Buletin

Buletin Momentum Edisi Khusus 2003

Buletin Momentum Edisi Khusus 2003

Editorial

Baca Vs Baca

moentum-edisi-khusus-2003SIAPA orangnya di dunia ini yang mau hidup dengan segala macam kebodohan. Apalagi mahasiswa, dosen, atau siapapun namanya. Yang jelas bodoh adalah musuh bersama. Di dunia pendidikan tinggi perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan insan yang berintelektual dan juga berkahlak. Tentunya harus bermutu. Dan di jantung kampus ini pulalah, segalanya dapat tersedia berbagai fasilitas yang setidaknya dapat membantu menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Namun, itu hanyalah bayangan semata dan ada di alam ide. Sedab kenyatannya, semua tiu tak bisa didapat disini, kenapa?

Tentunya mahsiswa, dosen sebagai kaum yang “terdidik”. Semesetinya mereka bisa mengutamakan akal pikirannya dan nuraninya, apalagi berada dikawasan yang notabene menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam. Membaca bagi mereka haruslah menjadi persoalan yang sangat penting, sebab membaca merupakan kunci utama untuk meraih pengetahuan. Tak hanya itu membaca merupakan proses meniadakan kegelapan. “Habislah gelap terbitlah terang”, karenanya, sudahkah Anda membaca hari ini? Membaca idak selalu identik dengan perjalanan atas prosesnya memahami sebuah kumpulan kata-kata yang tersirat. Lalu, apa yang selain itu?

Manusia semulia “Muhammad” tak lepas dari aktivitas mem”baca”, sebab perintah pertama yang diturunkan-Nya terhadapnya melalui perantara Zibril, tiada lain, Tuhan berfirman “Iqra, Iqra, Iqra” dn tak lebih dari itu (lihat surat Al-Alaq). Lalu apa makna semua itu, disini?

Dulu, tentang perpustakaan pernah berjaya semasa Abbasiyah berkuasa, karenanya Iraq yang kini menajdi sebuah negeri yang teraniaya, saat itu menjadi pusat peradaban dunia Islam. Bahkan dari bebagai belahan duniapun sempat “minum anggur” disana, walaupunhanya seteguk. Tak hanya itu, beberapa sumber ilmu pengetahuan yang dikarang oleh ulaha sholeh, nyaris lengkap, walaupun mereka bisa diperbuat dengan kreatif.

Andaikata kita hidup di masa itu, tentunya kita bisa mendapatkan apa yang kita cari. Namun di kampus ini yang terjadi malah sebalknya. Soalnya, karyawan jantungnya PT ini dikesain orang “buangan”. Lalu bagaimana mereka bisa bekerja profesional. Lalu, apakah kejayaan itu bisa terwujud, disini. Peroalan inilah yang tak bisa terpinggirkan dan dianggap biasa. Apalagi di anak tirikan.

Sementara, tuntutan demi tuntutan terus mengalir dari mahasiswa. Hal ini tiada lain karena untuk kembalinya kejayaan itu, disini. Dan atas dasar kepentingan pengetahuan, semua itu dilakukan. Namun hal itu hanyalah, dianggap ocehan kosong dari anak kemarin sore. Sayang, padahal tuntutan mereka itu ada baiknya. Anggaplah semua itu adalah suara Tuhan. Bukankah kita itu makhluk Tuhan, yang harus patuh pada segala titahnya?

Kegiatan membaca bagi mahasiswa bukanlah persoalan yang kudu dianggap luar biasa, sebab membaca baginya adalah sesuatu yang sangat penting dari segalanya bukan dijadikan nomor dua setelah anu. Bila membaca itu tak penting kenapa Tuhan menurunkan ayat pertmanya menyuruh membaca. Kalau yang terjadi demikian, berarti kebodohan siap menanti. Lalu bagaimana mereka memahami kata Iqra yang disampaikan Zibril kepada Muhammad itu?

Walaupun, banyak hal yang dapat menghambat kita untuk membaca karena minimnya fasilitas buku dan tak mampu membelinya, bukan berarti kegiatan ini berhenti. Maka bagi kita tak ada alasan  utnuk tidak membaca sekalipun sesuatu.

Dengan berbagai fenomena tersebut yang tengah melanda dunia membaca kita. dalam Momentum Suaka edisi khusus kali ini, kami menghadirkan hasil liputan seputar perpustakaan dan budaya membaca. Semoga informasi tersebut, setidaknya dapat membantu memahami betapa pentingnya budaya membaca di kampus ini, bak jamur di musim hujan. Janganlah berhenti membaca karena persoalan secuil. Terus……..! [Redaksi]

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas