Pendidikan dan Budaya

28 Persen PSK Kota Bandung Masih Pelajar Aktif

[Suakaonline]-Akibat kurangnya kontrol agama dan pengarahan dari orang tua menjadi salah satu faktor melambungnya jumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) yang berstatus pelajar. Seperti yang dikatakan Aktivis perempuan Women Studies Center Hamidah yang merasa miris dengan adanya temuan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPTPPA) bahwa 28 persen PSK di Kota Bandung masih berstatus sebagai pelajar aktif.


Hamidah yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Manajemen pendidikan Islam di UIN Bandung ini mengatakan pemahaman agama merupakan sesuatu yang penting dan menjadi pegangan hidup. Namun sayangnya remaja saat ini masih ada yang tak memiliki pegangan agama sehingga mereka tanpa memikirkan jangka panjang untuk terjun ke dunia prostitusi.


“Sangat disayangkan apabila pekerja seks komersial itu dari kalangan remaja yang masih bersekolah. padahal seharusnya justru usia remaja itu digunakan untuk kegiatan positif, misalkan pengembangan potensi, kemudian mencari berbagai pengalaman di berbagai bidang organisasi, bukan yang berkaitan dengan dunia prostitusi seperti itu,” ungkapnya.


Selain itu orangtua pun harus memberikan perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak-anaknya agar terjalin kedekatan emosional. Kedekatan emosional tersebut diharapkan menjadi jembatan agar perilaku anak dapat dikontrol oleh orang tua.  Orang tua harus berhadapan dengan gaya hidup remaja yang menginginkan gaya hidup mewah dan hedonis. Sementara peran sekolah yang merupakan tempat siswa menimbah ilmu pengetahuan harusnya bisa mengambil peran lebih dalam membina para siswanya.


“Orang tua dan pihak sekolah menjadi pusat bertanya mengenai seks, agar para remaja tidak bertanya seks kepada orang yang salah,” katanya.


Dia menambahkan sekolah harus bisa juga memberikan penanganan yang baik dan bukan malah menganggapnya sebagai aib sekolah. Para PSK anak bestatus pelajar perlu diberikan dampingan psikologis dan bimbingan guru untuk mengetahui alasan utama mereka dalam mengerjakan pekerjaan yang dilarang agama itu. Guru seharunya memiliki antisipasi agar murid tidak masuk ke dalam perilaku negative untuk kedua kalinya.


“Saya lebih setuju pelajar-pelajar PSK ini dijadikan sebagai korban, bukan sebagai pelaku. Jadi jangan sampai pihak sekolah lepas tangan dan akhirnya mengeluarkan murid. Harusnya pihak sekolah lebih proaktif untuk menangani kasus tersebut, seperti memberikan dampingan psikologis kemudian konseling berkaitan psikologi anak tersebut,” lanjutnya.


Tidak hanya orangtua dan sekolah, Hamidah menilai peran pemerintah tentunya sangat penting untuk menjadikan anak sebagai calon pemimpinn masa depan. Hamidah menyarankan slogan Bandung Kota Agamis jangan hanya diucap tapi perlu aplikasi salah satunya dengan memberikan terobosan baru mengenai pengajaran agama di sekolah.

 

“Mata pelajaran agama jangan hanya dua jam, tapi diperpanjang dengan diberikan semacam stimulant atau rangsangan-rangsangan religiusitas, sehingga dari diri remaja di Bandung ini memiliki mental agamis yang kuat,” kata dia.


Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas