Politik dan Ekonomi

Gorengan Tahu dan Tempe di UIN Langka

[Suakaonline]-Akibat harga kedelai yang masih melonjak, produsen tahu dan tempe di kota Bandung mogok produksi. Akibatnya tempe dan tahu kini sulit ditemukan di pasaran. Hal ini juga berdampak pada konsumen, terutama para pedagang gorengan di UIN Bandung.


Kesulitan dalam mendapatkan tahu dan tempe di pasaran dialami oleh Kardi (59). Lelaki paruh baya yang akrab disapa Babeh ini biasa berjualan di dalam kampus UIN SGD Bandung, tepatnya di samping gedung perkuliahan Fakultas Adab dan Humaniora


“Sejak hari Minggu tahu dan tempe sudah tidak ada di pasar Ujung Berung,” keluhnya saat ditemui di warungnya, Rabu (11/9).


Kardi menambahkan bahwa ia biasa membeli tahu dan tempe di pasar Ujung Berung. Babeh menjual gorengan dengan harga Rp. 500/buah.


Ketika harga tempe naik, Babeh mengaku memperkecil ukuran tempe gorengnya. Hal tersebut sangatlah wajar jika mengingat kenaikan harga kedelai itu sendiri yang mencapai Rp. 9.600/Kg. Sebelumnya harga kedelai berkisar antara Rp. 7.500 – Rp. 8.000.


Semenjak hari Senin, Babeh tidak menjual tempe goreng dan gehu. “Ada beberapa mahasiswa yang nanya tempe dan gehu. Mungkin mereka tidak tau keadaan tempe dan tahu di pasaran,” ucap pedagang yang biasa berjualan setiap hari senin sampai hari jum’at itu.


Menaikan Harga


Berbeda dengan Babeh, Udin (50) tukang gorengan lainnya, justru tidak memperkecil ukuran tempe. Hal tersebut tidak dilakukan karena harga jual gorengannya sendiri telah naik semenjak harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik.


“Sebelum BBM naik, saya menjual gorengan RP. 500 per buah. Setelah naik, saya menjual Rp.2.000 per tiga buah,” ungkap lelaki yang sehari-hari berjualan di depan kampus UIN mulai dari pukul 15.30 sampai pukul 11 malam dengan dibantu satu rekan lainnya.


Pecinta gorengan nampaknya harus bersabar untuk melahap gorengan tempe dan tahu hingga harga kacang kedelai stabil. Burhan, mahasiswa smester 5 dari jurusan Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mahasiswa yang biasa membeli tempe goreng. Akhir-akhir ini Burhan mengaku kesulitan mencari tempe goreng. “Saya merasa rugi karena sulit menemukan tempe goreng,” keluhnya.


Burhan menambahkan bahwa dirinya memaklumi hal tersebut karena tempe dan tahu sedang kosong di pasaran. “Kalau tempe sulit didapatkan, ya mau gimana lagi,” pungkas mahasiswa asal Bekasi tersebut.


Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas