan dan tidak sebatas pikiran-pikiran yang dianggap brilian untuk mewujudkan hal itu, melainkan ketegasan sikap dan karya nyata yang harus di rasakan oleh seluruh pihak bukan hanya kepentingan pribadi dan kelompok semata.

Antar lembaga kemahasiswaan yang sekarang menjadi rebutan atau tidak sama sekali, mulai terpanakan dengan sebuah kepentingan tentunya real dirasakan. Jabatan tertinggi di lembaga eksekutif mahasiswa saat ini sedang menjadi incaran oleh delapan kandidat yang saling menjual janji dan siapapun boleh membelinya.

Tak aneh, bila tempo ini mahasiswa-mahasiswa yang lain lebih asyik dengan kesibukannya masing-masing dan tidak memikirkan apa yang terjadi di sekelilingnya, ini berarti perhatian terhadap hajaran besar ini, seperti itulah sebagian orang mengatakan, tak lagi menjadi sesuatu yang sedap dinikmati.

Mampukah sang presiden nanti, melaksanakan dari apa yang dikatakannya dulu ketika memperjualkan kata-kata bersama pendukung dan kolega-koleganya. Harapan-harapan yang selama ini menjadi sebuah impian dan tak kunjung selesai dalam mimpinya itu. Tentunya harapan itu, yang selama ini kita cita-citakan.

Demi sebuah kekuasaan semata -tak ada lawan dan kawan- semuanya dipertaruhkan serta apapun yang akan terjadi adalah pengorbanan, emmang demikian yang terjadi dalam dunia politik. Dulu ketika Bung Karno manggung, Soeharto berjaya dan Hbaibi juga demikian serat Gusdur pun tak jauh dari para pendahlunya bahkan sekarangpun presiden Megawati dan entah apa yang ia akan perbuat. Kini kita semua tentunya tak mau mengikuti cara-cara yang mereka lakukan sebelumnya, seperti halnya Sahid dan juga Masmuni yang banyak menyimpan persoalan penting. Apa yang akan dilakukan oleh sang presiden mahasiswa nanti. Wallahu’alambishowab…! [Redaksi]

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas